Dosa Orang Kafir Mengingkari Ayat-ayat Allah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
كَدَأْبِ  اٰلِ  فِرْعَوْنَ  ۙ وَا لَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِهِمْ  ۗ كَذَّبُوْا  بِاٰ يٰتِ  رَبِّهِمْ  فَاَ هْلَكْنٰهُمْ  بِذُنُوْبِهِمْ  وَاَ غْرَقْنَاۤ  اٰلَ  فِرْعَوْنَ  ۚ وَكُلٌّ  كَا نُوْا  ظٰلِمِيْنَ
“(keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan oleh dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; karena mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 54)
Dosa orang kafir mengingkari ayat ayat Allah
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Keadaan mereka serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun terhadap Nabi Musa dan orang-orang yang sebelum mereka, seperti kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Samud, kaum Sodom, dan lain-lain. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya melalui sikap dan perilakunya, maka Kami menurunkan azab yang membinasakan mereka dengan bentuk yang bermacam-macam.
فَكُلًّا  اَخَذْنَا  بِذَنْبِۢهٖ  ۚ فَمِنْهُمْ  مَّنْ  اَرْسَلْنَا  عَلَيْهِ  حَا صِبًا  ۚ وَمِنْهُمْ  مَّنْ  اَخَذَتْهُ  الصَّيْحَةُ  ۚ وَمِنْهُمْ  مَّنْ  خَسَفْنَا  بِهِ  الْاَ رْضَ  ۚ وَ Bpمِنْهُمْ  مَّنْ  اَغْرَقْنَا  ۚ وَمَا  كَا نَ  اللّٰهُ  لِيَـظْلِمَهُمْ  وَلٰـكِنْ كَا نُوْۤا  اَنْفُسَهُمْ  يَظْلِمُوْنَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam Bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 40)
Azab yang bermacam macam itu disebabkan oleh dosa-dosanya. Dosa-dosa yang mereka lakukan bukan semata-mata terkait dengan akidah atau keyakinan, akan tetapi kejahatan sosial yang dapat mengancam kehidupan kemanusiaan secara umum, seperti membudayanya kejahatan ekonomi (Madyan, kaum Nabi Syuaib), penyimpangan seksual (Sodom, kaum Nabi Lut), dan lain-lain, dan karena itulah Kami juga menenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; sebab mereka adalah orang-orang yang zalim yaitu dengan menjadikan kekuasaannya sebagai alat untuk menindas orang-orang lemah dan bahkan memperbudak mereka.
Perilaku Fir’aun ini esensinya sama dengan perilaku umat-umat terdahulu. Inilah hukum Allah (sunatullah) yang bersifat pasti dan universal dalam perjalanan kehidupan manusia sepanjang masa, bahwa siapa pun yang memiliki sifat dan perilaku yang sama dengan mereka pasti akan mendapat hukuman atau azab dari Allah dengan bentuknya yang berbeda-beda. Akhir ayat menyebutkan yang mengingkari ayat ayat Allah disebut zalim ;
  1. Menganiaya Diri Sendiri (Zulm): Dalam perspektif Islam, zalim tidak hanya berarti menindas orang lain, tetapi juga bisa berarti menganiaya diri sendiri dengan mengingkari kebenaran. Orang yang mengingkari ayat-ayat Allah menolak petunjuk dan rahmat yang diberikan oleh-Nya, yang pada akhirnya merugikan diri mereka sendiri. Mereka menutup hati terhadap kebenaran, sehingga menyulitkan diri mereka untuk menerima hidayah dan keselamatan.
  2. Menganiaya Orang Lain (Zulm terhadap sesama): Selain itu, pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah sering kali disertai dengan kezaliman terhadap orang lain. Seperti contoh Fir’aun dalam ayat tersebut, ia tidak hanya mengingkari ayat-ayat Allah, tetapi juga menindas Bani Israil dan menyebarkan kekejaman di antara rakyatnya. Penolakan terhadap kebenaran ilahi biasanya diikuti dengan kezaliman sosial dan politik.
  3. Melanggar Hak Allah: Dalam Islam, Allah memiliki hak mutlak untuk disembah dan ditaati. Ketika seseorang mengingkari ayat-ayat-Nya, itu adalah pelanggaran terhadap hak-hak Allah, yang merupakan bentuk kezaliman terbesar. Mengingkari kebenaran yang datang dari Allah berarti menolak kewajiban dasar manusia untuk mengakui dan menyembah-Nya.
Jadi, orang yang mengingkari ayat-ayat Allah disebut zalim karena mereka menganiaya diri mereka sendiri dengan menolak hidayah, sering kali melakukan kezaliman terhadap orang lain, dan melanggar hak-hak Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta.
Salah satu doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an untuk memohon agar kita tidak termasuk orang-orang yang zalim:
Doa Nabi Yunus ketika dalam perut ikan paus.
   Doa ini sangat terkenal dan disampaikan oleh Nabi Yunus saat beliau berada dalam keadaan sulit:
   لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
   “Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz-zhaalimiin”  
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)