Jangan Terpesona dengan Harta yang Melimpah dan Keturunan yang Dibanggakan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَا  تُعْجِبْكَ  اَمْوَا لُهُمْ  وَلَاۤ  اَوْلَا دُهُمْ  ۗ اِنَّمَا  يُرِ يْدُ  اللّٰهُ  لِيُعَذِّبَهُمْ  بِهَا  فِى  الْحَيٰوةِ  الدُّنْيَا  وَتَزْهَقَ  اَنْفُسُهُمْ  وَهُمْ  كٰفِرُوْنَ
“Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu menarik hatimu. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.”(QS. At-Taubah 9:  55)
Janganlah orang mukmin terpesona oleh harta benda yang melimpah dan keturunan yang dibanggakan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini mengisyaratkan bahwa janganlah orang mukmin terpengaruh dan terpesona oleh harta benda yang melimpah dan keturunan yang menjadi kebanggaan mereka, karena semua yang mereka banggakan itu hanya akan menambah siksa yang mereka derita di dunia dan di akhirat kelak.
Mereka dengan susah payah mengumpulkan harta benda, tanpa menghiraukan cara-cara yang ditempuhnya. Yang penting baginya harta benda dapat dikumpulkan sebanyak-banyaknya dengan cara apa saja, sekalipun dengan cara yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama, karena disangkanya bahwa harta benda yang berlimpah-limpah itulah yang akan memberi kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.
Selain dari siksa yang dialami di dunia, mereka juga merasakan azab yang amat pedih pada akhir hayatnya, karena nyawanya akan dicabut dengan susah payah dan dalam keadaan kafir. Orang yang meninggal dunia dalam keadaan kafir, semua amal dan usahanya akan sia-sia dan binasa, sebagaimana firman Allah:
Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka. (al-Kahf/18: 106).
Allah mengingatkan orang-orang mukmin agar tidak terpesona oleh harta benda yang melimpah dan keturunan yang dibanggakan karena keduanya adalah ujian dari Allah dan bukan tujuan hidup yang sejati. Berikut adalah alasan mengapa demikian:
1. Harta dan keturunan hanyalah titipan sementara; Harta dan keturunan bukanlah milik kita sepenuhnya, melainkan titipan Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban. “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga tentang banyaknya harta dan anak-anak…” (QS. Al-Hadid: 20).
2. Berpotensi melalaikan dari Allah; Jika seseorang terlalu mencintai harta dan keturunan, hal ini bisa membuatnya lalai dari mengingat Allah dan melupakan akhirat. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9).
3. Ujian untuk menguji keimanan; Harta dan keturunan adalah ujian apakah seseorang tetap bersyukur kepada Allah, menggunakan hartanya di jalan yang benar, dan mendidik keturunannya sesuai ajaran agama. “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah ujian, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28).
4. Kebahagiaan sejati bukan pada harta dan keturunan;  Kekayaan dan banyaknya keturunan tidak menjamin kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati ada pada kedekatan dengan Allah dan amal kebaikan yang menjadi bekal untuk akhirat. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).
Seorang mukmin harus menjaga sikap terhadap harta dan keturunan, menjadikannya sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai sumber kebanggaan yang melalaikan. Tujuan utama seorang mukmin adalah mencapai ridha Allah dan syurga Nya Allah.
Doa Agar Harta dan Anak untuk mendapatkan Kebaikan
اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَالِي وَوَلَدِي عَوْنًا لِي عَلَى طَاعَتِكَ
“Allahumma aj‘al mali wa waladi ‘aunan li ‘ala ta‘atik.”
“Ya Allah, jadikanlah hartaku dan anak-anakku sebagai penolong bagiku untuk taat kepada-Mu.”