Hukum Memberikan Maskawin adalah Wajib

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَّا لْمُحْصَنٰتُ  مِنَ  النِّسَآءِ  اِلَّا  مَا  مَلَـكَتْ  اَيْمَا نُكُمْ   ۚ كِتٰبَ  اللّٰهِ  عَلَيْكُمْ   ۚ وَاُ حِلَّ  لَـكُمْ  مَّا  وَرَآءَ  ذٰ  لِكُمْ  اَنْ  تَبْتَـغُوْا  بِاَ مْوَا لِكُمْ  مُّحْصِنِيْنَ  غَيْرَ  مُسَا فِحِيْنَ   ۗ فَمَا  اسْتَمْتَعْتُمْ  بِهٖ  مِنْهُنَّ  فَاٰ  تُوْهُنَّ  اُجُوْرَهُنَّ  فَرِ يْضَةً   ۗ وَلَا  جُنَا حَ  عَلَيْكُمْ  فِيْمَا  تَرٰضَيْـتُمْ  بِهٖ  مِنْۢ  بَعْدِ  الْـفَرِ يْضَةِ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  كَا نَ  عَلِيْمًا  حَكِيْمًا
“Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya, bukan untuk berzina. Maka karena kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 24)

Hukum memberikan mahar/maskawin adalah wajib

وَاٰ  تُوا  النِّسَآءَ  صَدُقٰتِهِنَّ  نِحْلَةً   ۗ فَاِ نْ  طِبْنَ  لَـكُمْ  عَنْ  شَيْءٍ  مِّنْهُ  نَفْسًا  فَكُلُوْهُ  هَنِيْۤـئًـا  مَّرِ یْۤـئًـا

“Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 4)

Maskawin adalah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri dalam rangka akad perkawinan.

Mahar secara etimologi adalah maskawin. Secara terminologi adalah pemberian wajib dari calon suami kepada istri sebagai ketulusan hati calon suami untuk menimbulkan rasa cinta kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya.

Mahar merupakan bentuk cinta calon suami terhadap calon istri serta kesediaan calon istri untuk menjadi istrinya. Mahar juga diartikan sebagai harta untuk istri sebagai tanda terjadinya ikatan pernikahan pria dan wanita.

Pemberian mahar bertujuan untuk menunjukkan bahwa wanita adalah makhluk yang patut dihargai dan memiliki harta. Selain itu, mahar juga berupaya menunjukkan shidiq atau kesungguhan suami untuk menempatkan istri pada derajat mulia.

Pada dasarnya, mas kawin tidak ditentukan sendiri, namun disesuaikan dengan kesepakatan atau permintaan calon pasangan. Biasanya, mahar yang diberikan berupa barang, uang ataupun jasa.

Hukum Mas Kawin

Dalam ajaran Islam, pemberian maskawin hukumnya adalah wajib. Oleh karena itu, mahar memiliki landasan hukum kuat yang menjadi dasar pegangan dari calon suami atau pihak yang membayar mahar.

Hukum mahar juga disebutkan dalam keterangan lanjutan kitab al-Fiqh al-Manjhaji yang berbunyi:

“Maskawin hukumnya wajib bagi suami dengan sebab telah sempurnanya akad nikah, dengan kadar harta yang telah ditentukan, seperti 1000 lira Syiria, atau tidak disebutkan, bahkan jika kedua belah pihak sepakat untuk meniadakannya, atau tidak menyebutkannya, maka kesepakatan tersebut batal, dan maskawin tetap wajib

  • Mahar yang akan diberikan kepada calon istri harus memenuhi beberapa persyaratan.
  • Mahar bukan barang curian dan bisa memberikan manfaat.
  • Meski tidak ada ketetapan tentang jumlah mahar, tetap tidak boleh memberikan mahar yang tidak berharga.
  • Mahar bukan milik orang lain yang diambil tanpa izin pemiliknya. Jika dilakukan, maka tidak sah hukumnya.
  • Bentuk, jenis, dan sifat mas mahar harus diketahui dengan jelas.
  • Setiap ibadah yang kita lakukan harusnya tahu rujukannya atau landasan hukumnya, nikah adalah ibadah, pemberian mas kawin/mahar hukumnya wajib(QS An Nisa ayat 4 dan An Nisa ayat 24).

Semoga seiring umur bertambah, kualitas ibadah kita juga bertambah dan ibadah ibadah yang kita lakukan tahu landasan hukumnya