Bersama Allah, Bukan Bersama Orang Zalim

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

وَا سْتَفْتَحُوْا  وَخَا بَ  كُلُّ  جَبَّا رٍ  عَنِيْدٍ

“Dan mereka memohon diberi kemenangan dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala,” (QS. Ibrahim 14: Ayat 15)

Kebinasaan bagi orang yang berlaku sewenang wenang dan keras kepala

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan rida dan kasih sayang-Nya, serta takut kepada ancaman dan siksaan-Nya, memohon kepada Allah agar diberi kemenangan atas musuh-musuh mereka yang zalim itu. Allah mengabulkan permohonan mereka.  Maka binasalah kaum yang bersifat sewenang-wenang dan keras kepala itu.

Sifat sewenang-wenang dan keras kepala adalah ciri-ciri dari orang-orang yang takabur, yang ingin menandingi kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka tidak mempedulikan hukum-hukum dan peraturan yang telah dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya untuk mengatur hubungan antara sesama manusia, agar tercapai kehidupan yang harmonis, saling mengasihi dan saling menghargai.  Oleh sebab itu, selayaknya mereka menerima hukuman dari Yang Mahakuasa dan Maha Penyayang.

Orang-orang yang zalim dan keras kepala pasti akan berakhir dengan kebinasaan, sementara para rasul dan orang beriman akan mendapatkan pertolongan Allah

Orang zalim dan keras kepala ;
1. Orang-orang zalim (jabbār ‘anīd)
Yaitu mereka yang:

  • Sombong, tidak mau tunduk pada kebenaran
  • Menolak dakwah para rasul
  • Mengandalkan kekuatan dan kekuasaan
  • Bersikap keras kepala walau sudah jelas kebenaran di hadapannya

2. Contohnya dalam sejarah:

  • Kaum Nabi Nuh yang menolak dakwah beliau
  • Kaum ‘Ad dan Tsamud
  • Firaun di zaman Nabi Musa

Mereka semua punya kesamaan: merasa kuat, tapi menentang Allah dan kebenaran, akhirnya dibinasakan.

Ibrah (pelajaran penting)

Ayat ini mengingatkan:

  • Kekuatan zalim itu hanya sementara
  • Kesombongan + keras kepala = jalan menuju kehancuran
  • Pertolongan Allah pasti datang bagi yang beriman dan sabar

Kalau dikaitkan dengan kehidupan sekarang: Bisa juga menggambarkan siapa saja yang menolak kebenaran karena ego, kekuasaan, atau kebiasaan, lalu tetap bertahan dalam kezaliman, maka ayat ini menjadi peringatan keras bagi mereka.

Al-Qur’an berulang kali Allah mengingatkan agar melihat dan mengambil pelajaran dari akhir (kesudahan) orang-orang zalim. Biasanya dengan ungkapan: “maka perhatikanlah bagaimana kesudahan…”. Berikut beberapa ayat yang jelas menyampaikan pesan itu:

1. Surah Al-An’am ayat 11

“Katakanlah: Berjalanlah di bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”

Perintah langsung: lihat sejarah kehancuran orang yang menolak kebenaran.

2. Surah An-Naml ayat 69

“Katakanlah: Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.”

Menekankan bahwa dosa dan pembangkangan membawa kehancuran.

3. Surah Ar-Rum ayat 42

“Katakanlah: Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu…”

Mayoritas mereka:
– Musyrik
– Zalim
dan akhirnya dibinasakan.

4. Surah Fatir ayat 44

“…maka apakah mereka tidak berjalan di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”

Padahal orang dahulu:
– Lebih kuat
– Lebih hebat
tetap hancur karena kezaliman.

5. Surah Ghafir ayat 21

“…lalu mereka melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka…”

Penekanan:
– Kekuatan tidak menyelamatkan
– Azab Allah pasti datang

6. Surah Yusuf ayat 109

“…maka tidakkah mereka berjalan di bumi dan melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”

Pelajaran:
– Yang selamat adalah orang bertakwa
– Bukan yang kuat atau banyak

Inti pesan semua ayat ini:

“Jangan tertipu oleh kejayaan orang zalim saat ini, lihatlah akhirnya, semua berujung pada kehancuran.”

Doa agar tidak condong kepada orang zalim

Allahumma la taj’alni amilu ila adh-dhalimin, waj’al qalbi muta‘alliqan bika wahdaka.

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku condong kepada orang-orang zalim, dan jadikan hatiku bergantung hanya kepada-Mu. (QS . Hud: 113