Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لَ مَا مَنَعَكَ اَ لَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗ قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
“(Allah) berfirman, Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu? (Iblis) menjawab, Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 12)
Sombong sifat iblis, merasa lebih mulya dari manusia, manusia diciptakan dari tanah dan iblis dari api
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Allah mempertanyakan alasan penolakan Iblis untuk sujud kepada Adam. Dia berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk menghormati Adam sehingga kamu tidak bersujud kepadanya ketika Aku menyuruhmu?” Dengan penuh angkuh dan sombong, Iblis menjawab, “Aku tidak pantas bersujud kepadanya karena aku lebih baik daripada dia sehingga aku tidak wajar bersujud kepadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah, dan api lebih baik daripada tanah.”. Iblis menganggap api itu lebih mulia dari tanah.
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).
Selain iblis yang merasa sombong dengan sifat keakuannya yang ada dalam Al-Qur’an?
Pertama, Fir’aun merupakan raja Mesir yang dikenal sebagai orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata kepunyaanku atau aku memiliki atau “liy”. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Zukhruf ayat 51:
وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak melihat(nya)?” (QS. Al-Zukhruf: 51).
Kedua, Qarun merupakan orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata ada padaku atau saya mempunyai atau “‘indiy”. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 78:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash: 78).
Ketiga, Kaumnya ratu Bilqis merupakan orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata kami atau “nahnu”. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 33:
قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ
”Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. (QS. An-Naml: 33).
Sebanyak apapun dosa yang dilakukan makhluknya niscaya Allah akan mengampuninya, tetapi bila seorang hamba ingin menyamai Tuhannya dengan sifat sombongnya seolah menandingi kekuasaannya maka ia akan celaka seperti yang dilakukan Iblis da bala tentaranya.
Selalu bersikap tawadhu dan dijauhkan dari sifat sombong sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Karena sikap tawadhu merupakan sikap terpuji, dan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman. Sedangkan sikap sombong, sangat tidak disukai Allah subhanahu wa ta’ala.
لَا جَرَمَ اَنَّ اللّٰهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّوۡنَ وَمَا يُعۡلِنُوۡنَؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ
الۡمُسۡتَكۡبِرِيۡنَ “
“Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23).
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda tentang tempat terakhir orang-orang yang menyombongkan diri. “Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari dan Muslim).
Sombong membawa banyak mudharat, Allah bahkan telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 18, terkait larangan bersifat takabur.
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (QS ; Luqman ayat 18)
Doa Nabi Musa yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Ghafir ayat 27, terhindar dari orang sombong dan menyombongkan diri;
اِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ مِّنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ
innī ‘użtu birabbī wa rabbikum ming kulli mutakabbiril lā yu`minu biyaumil-ḥisāb
“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”