Infaq Merasa Terpaksa; Ciri tidak Percaya Hari Pembalasan di Akhirat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ  اَنْفِقُوْا  طَوْعًا  اَوْ  كَرْهًا  لَّنْ  يُّتَقَبَّلَ  مِنْكُمْ  ۗ اِنَّكُمْ  كُنْتُمْ  قَوْمًا  فٰسِقِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Infakkanlah hartamu baik dengan sukarela maupun dengan terpaksa, namun (infakmu) tidak akan diterima. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 53)
Infak yang terpaksa; karena ragu-ragu kepada agama yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad dan tidak percaya akan adanya pembalasan di akhirat
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa bagaimana pun juga orang-orang munafik menginfakkan harta bendanya untuk membantu perjuangan orang-orang mukmin, baik karena harta benda itu diserahkan dengan sepenuh hatinya, sesuai dengan perintah Allah untuk keselamatan dirinya, maupun secara terpaksa, karena takut kepada azab yang akan menimpanya, namun Allah tidak akan menerimanya, karena mereka tetap ragu-ragu kepada agama yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad dan tidak percaya akan adanya pembalasan di akhirat nanti atas segala perbuatan yang mereka lakukan di dunia ini. Allah akan menerima baik amalan apa saja apabila amalan itu dikerjakan bukan karena ria tetapi karena keikhlasan dan takwa kepada Allah.
Sabda Nabi Muhammad: Sesungguhnya Allah swt tidak akan menerima amalan kecuali apabila dikerjakan dengan ikhlas dan dimaksudkan semata-mata karena Allah. (Riwayat an-Nasa’i dari Abu Umamah)
Firman Allah: Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. (al-Ma’idah/5: 27)
Takwa adalah sikap sadar dan takut kepada Allah yang tercermin dalam kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan ini hanya bisa terwujud jika seseorang memiliki keyakinan yang kokoh terhadap keimanan pokok dalam Islam
  1. Keimanan kepada Allah; Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah dan Dialah Pencipta, Pengatur, dan Pemilik segalanya.
  2. Keimanan kepada Nabi Muhammad ﷺ ; Meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa kebenaran dan petunjuk. Allah berfirman: “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan.” (QS. At-Taghabun: 8).
  3. Keimanan kepada Hari Akhir; Meyakini bahwa kehidupan dunia bukan akhir segalanya, melainkan akan ada kehidupan setelah kematian yang diiringi dengan pembalasan. Allah berfirman: “Dan barangsiapa mengingkari (hari) kebangkitan, maka ia benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136).
Mengapa Keraguan Menghalangi Takwa?
  1. Keraguan Merusak Keimanan; Keimanan yang diragukan atau setengah hati menyebabkan seseorang sulit untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah.
  2. Tidak Ada Dorongan untuk Bertakwa; Tanpa keyakinan kepada pembalasan di akhirat, seseorang mungkin merasa tidak perlu menaati aturan agama karena menganggap tidak ada konsekuensi atas perbuatannya.
  3. Kehilangan Petunjuk Hidup; Keraguan kepada risalah Nabi Muhammad ﷺ mengakibatkan seseorang kehilangan panduan yang benar dalam menjalani kehidupan.
Solusi untuk Mengatasi Keraguan:
  • Mencari Ilmu
  • Pelajari Al-Qur’an, hadits, dan sejarah Islam untuk memahami kebenaran agama. Allah memerintahkan kita untuk berpikir dan merenung.
  • Memperkuat Hubungan dengan Allah
  • Banyak berdoa kepada Allah untuk diberikan hidayah dan keteguhan hati.
  • Bergaul dengan Orang-orang Saleh
  • Lingkungan yang baik dapat membantu memperkuat keimanan dan menghilangkan keraguan.
  • Renungkan Kebesaran Allah
  • Perhatikan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta sebagai bukti kekuasaan-Nya.
Keraguan adalah ujian iman, tetapi bisa diatasi dengan usaha yang sungguh-sungguh. Allah berjanji akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang mencarinya dengan ikhlas. Firman-Nya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69).
Doa Memohon Keteguhan Iman
Doa ini diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytanaa wa hab lanaa min ladunka rahmatan innaka Antal Wahhaab”
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”(QS. Ali Imran: 8)