Ikhlas Berserah Diri kepada Allah SWT

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمَنْ  اَحْسَنُ  دِيْنًا  مِّمَّنْ  اَسْلَمَ  وَجْهَهٗ  لِلّٰهِ  وَهُوَ  مُحْسِنٌ  وَّا تَّبَعَ  مِلَّةَ  اِبْرٰهِيْمَ  حَنِيْفًا   ۗ وَا تَّخَذَ  اللّٰهُ  اِبْرٰهِيْمَ  خَلِيْلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-(Nya).” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 125)

Berserah diri kepada Allah atau biasa kita sebut tawakal. Jangan kita menganggap bahwa kita Islam, jika kita tidak berserah atau menyerahkan semua kehidupan kita hanya untuk Allah semata.

Allah juga telah menjanjikan untuk mencukupi kebutuhan orang-orang yang tawakal kepada-Nya.

وَّيَرْزُقْهُ  مِنْ  حَيْثُ  لَا  يَحْتَسِبُ   ۗ وَمَنْ  يَّتَوَكَّلْ  عَلَى  اللّٰهِ  فَهُوَ  حَسْبُهٗ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  بَا لِغُ  اَمْرِهٖ   ۗ قَدْ  جَعَلَ  اللّٰهُ  لِكُلِّ  شَيْءٍ  قَدْرًا
“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
(QS. At-Talaq 65: Ayat 3)

Berserah diri kepada Allah bukan berarti kita sepenuhnya pasrah dan tidak mau melakukan suatu hal yang mampu mengubah.

لَهٗ  مُعَقِّبٰتٌ  مِّنْۢ  بَيْنِ  يَدَيْهِ  وَمِنْ  خَلْفِهٖ  يَحْفَظُوْنَهٗ  مِنْ  اَمْرِ  اللّٰهِ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  لَا  يُغَيِّرُ  مَا  بِقَوْمٍ  حَتّٰى  يُغَيِّرُوْا  مَا  بِاَ نْفُسِهِمْ   ۗ وَاِ ذَاۤ  اَرَا دَ  اللّٰهُ  بِقَوْمٍ  سُوْٓءًا  فَلَا  مَرَدَّ  لَهٗ   ۚ وَمَا  لَهُمْ  مِّنْ  دُوْنِهٖ  مِنْ  وَّا لٍ
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)

Pasrah, tawakal, berarti kita menerima semua keputusan terbaik dari Allah SWT untuk kita. Meskipun menurut kita tidak baik, tapi menurut Allah itulah yang terbaik untuk kehidupan kita.

كُتِبَ  عَلَيْکُمُ  الْقِتَا لُ  وَهُوَ  كُرْهٌ  لَّـكُمْ   ۚ وَعَسٰۤى  اَنْ  تَكْرَهُوْا  شَيْــئًا  وَّهُوَ  خَيْرٌ  لَّـکُمْ   ۚ وَعَسٰۤى  اَنْ  تُحِبُّوْا  شَيْــئًا  وَّهُوَ  شَرٌّ  لَّـكُمْ   ۗ وَا للّٰهُ  يَعْلَمُ  وَاَ نْـتُمْ  لَا  تَعْلَمُوْنَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)

Berserah diri kepada Allah ini juga harus dibarengi dengan daya dan upaya. Maksud dari daya dan upaya tersebut, berarti kita juga ikhtiar. Bukan berarti kita hanya diam dan berpangku tangan.

Orang yang berserah diri kepada Allah, ketika menghadapi kegagalan dalam usahanya, dengan ikhlas dan lapang dada akan menerima ketentuan dari Sang Khaliq tersebut. Hal tersebut juga tak akan muncul rasa putus asa, larut dalam kesedihan, atau kecewa.

Sudah seharusnya sebagai seorang hamba, ketika menghadapi kegagalan kita tidak boleh putus asa. Justru harus mencoba kembali sampai sukses. Dengan kita menyadari bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan merupakan ketentuan dari Allah SWT dan itu hal yang terbaik.

Bedanya Tawakal dengan Pasrah

Pada kenyataannya, berserah diri dengan pasrah itu sangatlah berbeda. Orang yang pasrah hanya akan diam saja, menunggu pertolongan Allah tanpa adanya usaha dan doa.

Sedangkan orang yang tawakal, dia akan berusaha, berdoa, dan berprasangka baik terhadap Allah. Tidak akan menyerah pula sebelum berhasil mencapai tujuannya.

Keutamaan Orang yang Bertawakal

Orang yang beriman dan berserah diri kepada Allah percaya dengan semua rezeki yang telah diberikan untuk kita. Hal tersebut tentunya sudah seimbang dengan besarnya usaha kita. Ketahuilah, apapun yang akan menjadi milik kita, tidak akan menjadi milik orang lain.

Bahkan sekuat apapun tenaga kita mengejar, jika tidak akan menjadi milik kita ya tidak bisa kita raih. Sekiranya berhasil, hal tersebut tidak akan bertahan cukup lama.

Semoga kita termasuk yang hanya berserah diri kepada Allah SWT, berusaha, berihtiar dan berdoa agar mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT.