Inti Ajaran Islam adalah Kepedulian

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذَا  حَضَرَ  الْقِسْمَةَ  اُولُوا  الْقُرْبٰى  وَا لْيَتٰمٰى  وَا لْمَسٰكِيْنُ  فَا رْزُقُوْهُمْ  مِّنْهُ  وَقُوْلُوْا  لَهُمْ  قَوْلًا  مَّعْرُوْفًا

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 8)

Quran begitu detail untuk berbagi…

Kepedulian terhadap orang lain
inti ajaran Islam adalah kepedulian; tidak dikatakan beriman apabila tidur kenyang tapi ada tetangga kelaparan.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR At-Thabrani).

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِـيْرَانَكَ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Dzarr radhiallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah bersabda, “Jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu” (HR. Muslim).

Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk pelit atau bakhil.

كَلَّا  بَلْ  لَّا  تُكْرِمُوْنَ  الْيَتِيْمَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 17)

وَلَا  تَحٰٓضُّوْنَ  عَلٰى  طَعَا مِ  الْمِسْكِيْنِ
“dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 18)

Sikap saling peduli dan tolong-menolong menjadi salah satu ciri khas dalam Islam. Hal ini lantaran Allah secara langsung mengamanatkannya dalam dalil Alquran kepada seluruh umat manusia.

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.” (QS; Al-Maidah ayat 2)

Memberi itu tak sama sekali merugi. Asalkan nilai pemberian itu dilandasi dengan ketulusan, keikhlasan, dan juga keimanan. Membantu dalam kebaikan—seberapapun besar dan kecil nilainya—akan terasa ringan apabila dilakukan dengan tulus dan ikhlas.

Umat Islam dikenalkan sejak dini mengenai filosofi kepemilikan. Bahwa sejatinya apa-apa yang kita miliki di dunia, baik itu yang berbentuk wujud jasmani hingga materi, semata-mata adalah titipan Allah SWT. Dengan titipan itu, manusia dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

Dengan menyadari bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Allah semata, maka budaya saling berbagi dan peduli dalam Islam pun begitu kuat. Bahkan dalam hadis, Rasulullah berkata bahwa siapa yang melapangkan suatu kesusahan dunia dari seorang Muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan dirinya di hari kiamat.

Semoga kita selalu semangat berbagi dan peduli