أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf 12: Ayat 108)
Dakwah adalah ajakan yang yakin kepada Allah di atas tauhid, jauh dari kesyirikan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad saw untuk memberitahu umatnya bahwa dakwah yang dijalankannya, yang bertujuan mengajak manusia mengesakan Allah swt dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, adalah menjadi tugas dan kewajibannya. Rasul memiliki keyakinan bahwa usahanya ini akan berhasil karena apa yang dikemukakan dan dilaksanakannya dilandasi dengan bukti-bukti dan hujjah yang nyata. Yang demikian itu menjadi tugas dan kewajiban bagi orang-orang yang mempercayai dan mengikutinya sehingga segala macam bentuk penghambaan kepada selain Allah bisa musnah dari permukaan bumi ini. Perhatikanlah firman Allah swt yang mengajarkan cara berdakwah kepada Rasul dan umatnya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. (an-Nahl/16: 125)
Pada potongan ayat berikutnya, Allah mengajarkan Muhammad SAW untuk mensucikan-Nya dari tuduhan adanya sekutu dengan mengatakan Mahasuci Allah swt dari sangkaan bahwa Dia mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya, dan ada yang wajib disembah selain Dia. Langit dan bumi serta segala isinya, bahkan semua yang ada, bertasbih menyucikan Allah dari hal yang demikian itu, firman Allah SWT: Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia adalah Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra/17: 44)
Ayat 108 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak termasuk orang-orang yang musyrik.
QS Yusuf:108 itu ayat manhaj dakwah—peta jalan hidup dan dakwah. Beberapa tadabbur pentingnya:
1. Dakwah itu jalan hidup, bukan aktivitas sampingan; “Hādzihī sabīlī” → ini jalanku, artinya Islam dijalani secara utuh, konsisten, bukan musiman.
2. Mengajak kepada Allah, bukan kepada diri, kelompok, atau popularitas; Fokusnya ilāllāh, bukan ilā an-nafs, bukan ilā golongan.
3. Dakwah harus dengan yakin dan ilmu (bashīrah); Yakin bukan nekat. Ada ilmu, kesadaran, dan kejelasan arah. Emosi tanpa ilmu bukan dakwah.
4. Setiap pengikut Nabi juga pemikul dakwah; “ana wa man ittaba‘anī” → dakwah bukan hanya tugas ustadz, tapi setiap yang mengaku mengikuti Nabi Muhammad SAW.
5. Tauhid adalah fondasi utama dakwah; Ayat ditutup dengan penyucian Allah dan penolakan syirik → tauhid dulu, sebelum yang lain.
6. Keikhlasan menjaga dakwah dari penyimpangan; Berlepas diri dari syirik juga berarti menjauh dari riya’, ego, dan kepentingan dunia.
Inti tadabburnya: Jalan hidup seorang mukmin adalah mengajak kepada Allah dengan ilmu, keyakinan, tauhid, dan keikhlasan.
Doa supaya bisa mengajak kearah kebenaran dan mencegah kebatilan dengan ilmu dan keyakinan;
اللهم أرِنَا الحقَّ حقًّا وارزقنا اتباعَه، وأرِنَا الباطلَ باطلًا وارزقنا اجتنابَه، واجعلنا من الداعينَ إليك على بصيرةٍ ويقين، ونجِّنا من الشركِ ظاهره وباطنه.
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kami kemampuan untuk mengikutinya; tunjukkan kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kami kemampuan untuk menjauhinya; jadikan kami orang-orang yang mengajak kepada-Mu dengan ilmu dan keyakinan; dan selamatkan kami dari kesyirikan yang tampak maupun tersembunyi.”