Allah SWT Mengutus Para Rasul dari Kalangan Manusia, dan Pertolongan-Nya Datang Setelah Ujian Mencapai Puncaknya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمَاۤ  اَرْسَلْنَا  مِنْ  قَبْلِكَ  اِلَّا  رِجَا لًا  نُّوْحِيْۤ  اِلَيْهِمْ  مِّنْ  اَهْلِ  الْقُرٰ ى  ۗ اَفَلَمْ  يَسِيْرُوْا  فِى  الْاَ رْضِ  فَيَنْظُرُوْا  كَيْفَ  كَا نَ  عَا قِبَةُ  الَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِهِمْ  ۗ وَلَدَا رُ  الْاٰ خِرَةِ  خَيْرٌ  لِّـلَّذِيْنَ  اتَّقَوْا  ۗ اَفَلَا  تَعْقِلُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelummu (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul). Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Yusuf 12: Ayat 109)

Allah mengutus para rasul dari kalangan manusia, dan pertolongan-Nya datang setelah ujian mencapai puncaknya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa Dia tidak mengutus rasul-rasul sebelum Muhammad saw kecuali laki-laki, bukan malaikat, dan bukan perempuan, serta menurunkan kepada mereka wahyu. Para rasul berasal dari penduduk negeri itu sendiri, supaya mereka mengikutinya. Ini merupakan jawaban terhadap tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang yang mengingkari kenabian Muhammad saw, yang menghendaki supaya rasul yang diutus itu dari jenis malaikat sebagaimana dikisahkan Allah swt di dalam firman-Nya: Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. (al-Muminun/23: 24)

Tidakkah orang-orang musyrik Quraisy yang mendustakan kenabian Muhammad saw dan mengingkari apa yang dibawanya seperti mengesakan Allah, mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya, bepergian di muka bumi dan melihat serta menyaksikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul-rasul dahulu. Mereka dibinasakan dan negerinya dihancurkan, seperti yang dialami kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh, dan lain-lainnya. Sebaliknya orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya dan takut menyekutukan Allah, tidak berbuat dosa dan maksiat, akan memperoleh kesenangan nanti di negeri akhirat yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang didapat orang-orang musyrik di dunia ini.

Apakah mereka tidak memikirkan perbedaan imbalan dan balasan antara orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang percaya. Kesenangan yang didapat di dunia oleh orang-orang yang ingkar itu sangat terbatas. Apabila mereka meninggal dunia berakhirlah kesenangan itu, dan di negeri akhirat kelak mereka mendapat azab yang amat pedih tak henti-hentinya. Dan kesenangan yang diperoleh orang-orang yang beriman, tidak saja di dunia tetapi sampai ke akhirat nanti, karena kesenangan yang diperolehnya itu abadi selamanya.

Rassul dari kalangan manusia, bukan malaikat.
– Agar bisa diteladani. Manusia butuh contoh nyata yang makan, minum, menikah, bekerja, sabar, sedih, dan tetap taat.
– Agar hujjah sempurna. Kalau malaikat yang diutus, manusia bisa berdalih: “Kami tidak mampu seperti malaikat.”
– Ujian keimanan. Iman itu percaya pada kebenaran meski pembawanya manusia biasa, bukan makhluk luar biasa.

Dakwah itu realistis, bukan utopis. Azab datang saat sudah mencapai puncaknya. Karena Allah Maha Adil.
– Dakwah sudah disampaikan berulang-ulang.
– Peringatan sudah jelas.
– Kesombongan dan penolakan sudah mengeras.

Azab bukan keputusan tergesa-gesa, tetapi setelah kesempatan taubat benar-benar diberikan.

Azab datang selalu diawali dengan peringatan.

Dalam Yusuf 109 disebutkan para rasul diutus, artinya:
– Ada fase dakwah.
– Ada kesabaran.
– Ada penantian.
– Ada harapan mereka akan beriman.

Azab datang ketika:
– Kaum tetap menolak.
– Bahkan mendustakan rasul.
– Sampai rasul pun merasa sangat tertekan.

Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah sebelum datangnya hukuman.

Tadabbur dari Yusuf 109
1. Dakwah butuh kesabaran panjang. Bahkan para rasul diuji berat.
2. Pertolongan Allah sering datang di titik terlemah manusia.
3. Jangan tertipu oleh lamanya penundaan hukuman.
4. Kita perlu meneladani manusia pilihan itu, bukan menunggu sosok sempurna.
5. Rahmat Allah selalu mendahului azab-Nya.

Jangan putus asa dalam dakwah, karena pertolongan Allah datang setelah kesabaran diuji, dan azab tidak turun kecuali setelah hujjah ditegakkan dengan sempurna.

“Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agamaMu
jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang berputus asa,
turunkanlah pertolongan-Mu saat ujian memuncak,
dan anugerahkan kepada kami kesabaran yang indah serta keyakinan yang sempurna