أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَاِ نْ كُنْتَ فِيْ شَكٍّ مِّمَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ فَسْـئَلِ الَّذِيْنَ يَقْرَءُوْنَ الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَآءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِ يْنَ
“Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu maka tanyakanlah kepada orang yang membaca Kitab sebelummu. Sungguh, telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu,” (QS. Yunus 10: Ayat 94)
Jika ragu, tanyakan pada ahli kitab, karena kebenaran dari Tuhanmu telah datang, maka janganlah ragu
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menerangkan sikap pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani terhadap Kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada rasul-rasul yang diutus kepada mereka dengan mengatakan, “Jika engkau, hai Muhammad, ragu tentang rasul-rasul dahulu dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, maka tanyakanlah kepada pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani yang telah mengetahui dan membaca kitab-kitab yang telah Kami turunkan itu, sebelum Aku menurunkan Al-Qur’an kepada engkau.”
Menurut rasa bahasa Arab, ungkapan dalam ayat ini bukanlah untuk menerangkan keragu-raguan Muhammad, tetapi menyatakan bahwa Muhammad benar-benar telah yakin dan percaya kepada para rasul yang diutus Allah dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. Hanya orang-orang Yahudi dan Nasrani-lah yang ragu. Keraguan mereka itu sengaja mereka buat untuk menutupi apa yang sebenarnya ada dalam hati mereka, yaitu meyakini kebenaran risalah dan kenabian Muhammad.
Karena itu maksud ayat ini ialah Allah menyatakan kepada Muhammad bahwa beliau (Nabi Muhammad) telah yakin dan percaya bahwa yang diturunkan kepadamu itu adalah sesuatu yang hak dan kebenaran yang wajib dipercayai. Yang ragu-ragu itu hanyalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Keragu-raguan mereka itu dinyatakan semata-mata untuk menutupi perbuatan mereka yang telah mengubah dan menukar isi Taurat dan Injil. Mereka telah membaca Taurat dan Injil yang menerangkan pokok-pokok agama yang diridai Allah, para rasul yang telah diutus Allah dan yang akan diutus-Nya nanti. Tetapi hawa nafsu merekalah yang menyuruh mereka untuk melakukan perbuatan yang terlarang itu, sehingga mereka menyesatkan pengikut-pengikut mereka. Karena itu, sebenarnya pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani itu sangat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Jika ditanyakan kepada mereka sesuatu yang hak, mereka pasti dapat menjawabnya dengan betul. Tetapi mereka tidak mau melakukannya.
Ayat ini merupakan sindiran kepada pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani dan mengungkapkan perbuatan-perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan. Ungkapan seperti ini terdapat pula pada firman Allah yang lain, sebagaimana ayat berikut:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (al-Maidah/5: 116)
Bila ayat ini dibaca sepintas lalu, akan dipahami seakan-akan Isa-lah yang memerintahkan kaumnya agar mengakui adanya tuhan bapak, tuhan anak dan tuhan ibu. Tetapi maksud ayat ini ialah untuk menerangkan bahwa Isa a.s. tidak pernah ragu tentang keesaan Tuhan. Yang mendakwahkan bahwa Tuhan itu tiga, hanya orang-orang Nasrani yang telah mengubah-ubah dan menukar isi Injil, seperti menukar prinsip keesaan Allah yang ada di dalamnya dengan prinsip syirik.
Pada akhir ayat ini Allah menerangkan sikap Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Rasulullah saw beriman kepada Allah dan kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya serta meyakini akan keesaan-Nya, sedang orang Yahudi dan Nasrani telah mengubah dan menukar isi Taurat dan Injil serta mempersekutukan-Nya. Kemudian Allah memperingatkan kaum Muslimin agar jangan sekali-kali melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi.
Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, tapi secara retoris—bukan karena beliau ragu, melainkan sebagai penegasan kepada orang-orang musyrik yang mengingkari wahyu.
- Maknanya: “Jika kamu (atau mereka) meragukan kebenaran Al-Qur’an, tanyalah kepada Ahli Kitab, karena mereka tahu kebenaran yang serupa telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum kamu.”
