Contoh Perilaku Ala Fir’aun Modern

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لَ  فِرْعَوْنُ  ائْتُوْنِيْ  بِكُلِّ  سٰحِرٍ  عَلِيْمٍ
“Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya), Datangkanlah kepadaku semua pesihir yang ulung!”(QS. Yunus 10: Ayat 79)
Memelihara martabat, kemuliaan dan jabatannya serta menghambat perkembangan kekuatan Musa dan Bani Israil di kerajaannya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Kemudian dalam ayat ini, Allah menerangkan sikap Firaun sesudah dipengaruhi para pemuka kaumnya dengan tuduhan dan pandangan buruk mereka terhadap Musa. Dia lalu memerintahkan mereka untuk memanggil ahli-ahli sihir yang pandai supaya dapat menandingi dan menghancurkan mukjizat Nabi Musa. Tindakan Firaun yang demikian adalah untuk memelihara martabat, kemuliaan dan jabatannya serta menghambat perkembangan kekuatan Musa dan Bani Israil di kerajaannya.
Perilaku  seperti Fir’aun yang digambarkan dalam Surah Yunus ayat 79 masih sangat relevan dan dapat dikenali dalam berbagai bentuk tingkah laku manusia modern, khususnya pada individu atau kelompok.
Ayat ini menggambarkan bahwa Fir’aun merasa kekuasaannya terancam oleh kebenaran yang dibawa Musa. Ia lalu menggunakan cara manipulatif—dalam hal ini dengan memobilisasi para tukang sihir—untuk melawan kebenaran, demi memelihara martabat, kekuasaan dan hegemoni.
Perilaku Serupa di Era Sekarang:
Berikut beberapa contoh perilaku ala Fir’aun modern:
  1. Menekan suara kebenaran demi kekuasaan;  Orang atau penguasa yang menggunakan media, kekuatan hukum, atau tekanan sosial untuk membungkam aktivis, ulama, atau intelektual yang menyuarakan keadilan atau kebenaran.
  2. Menghalangi kebangkitan rakyat tertindas;  Sama seperti Fir’aun menghambat Bani Israil, hari ini bisa dilihat pada pihak-pihak yang menekan kelompok minoritas, rakyat miskin, atau komunitas marginal agar mereka tidak bangkit dan menuntut haknya.
  3. Menggunakan ilmu, opini ahli, atau media secara manipulatif;  Fir’aun mengandalkan tukang sihir; hari ini bisa berarti menyewa ahli atau memanipulasi data dan opini publik untuk mempertahankan narasi palsu demi status quo.
  4. Takut kehilangan jabatan dan martabat duniawi;  Ketika ada perubahan yang membawa kebenaran dan keadilan, mereka yang telah lama duduk dalam kenyamanan kekuasaan sering menolaknya karena takut kehilangan posisi dan pengaruh.
Perilaku Fir’aun bukan hanya tentang seorang raja Mesir ribuan tahun lalu, tapi sifat batin manusia yang arogan dan takut kehilangan kekuasaan, yang bisa muncul dalam bentuk apa pun, kapan pun. Ayat ini menunjukkan bagaimana Fir‘aun berusaha melawan kebenaran yang dibawa Nabi Musa dengan cara manipulatif, menggunakan kekuatan duniawi (ahli sihir) demi mempertahankan kekuasaannya. Ini mencerminkan sikap sombong, takut kehilangan kuasa, dan menentang petunjuk Allah.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ التَّكَبُّرِ وَرَفْضِ الْحَقِّ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا يَقْبَلُ الْهُدَى، وَيَخْشَى الضَّلَالَةَ، وَلَا يَتَّبِعُ سُبُلَ الْمُفْسِدِينَ.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran. Anugerahkanlah kepadaku hati yang tunduk dan khusyuk, yang menerima petunjuk-Mu, takut pada kesesatan, dan tidak mengikuti jalan para pembuat kerusakan.”