Ciri Orang Beriman; Menepati Janji dan tidak Ingkar

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

الَّذِيْنَ  يُوْفُوْنَ  بِعَهْدِ  اللّٰهِ  وَلَا  يَنْقُضُوْنَ  الْمِيْثَا قَ

“(yaitu) orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 20).

Orang beriman adalah mereka yang setia menepati janji kepada Allah dan sesama manusia serta tidak mengingkari perjanjian yang telah mereka buat

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Ulul Albab yaitu orang yang senantiasa memenuhi janji dengan sesama manusia yang dikukuhkan dengan nama Allah dan tidak melanggar perjanjian tersebut.

Tadabbur Janji Agung Manusia kepada Allah; Setiap manusia sesungguhnya telah memiliki janji jauh sebelum ia lahir ke dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-A‘raf ayat 172: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”

Inilah Mitsaq Alastu, perjanjian agung antara Allah dan seluruh ruh manusia. Tauhid bukan sekadar ajaran yang dipelajari, tetapi fitrah yang telah diikrarkan. Maka kehidupan di dunia adalah perjalanan untuk membuktikan kesetiaan terhadap janji tersebut. Karena itu Allah memuji orang-orang beriman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 20 sebagai mereka yang menepati janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Iman bukan hanya pengakuan lisan, tetapi komitmen yang dijaga dengan kesungguhan.

Perintah ini ditegaskan dalam QS. Al-Mā’idah ayat 1: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (perjanjian-perjanjian).” Setiap akad adalah amanah. Janji kepada Allah berupa tauhid, shalat, dan ketaatan. Janji kepada manusia berupa kejujuran, tanggung jawab, hutang yang dibayar, dan amanah yang dijaga. Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa ingkar janji termasuk tanda kemunafikan.

Hidup ini adalah ujian kesetiaan: Apakah kita menjaga janji sebagai hamba kepada Rabb-nya? Apakah kita menjaga janji dalam keluarga, pekerjaan, dan amanah kepemimpinan? Orang yang menepati janji sedang menjaga imannya. Dan orang yang menjaga imannya sedang menyiapkan jawaban ketika kembali kepada Allah.

Janji manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. “Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isrā’ : 34). Ayat ini menunjukkan bahwa janji tidak berhenti di dunia, tetapi akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Doa dimudahkan untuk menempati janji janji, Ya Allah, Engkau telah mengambil janji dari ruh kami sebelum kami lahir ke dunia. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang melupakan janji itu.

Ya Allah, teguhkan hati kami di atas tauhid-Mu. Jadikan kami hamba-hamba yang amanah, jujur, dan setia menepati setiap janji.

Ya Allah, jauhkan kami dari sifat khianat dan ingkar. Karuniakan kepada kami hati yang takut kepada-Mu dan lisan yang benar dalam berucap.

Ya Allah, ketika kami kembali kepada-Mu, jadikan kami termasuk orang-orang yang membawa bukti kesetiaan terhadap janji “Alastu bi Rabbikum”.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.