Islam sebagai Agama yang Hanif

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAILLAHAILLOH. WALLAHU AKBAR.

Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Mari saling mendoakan ;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لُوْا  کُوْنُوْا  هُوْدًا  اَوْ  نَصٰرٰ ى  تَهْتَدُوْا   ۗ قُلْ  بَلْ  مِلَّةَ  اِبْرٰهٖمَ  حَنِيْفًا   ۗ وَمَا  كَا نَ  مِنَ  الْمُشْرِكِيْنَ
“Dan mereka berkata, Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah, (Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 135)

Tiap-tiap golongan dari mereka mengklaim ; Sesungguhnya golongan mereka yang lebih berhak dengan agama Allah daripada golongan yang lain.
Yahudi, “Nabi kami Musa adalah nabi yang paling utama dan kitab kami Taurat adalah kitab yang paling utama yang melebihi Isa dan Injil serta Muhammad dan Alquran.” Berkata pula golongan Nasrani, “Nabi kami Isa adalah nabi yang paling utama; kitab kami Injil adalah kitab yang paling utama. Agama kami adalah agama yang paling utama melebihi Muhammad dan Alquran.” Tiap-tiap golongan itu berkata kepada orang-orang mukmin, “Jadilah kamu sekalian pemeluk agama kami, tidak ada agama selain agama kami” Mereka mengajak memasuki agama mereka.

Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas perkataan, pengakuan dan ajakan mereka itu. “Hanif” berarti “yang lurus” tidak cenderung kepada yang batil. “Agama yang hanif” ialah agama yang benar, agama yang mencapai jalan yang benar, jalan kebahagiaan dunia dan akhirat bahkan agama yang belum dicampuri oleh sesuatu pun, tidak bergeser sedikit pun dari asalnya. Ayat ini seolah-olah menyuruh Rasulullah SAW. mengatakan: “Hai, orang-orang Yahudi, Nasrani dan musyrik Mekah, kami tidak mengikuti agamamu, di dalamnya tidak ada petunjuk ke jalan yang benar dan karena agama itu telah banyak dicampuri oleh tangan-tangan manusia, tetapi kami akan mengikuti agama Ibrahim yang kamu bangga-banggakan itu, karena di dalam agama itu memurnikan ketaatan hanya kepada Allah saja, dan karena agama itu belum dicampuri oleh tangan manusia sedikit pun.

Disebut “kaum muslimin mengikuti agama Ibrahim yang hanif” adalah untuk menyadarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari perbuatan-perbuatan mereka. Mereka menyatakan keturunan Ibrahim a.s. tetapi mereka tidak bersikap, berbudi pekerti dan berpikir seperti Ibrahim A.S. Mereka menyatakan pengikut agama Ibrahim, tetapi mereka telah merubah-rubahnya, dan tidak meliharanya seperti yang dilakukan Ibrahim a.s. Dari ayat ini dapat dipahami, bahwa Allah SWT. mengingatkan umat Muhammad SAW. agar selalu waspada terhadap agama mereka dan selalu berpedoman kepada Alquran dan Sunah Nabi, kita jangan sekali-kali mengikuti hawa nafsu sehingga berani merubah, menambah dan mengurangi agama Allah. Dari perkataan “dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang musyrik” dapat dipahami bahwa agama Ibrahim itu adalah agama tauhid, agama yang mengakui keesaan dan kekuasaan Allah SWT.
وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah kamu mempersersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” (Q.S Al Hajj: 26)

Nabi Ibrahim AS berada di jalan yang lurus, yakni tauhid dengan semurnimurninya keyakinan bahwa hanya Allah yang pantas disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Awalnya lurus (hanif), tauhid mengesakan Allah…ada penyimpangan penyimpangan (yahudi dan nasrani)…kembali lurus (hanif), tauhid mengesakan Allah…sejatinya kita juga lurus, mengesakan Allah SWT.

اِهْدِنَا  الصِّرَا طَ  الْمُسْتَقِيْمَ
صِرَا طَ  الَّذِيْنَ  اَنْعَمْتَ  عَلَيْهِمْ   ۙ غَيْرِ  الْمَغْضُوْبِ  عَلَيْهِمْ  وَلَا  الضَّآلِّ ‎الْمُسْتَقِيْمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,”
“jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6 – 7)
Jumhur ulama ; yang dimurkai Yahudi, yang sesat Nasrani….

Semoga kita selalu berada dijalan yang lurus, memurnikan tauhid, hanya menyembah Allah SWT.