Jangan Berputus Asa dari Nikmat dan Karunia Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لُوْا  بَشَّرْنٰكَ  بِا لْحَـقِّ  فَلَا  تَكُنْ  مِّنَ  الْقٰنِطِيْنَ

قَا لَ  وَمَنْ  يَّقْنَطُ  مِنْ  رَّحْمَةِ  رَبِّهٖۤ  اِلَّا  الضَّآلُّوْنَ

“(Mereka) menjawab, Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.”
“Dia (Ibrahim) berkata, Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 55 dan 56)

Jangan berputus asa dari nikmat dan karunia Allah

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa mereka menjawab untuk meyakinkan Ibrahim, “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar. Apa yang kami sampaikan kepadamu adalah hal yang benar adanya, dan itu akan menjadi suatu kenyataan bagimu. Maka, janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa dari nikmat dan karunia Allah.”

Dia (Ibrahim) berkata menanggapi pernyataan tamunya, “Ketahuilah, tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat dan karunia Tuhannya kecuali orang yang sesat. Mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari jalan Tuhan atau tidak menemukan jalan yang benar, dan tidak mengetahui kekuasaan Allah. Aku bukanlah orang yang demikian, karena itu aku tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.”

Dia (Ibrahim) berkata menanggapi pernyataan tamunya, “Ketahuilah, tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat dan karunia Tuhannya kecuali orang yang sesat. Mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari jalan Tuhan atau tidak menemukan jalan yang benar, dan tidak mengetahui kekuasaan Allah. Aku bukanlah orang yang demikian, karena itu aku tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.”

Tadabur Surah Al-Hijr Ayat 55 & 56

  1. Putus Asa adalah Karakteristik “Tersesat” (Adh-Dhaallun)
    Nabi Ibrahim AS menegaskan bahwa orang yang berputus asa adalah orang yang tersesat. Mengapa demikian? Karena orang yang putus asa telah tersesat pandangannya tentang Allah. Mereka mengira masalah mereka lebih besar daripada kemahakuasaan Allah, atau mereka mengira kasih sayang Allah telah habis untuk mereka.
  2. Membedakan antara “Sifat Manusiawi” dan “Keputusasaan Iman”
    Ketika malaikat membawa kabar gembira tentang kelahiran anak, Nabi Ibrahim sempat merasa heran karena faktor usia (“Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usia tua telah menyentuhku?”). Ini adalah sifat manusiawi (logika medis/fisik).
    Namun, ketika diingatkan oleh malaikat di ayat 55 agar jangan putus asa, Nabi Ibrahim langsung meluruskan di ayat 56: Beliau tidak putus asa, beliau hanya takjub dengan cara Allah bekerja. Ayat ini mengajarkan kita bahwa merasa lemah atau heran itu manusiawi, tetapi menyerah dan kehilangan harapan pada Allah adalah hal yang dilarang.
  3. Allah adalah Rabb (Maha Pemelihara)
    Perhatikan kata yang digunakan Nabi Ibrahim: “dari rahmat Rabb-nya”. Kata Rabb merujuk pada Allah sebagai Pencipta, Pemelihara, Pengatur, dan Yang Maha Mencukupi kebutuhan makhluk-Nya. Mengingat Allah sebagai Rabb seharusnya otomatis mengikis rasa putus asa, karena seorang pencipta tidak akan menelantarkan ciptaan-Nya.
    Rujukan Lain: Jangan Berputus Asa dari Karunia Allah
    Selain ayat-ayat yang telah dibahas sebelumnya (seperti QS. Yusuf: 87 dan QS. Az-Zumar: 53),

Nabi Ya’qub AS menasihati anak-anaknya saat mencari Nabi Yusuf yang telah lama hilang:

…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Rujukan lainnya dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW:
1. Surah Al-Insyirah (Ayat 5-6)

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Tadabur: Allah mengulang kalimat ini dua kali untuk memberikan kepastian mutlak. Dalam kaidah bahasa Arab, kata “kesulitan” (al-usr) menggunakan bentuk makrifat (tunggal/tertentu), sedangkan “kemudahan” (yusr) menggunakan bentuk nakirah (umum/banyak). Para ulama menyimpulkan: Satu kesulitan tidak akan pernah bisa mengalahkan dua kemudahan. Karunia Allah yang akan datang pasti lebih besar dari ujian yang sedang dihadapi.

2. Surah Al-Baqarah (Ayat 214)
Ayat ini menceritakan bagaimana beratnya ujian para nabi terdahulu hingga mereka bertanya-tanya kapan pertolongan Allah datang, lalu Allah menjawab:

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Tadabur: Ketika situasi terasa paling menjepit dan manusia berada di titik terendahnya, di situlah karunia dan pertolongan Allah justru sudah sangat dekat. Putus asa di detik-detik terakhir adalah kerugian yang besar.

3. Dari Hadis Qudsi (Prasangka Hamba)
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku…” (HR. Bukhari & Muslim)

Tadabur: Jika kita berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan nikmat, jalan keluar, dan karunia-Nya, maka Allah akan mewujudkannya. Namun, jika kita berputus asa dan berprasangka buruk bahwa Allah telah meninggalkan kita, maka kita akan terjebak dalam kegelapan pikiran kita sendiri.

Rahmat dan karunia Allah itu luasnya tak bertepi. Ujian yang kita hadapi hanyalah “kerikil kecil” di lautan karunia-Nya. Menjaga harapan tetap menyala di dalam hati adalah bentuk ibadah tertinggi saat kita sedang berada di bawah tekanan hidup.

Doa Pasrah dan Berprasangka Baik pada Rahmat Allah. Doa ini adalah bentuk pengakuan bahwa kita tidak boleh lepas dari rahmat Allah, walau hanya sekejap mata

“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata (tanpa pertolongan-Mu), dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)