ihir, Mempesona penglihatan Manusia Sehingga Menakutkan Hati

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا  جَآءَ  السَّحَرَةُ  قَا لَ  لَهُمْ  مُّوْسٰۤى  اَلْقُوْا  مَاۤ  اَنْتُمْ  مُّلْقُوْنَ
“Maka ketika para pesihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!” (QS. Yunus 10: Ayat 80)
Sihir, mempesona penglihatan manusia sehingga menakutkan hati
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Kemudian sesudah ahli-ahli sihir dipanggil ke sebuah lapangan terbuka, mereka datang menemui Musa untuk menawarkan kepadanya apakah dia yang lebih dahulu melontarkan tongkatnya ataukah mereka yang memulai. Musa mempersilahkan mereka menunjukkan sihirnya terlebih dahulu. Maka merekapun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Dengan kekuatan sihir, tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular. Mereka mempesona penglihatan manusia sehingga menakutkan hati mereka yang menyaksikannya.
Tadabbur dan Makna Ayat
Ayat ini menggambarkan momen ketika para penyihir kerajaan Firaun tampil dalam pertunjukan sihir untuk menandingi mukjizat Nabi Musa. Namun yang menarik, Nabi Musa tidak gentar sedikit pun. Beliau justru mempersilakan mereka untuk memulai: “Lemparkanlah apa yang hendak kalian lemparkan!”
Ini menunjukkan sikap tenang dan percaya diri yang tinggi dari seorang Nabi. Beliau yakin bahwa kebenaran dari Allah akan mengalahkan sihir, walaupun sihir itu tampak hebat dan menakutkan.
Meskipun pada ayat ini belum dijelaskan isi sihir mereka, penjelasan tentang bentuk sihir ini bisa dilihat dalam ayat-ayat lain:
  • QS. Al-A’raf ayat 116: “…maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat karena sihir mereka.”
  • QS. Taha ayat 66: “…Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka tampak kepadanya, karena sihir mereka, seolah-olah ia merayap dengan cepat, lalu Musa merasa takut dalam hatinya.”
Dari sini kita memahami bahwa sihir mereka adalah ilusi visual—mereka membuat orang yang melihat seakan-akan tali dan tongkat hidup dan bergerak. Inilah bentuk sihir yang memperdaya penglihatan dan menimbulkan rasa takut.
Pelajaran yang Bisa Ditadabburi
  1. Sihir bekerja melalui persepsi dan ilusi. Yang diperdaya bukan realitas, tapi cara manusia memandangnya. Sihir menyasar mata, lalu masuk ke hati.
  2. Kebatilan sering tampil memukau dan membuat takut, walau sebenarnya tidak punya kekuatan hakiki.
  3. Keteguhan Nabi Musa menjadi contoh bahwa orang yang membawa kebenaran tidak perlu takut meski yang dihadapi terlihat hebat.
  4. Ketenangan Nabi Musa lahir dari keimanan yang dalam dan kepercayaan penuh pada pertolongan Allah.
Relevansi dengan Kondisi Sekarang
Sihir yang memukau penglihatan dan menakutkan hati pada zaman Nabi Musa dapat kita temui dalam bentuk yang berbeda di zaman modern. Ia bisa hadir dalam bentuk media yang menyesatkan, visual yang manipulatif, atau propaganda yang merusak. Misalnya:
  • Informasi yang sengaja disusun untuk menipu persepsi publik (hoaks, fitnah, opini sesat).
  • Teknologi visual seperti deepfake( kebohongan visual/audio yang dibuat menggunakan teknologi AI canggih) yang membuat kebohongan tampak nyata.
  • Tayangan atau iklan yang menggambarkan keburukan sebagai sesuatu yang menarik dan keren.
  • Manipulasi opini publik oleh kelompok berkepentingan yang membuat masyarakat takut untuk membela kebenaran.
Semua itu adalah “sihir modern” yang mempesona mata dan menakutkan hati, sebagaimana sihir para penyihir Firaun dahulu. Tetapi seperti Nabi Musa, kita diajarkan untuk tenang, yakin kepada Allah, dan tetap berdiri di atas kebenaran meskipun kebatilan tampak menguasai panggung.
Penutup
Surah Yunus ayat 80 mengajarkan bahwa:
  • Kebatilan bisa tampil hebat, tapi tetap bisa dikalahkan oleh kebenaran.
  • Ketenangan menghadapi musuh adalah buah dari keimanan.
  • Jangan cepat takut pada sesuatu hanya karena tampaknya mengerikan—lihatlah hakikatnya.
  • Kebenaran akan menang, karena ia berasal dari Allah, bukan dari ilusi.
Doa Memohon Perlindungan dari Tipu Daya;
اللهم احفظني من فتن البصر والبصيرة، ونجّني من كل باطلٍ يُلبس لباسَ الحق، واجعل قلبي ثابتًا على دينك.
“Allāhumma iḥfaẓnī min fitanil-baṣar wal-baṣīrah, wa najjinī min kulli bāṭilin yulbasu libāsa al-ḥaqq, waj‘al qalbī thābitan ‘alā dīnik.”
“Ya Allah, lindungilah aku dari fitnah yang memperdaya mata dan hati. Selamatkan aku dari segala kebatilan yang menyamar sebagai kebenaran. Tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”