Hati yang Rusak, Kebiasannya Memperolok Olok

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا  يَأْتِيْهِمْ  مِّنْ  رَّسُوْلٍ  اِلَّا  كَا نُوْا  بِهٖ  يَسْتَهْزِءُوْنَ

“Dan setiap kali seorang rasul datang kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 11)

Hati yang rusak sering kali ditandai dengan kebiasaan memperolok kebenaran dan merendahkan pembawanya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa dengan ayat ini Allah SWT menghibur hati Nabi Muhammad saw yang sedang bersedih hati dan mengalami penderitaan akibat olok-olok, cercaan, dan kezaliman orang-orang musyrik Mekah. Beliau merasa sedih atas kebodohan kaumnya yang tidak mau memahami Al-Qur’an, bahkan menuduh dirinya orang gila. Allah SWT menerangkan bahwa apa yang sedang dialami Nabi Muhammad itu telah dialami pula oleh para rasul sebelumnya yang diutus kepada umat-umat yang dahulu. Hampir semua umat itu memperolok-olokkan para rasul bahkan di antara mereka ada yang mengadakan rencana jahat untuk membunuhnya.

Mereka mengingkari seruan rasul dan tetap melaksanakan adat kebiasaan dan kepercayaan warisan nenek moyang mereka. Hampir semua rasul diutus kepada kaumnya sendirian, tanpa teman dan pembantu yang menolongnya kecuali pembantu dan penolong dari para pengikut yang diperoleh setelah banyak berdakwah. Pada umumnya, para rasul itu orang miskin, tanpa pembesar atau penguasa yang menyokongnya, dan tanpa harta benda yang cukup untuk membiayai dakwahnya, tetapi semua rasul adalah orang-orang yang amanah, tabah, dan sabar melaksanakan tugas-tugas yang dipikulkan kepada mereka.

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah SWT menegaskan kepada Nabi Muhammad agar tidak berputus asa disebabkan oleh sikap dan tindakan orang-orang kafir itu, karena semua rasul mengalami cobaan dan tantangan seperti itu. Sikap orang kafir yang demikian itu adalah karena akhlak mereka telah rusak, dan nafsu telah mengalahkan semua kebenaran yang mungkin bisa masuk ke dalam hati mereka. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerima kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.

Di zaman sekarang, orang yang membawa kebenaran masih sering diperolok-olok. Keadaan ini sangat relevan dengan kandungan Surah Al-Hijr ayat 11.

Ayat tersebut bukan hanya menceritakan kaum terdahulu pada zaman para rasul, tetapi juga menjadi pelajaran sepanjang zaman bahwa salah satu ciri orang yang menolak kebenaran adalah suka mengejek, merendahkan, atau memperolok orang yang menyampaikan nasihat dan kebaikan.

Fenomena seperti ini masih sering terlihat pada masa sekarang.

  • Orang yang menjaga sunnah dijadikan bahan candaan.
  • Nasihat agama diremehkan bukan karena isinya salah, tetapi karena tidak suka kepada pembawanya.
  • Mengolok ngolok orang Arab atau Habieb padahal rassul juga orang Arab.
  • perempuan berhijab syar’i atau bercadar disebut “ninja”, “teroris”, “kuno”, “fanatik”, atau istilah lain yang bernada merendahkan.

Dalam ajaran Al-Qur’an dan sunnah, mengolok-olok sesama muslim termasuk perkara yang berbahaya, terlebih jika yang diperolok adalah orang yang sedang berusaha menjalankan syariat.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”

Ayat ini mengajarkan adab agar tidak meremehkan orang lain, khususnya dalam urusan ketaatan. Karena bisa jadi orang yang hari ini kita ejek justru lebih mulia di sisi Allah daripada diri kita sendiri.

Mengejek orang berjanggut, menghina celana di atas mata kaki, mencibir orang yang rajin ke masjid, atau menjadikan simbol ketaatan sebagai bahan candaan dapat menjadi dosa karena termasuk merendahkan sesama muslim dan menyakiti hati mereka. Bahkan jika olok-olok itu diarahkan kepada syariat agama dengan nada penghinaan, maka hal itu menjadi perkara yang sangat berbahaya bagi iman.

Namun dalam menyikapi hal ini kita juga harus tetap adil dan bijak. Tidak semua orang yang berjanggut atau bercelana di atas mata kaki otomatis paling benar, dan orang yang belum mampu menjalankan syariat pun tidak boleh direndahkan. Semua manusia sedang belajar dan berproses menuju kebaikan.

Karena itu, sikap terbaik adalah saling menghormati dan saling mendoakan. Jika belum mampu mengamalkan seluruh syariat, jangan sampai menghina orang yang sedang berusaha menjalankannya. Dan bagi yang sudah berusaha taat, hendaknya tetap rendah hati, lembut, dan tidak merasa paling suci.

Sebab kebenaran seharusnya dinilai dari isi dan dalilnya, bukan dari kebencian atau prasangka kepada orang yang menyampaikannya.

Semoga Allah melembutkan hati kita, menjaga lisan kita dari meremehkan orang lain, dan menjadikan kita termasuk hamba yang mencintai kebenaran serta menghormati orang-orang yang berusaha menegakkannya.

اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kemampuan untuk menjauhinya.”