Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAILLAHAILLOH. WALLAHU AKBAR.
Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Mari saling mendoakan ;
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَا لْمَغْرِبُ فَاَ يْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
“Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 115)
Dalam kitab-kitab tafsir klasik, kata al-masyriq dan al-maghrib lebih banyak diartikan dengan kata timur dan barat dalam arti geografis, yakni timur dan barat tempat, waktu terbit, serta tenggelamnya matahari.
Ada juga yang menghubungkan al-masyriq dan al-maghrib dengan tempat yang menjadi kiblat shalat umat Islam di Madinah, yang tadinya menghadap ke barat, yaitu ke Baitul Maqdis, dan ke timur, yaitu ke Ka’bah, Kota Suci Makkah.
Sebab turunnya ayat ini ialah seperti diriwayatkan oleh Jabir sebagai berikut: “Kami telah diutus oleh Rasulullah SAW dalam suatu peperangan dan aku termasuk dalam pasukan itu. Ketika kami berada di tengah perjalanan, kegelapan mencekam kami, sehingga kami tidak mengetahui arah kiblat.” Segolongan di antara kami berkata, “Kami telah mengetahui arah kiblat, yaitu ke sana, ke arah utara.
Maka mereka salat dan membuat garis di tanah. Sebagian kami berkata, “Arah kiblat ke sana ke arah selatan.” Dan mereka membuat garis di tanah. Tatkala hari subuh dan matahari pun terbit, garis itu mengarah ke arah yang bukan arah kiblat. Tatkala kami kembali dari perjalanan dan kami tanyakan kepada Rasulullah saw tentang peristiwa itu, maka Nabi saw diam dan turunlah ayat ini.” )
Allah SWT menegaskan pemilikan-Nya terhadap seluruh alam ini. Dia sendiri yang mengaturnya, mengetahui apa saja yang terjadi di dalamnya, baik kecil maupun besar. Firman Allah:
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-hadid/57:4)
Firman Allah yang lain:
Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada¦ (al-Mujadilah/58:7)
… (Mereka berkata), ” Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu …” (al-Mu’min/40: 7)
Karena itu pada dasarnya, ke mana saja manusia menghadapkan mukanya dalam berdoa atau beribadah, ke timur, barat, utara, selatan, ke bawah, ke atas, dan sebagainya, pasti doa dan ibadahnya itu didengar Allah dan sampai kepada-Nya.
Ayat ini membantah kepercayaan bahwa Allah mempunyai tempat, bahwa doa atau ibadah akan didengar dan sampai kepada Allah bila hamba yang berdoa dan beribadah itu menghadap ke arah tertentu saja atau suatu tempat yang dianggap lebih mulia dari tempat yang lain dan sebagainya. Kata wajh banyak sekali artinya. Dalam ayat ini berarti “kehadiran”.
Berdasarkan ayat di atas dan sebab turunnya, dapat ditetapkan hukum sebagai berikut:
1.Kiblat itu pada dasarnya ialah seluruh arah. Kemana saja hamba menghadap pasti menemui wajah Allah. Untuk memelihara kesatuan dan persatuan kaum Muslimin ditetapkanlah Ka’bah sebagai arah kiblat.
2.Apabila hari sangat gelap dan arah kiblat tidak diketahui, maka boleh salat menghadap ke arah yang diyakini sebagai kiblat. Jika ternyata kemudian arah itu bukan arah kiblat maka salatnya tetap sah.
3.Bagi orang yang berada di atas kendaraan yang sedang berjalan, ia boleh berkiblat ke arah yang dia sukai. Sebagian ulama menganjurkan berkiblat ke arah depan dari kendaraan itu.
Al Wasi’ (الْوَاسِعُ) artinya Maha Luas, maknanya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala kekuasaaNya tidak berbatas.
Asmaul Husna Al Wasi juga mengandung makna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kerajaanNya tidak terbatas.
Allah Maha Mengetahui…Al Alim
Sebagai hamba Allah SWT, kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga amalan sholeh dan selalu bersikap baik dalam keseharian. Bahkan kita juga dianjurkan untuk selalu berfikir positif dan berkhusnudzon kepada Allah. Sebab Allah SWT merupakan Al Alim yang maha mengetahui segala sesuatu yang tersimpan di hati hamba-hambanya. Hal itu sendiri telah dituliskan dalam Alquran surat Al Hadid ayat 6:
“Dialah yang memasukan malam ke dalam siang dan memasukan siang ke dalam malam. Dan Dia maha mengetahui segala isi hati.” (QS. Al Hadid: 6)
Dengan mengetahui sifat Allah SWT sebagai Al Alim atau yang maha mengetahui, umat muslim diharapkan dapat selalu menjaga ucapan dan perbuatan baik dimanapun kita berada karena Allah SWT ialah Tuhan yang maha mengetahui dan maha melihat lagi maha mendengar.
Maha Luas, Maha mengetahui.
Semoga kita tidak dihadapkan dengan kesempitan dan dapat menjaga ucapan dan perbuatan baik…
Aamiin ya robbal aalamin