Di Akhirat Lebih Baik Bagi Orang yang Bertaqwa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقِيْلَ  لِلَّذِيْنَ  اتَّقَوْا  مَا ذَاۤ  اَنْزَلَ  رَبُّكُمْ ۗ قَا لُوْا  خَيْرًا ۚ لِلَّذِيْنَ  اَحْسَنُوْا  فِيْ  هٰذِهِ  الدُّنْيَا  حَسَنَةٌ ۗ وَلَدَا رُ  الْاٰ خِرَةِ  خَيْرٌ ۗ وَلَنِعْمَ  دَا رُ  الْمُتَّقِيْنَ ۙ

“Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab, Kebaikan. Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 30)

Di akhirat lebih baik bagi orang yang bertaqwa

Ketika orang-orang bertakwa ditanya, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?”, jawaban mereka begitu singkat tetapi sangat dalam:

قَالُوا خَيْرًا

“Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’”

Mereka tidak mengatakan Al-Qur’an sebagai beban. Mereka tidak melihat perintah Allah sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Mereka justru memandang apa yang Allah turunkan sebagai kebaikan.

Kemudian Allah memberikan kabar yang sangat menggembirakan:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini ada pahala yang baik. Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ayat ini seperti mengingatkan kita: jangan sampai kita salah menghitung keuntungan hidup.

Dunia memang menawarkan banyak hal yang menyenangkan. Harta, jabatan, rumah, kendaraan, popularitas, kesehatan, kenyamanan, dan berbagai kenikmatan lainnya. Semuanya boleh dinikmati selama diperoleh dengan cara yang halal.

Tetapi semua itu memiliki satu kelemahan: ada akhirnya

Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Rumah akan ditinggalkan. Tubuh yang kuat akan melemah. Popularitas akan dilupakan. Bahkan kehidupan itu sendiri akan sampai pada titik akhirnya.

Karena itu Allah mengatakan: “Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik.”

Lebih baik bukan hanya karena lebih lama, tetapi karena tidak ada lagi batas waktu bagi kenikmatan yang Allah berikan kepada orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini tidak menggambarkan orang bertakwa sebagai orang yang hanya banyak berbicara tentang agama. Takwa terlihat dalam pilihan hidup.

  • Ketika memiliki kesempatan berbuat salah, ia memilih berhenti karena Allah.
  • Ketika memiliki kekuasaan, ia memilih tidak menzalimi.
  • Ketika memiliki ilmu, ia memilih menggunakannya untuk kebaikan.
  • Ketika memiliki harta, ia memilih berbagi.
  • Ketika menemukan kesalahan orang lain, ia memilih menasihati dengan kasih sayang, bukan mempermalukan.

Dan ketika tidak ada seorang pun yang melihat, ia tetap merasa bahwa Allah melihatnya. Itulah sebabnya takwa bukan sekadar pengetahuan. Takwa adalah kesadaran yang mengubah perilaku.

Menariknya, ayat ini dimulai dari dunia

Allah tidak mengatakan bahwa orang bertakwa tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia. “Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini ada kebaikan.”

Artinya, kebaikan di dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Kita bekerja, membangun pendidikan, mengembangkan usaha, mengurus keluarga, menjaga kesehatan, menuntut ilmu dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Tetapi seorang mukmin tidak berhenti pada keberhasilan dunia. “Setelah ini, apa yang saya bawa untuk akhirat?”

Inilah yang membedakan orang yang hidup hanya untuk dunia dengan orang yang menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat.

Kalau kita diberi pilihan antara sesuatu yang hanya bertahan beberapa tahun dengan sesuatu yang bertahan selamanya, tentu kita akan memilih yang kekal. Namun dalam kehidupan nyata, manusia sering melakukan sebaliknya.

Kita rela menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar sesuatu yang akhirnya akan ditinggalkan, tetapi kadang terlalu sedikit waktu untuk mempersiapkan sesuatu yang akan kita jalani selamanya.

An-Nahl ayat 30 mengoreksi cara berpikir tersebut: Dunia itu penting, tetapi akhirat lebih baik. Dan ini banyak ditemukan dalam ayat lain dalam al Quran.

Maka bekerja keraslah di dunia, tetapi jangan kehilangan akhirat. Kumpulkanlah harta, tetapi jangan lupa mengumpulkan pahala. Didiklah generasi, tetapi jangan lupa menanamkan takwa. Nikmatilah kehidupan, tetapi jangan sampai kehidupan membuat kita lupa kepada Pemilik kehidupan.

Pertanyaan untuk kita

Suatu saat, kita akan meninggalkan semua yang sedang kita miliki.
Ketika saat itu tiba, tidak ada lagi yang penting selain apa yang kita bawa menghadap Allah.

Maka An-Nahl ayat 30 seakan mengajukan pertanyaan kepada kita:

  • Apakah yang selama ini kita kejar benar-benar lebih baik?
  • Apakah yang kita bangun hanya akan menjadi bangunan dunia, atau juga menjadi investasi akhirat?
  • Apakah ilmu yang kita ajarkan akan berhenti ketika kita meninggal, atau terus menjadi amal yang mengalir?
  • Apakah harta yang kita kumpulkan hanya menjadi warisan, atau sebagian telah berubah menjadi sedekah dan amal jariyah?

Dan ketika kelak kita ditanya sebagaimana orang-orang dalam ayat ini: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?”

Semoga kita termasuk orang-orang yang dengan yakin menjawab:

“خَيْرًا — Kebaikan.”

Karena kita telah berusaha menjalani hidup dengan petunjuk-Nya. Dan semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang disebut pada penghujung ayat:

وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

“Dan sungguh, sebaik-baik tempat adalah tempat orang-orang yang bertakwa.”

Dunia tempat menanam. Akhirat tempat memanen. Jangan sampai kita sibuk memperindah tempat menanam, tetapi lupa menyiapkan hasil panen. Atau tidak ada yang mau dipanennya.

Dunia adalah tempat menanam, akhirat adalah tempat memanen. Kita sering begitu sibuk memperindah tempat kita menanam: memperbesar rumah, memperbanyak harta, mengejar jabatan, membangun usaha, dan mengumpulkan berbagai kenikmatan dunia. Semua itu tidak salah, selama tidak membuat kita lupa kepada tujuan akhir perjalanan.

Sebab yang akan kita bawa bukan rumahnya, bukan hartanya, bukan jabatannya, tetapi amal yang kita tanam selama hidup. Jangan sampai kita begitu sibuk memperindah tempat menanam, tetapi lupa menyiapkan hasil panen. Lebih menyedihkan lagi, ketika musim panen tiba, ternyata tidak banyak yang bisa dipanen.

An-Nahl ayat 30 mengingatkan kita bahwa bagi orang yang bertakwa, apa yang Allah turunkan adalah kebaikan, dan bagi orang yang berbuat baik di dunia, tersedia kebaikan di akhirat.

“Apa yang sudah saya miliki di dunia?”
“Apa yang sudah saya tanam untuk kehidupan setelah dunia?”

Karena pada akhirnya, dunia akan kita tinggalkan, tetapi hasil dari apa yang kita tanam akan kita bawa menghadap Allah. Maka selama masih diberi umur, mari memperbanyak benih kebaikan: iman, salat, ilmu, sedekah, membantu sesama, mendidik generasi, menjaga amanah, memaafkan, dan setiap amal yang mendekatkan kita kepada Allah.

Jangan takut hidup sederhana di dunia, selama kita sedang menyiapkan panen yang besar di akhirat.

Ya Allah, jadikan dunia ini tempat kami menanam sebanyak-banyaknya kebaikan, dan jangan Engkau jadikan kami orang yang datang pada hari panen dengan tangan kosong.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُنْيَانَا مَزْرَعَةً لِطَاعَتِكَ، وَأَعْمَارَنَا مَلِيئَةً بِالْخَيْرِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا ذَخِيرَةً لَنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

Allāhummaj‘al dunyānā mazra‘atan lithā‘atik, wa a‘māranā malī’atan bil-khair, waj‘al khaira a‘mālinā dzakhīratan lanā yauma nalqāk.

“Ya Allah, jadikanlah dunia kami sebagai ladang untuk menaati-Mu, penuhilah umur kami dengan kebaikan, dan jadikanlah sebaik-baik amal kami sebagai bekal bagi kami pada hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”