- Ini secara implisit juga menegaskan bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ sesuai dengan wahyu terdahulu, termasuk keberadaan nubuat tentang dirinya dalam Taurat dan Injil.
Apa yang Bisa Ditadaburi dari QS Yunus: 94?
1. Konsistensi Wahyu
- Wahyu Allah itu satu kesatuan yang saling menguatkan, dari Taurat, Injil, hingga Al-Qur’an.
- Kebenaran dalam Al-Qur’an bukan sesuatu yang baru atau asing, melainkan kelanjutan dari risalah yang sama.
2. Keterbukaan terhadap Ilmu
- Islam tidak anti dialog—justru membuka ruang untuk bertanya dan mencari kebenaran, termasuk kepada ahli kitab.
- Dalam konteks dakwah, ini menekankan pendekatan rasional dan ilmiah.
3. Perintah Meneguhkan Iman
- Jangan ragu terhadap kebenaran yang sudah jelas.
- Ini adalah isyarat bagi kita untuk terus memperkuat keyakinan, menghilangkan syubhat (keraguan), dan menambah ilmu.
4. Hikmah Dakwah
- Untuk mengajak kaum yang ragu, kadang perlu pendekatan dengan bukti dari sumber yang mereka percaya (seperti ahli kitab).
Benarkah Syariat dalam Al-Qur’an Sama dengan Taurat dan Injil?
Sebagian Sama, Tapi Tidak Sepenuhnya
- Al-Qur’an memang membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Injil), tapi juga mengoreksi dan menyempurnakan.
- Syariat (hukum-hukum) dalam Taurat dan Injil pernah benar, untuk umat pada zamannya. Tapi syariat itu telah berubah, dihapus sebagian, atau diselewengkan oleh manusia.
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaiminan (pengontrol, pengawas, pembenar dan penyempurna) terhadap kitab-kitab itu.” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Apakah Itu Berarti Kita Boleh Memilih Taurat/Injil dan Meninggalkan Al-Qur’an?, jawabannya tentu “Tidak Boleh!”
Islam mengajarkan bahwa:
- Syariat Taurat dan Injil sudah tidak berlaku setelah datangnya Al-Qur’an.
- Al-Qur’an adalah wahyu terakhir, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi.
- Maka hanya syariat Islam (Al-Qur’an dan Sunnah) yang berlaku hingga akhir zaman.
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)
Mengapa Tidak Cukup dengan Injil atau Taurat Saja?
1.Kitab-kitab terdahulu telah diubah
- Taurat dan Injil tidak lagi dalam bentuk aslinya.
- Banyak teks yang ditambah/dihilangkan (diakui bahkan oleh cendekiawan Yahudi dan Kristen sendiri).
2.Tidak lengkap sebagai panduan akhir zaman
- Hukum-hukumnya terikat waktu dan umat tertentu.
- Tidak mengatur seluruh aspek kehidupan seperti Al-Qur’an dan Sunnah.
3.Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup risalah
- Tidak cukup mengikuti Musa atau Isa, harus mengikuti Nabi terakhir yang membawa wahyu yang menyempurnakan.
Analogi Mudah:
- Taurat = Kurikulum untuk kelas 1
- Injil = Kurikulum untuk kelas 2
- Al-Qur’an = Kurikulum kelas akhir (lengkap dan final)
Maukah ujian akhir zaman pakai buku kelas 1 ?Tentu tidak. Kita wajib pakai panduan yang paling akhir dan paling lengkap.
- Semua nabi membawa agama yang sama (tauhid), tapi syariat (hukum) mereka bisa berbeda dan berkembang sesuai kebutuhan umat saat itu.
- Kita tidak bisa memilih-milih kitab atau syariat. Setelah Al-Qur’an diturunkan, maka hanya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ yang menjadi pedoman sah.
- Meninggalkan Al-Qur’an dan mengambil syariat lama berarti menolak penyempurnaan wahyu, dan itu bertentangan dengan iman Islam.
Doa Memohon Keyakinan atas Kebenaran Islam
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا
وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya