Allah Menciptakan Langit dan Bumi dalam Enam Masa

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَ  هُوَ  الَّذِيْ  خَلَقَ  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضَ  فِيْ  سِتَّةِ  اَ  يَّا مٍ  وَّكَا نَ  عَرْشُهٗ  عَلَى  الْمَآءِ  لِيَبْلُوَكُمْ  اَيُّكُمْ  اَحْسَنُ  عَمَلًا  ۗ وَلَئِنْ  قُلْتَ  اِنَّكُمْ  مَّبْعُوْثُوْنَ  مِنْۢ  بَعْدِ  الْمَوْتِ  لَيَـقُوْلَنَّ  الَّذِيْنَ  كَفَرُوْۤا  اِنْ  هٰذَاۤ  اِلَّا  سِحْرٌ  مُّبِيْنٌ
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati, niscaya orang kafir itu akan berkata, Ini hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Hud 11: Ayat 7)
Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Dan di antara kekuasaan Allah lainnya adalah bahwa Dialah yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya dalam enam masa melalui proses penciptaan yang rapi dan teratur. Dan sebelum itu Dia menciptakan ‘Arsy sebagai tempat bersemayam-Nya di atas air. Demikian itulah, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya, bekerja dengan jujur, ikhlas dan beraktivitas untuk kemaslahatan umat. Mereka yang berbuat kebajikan akan mendapat imbalan pahala, sedang mereka yang berbuat kejahatan akan mendapatkan siksa. Jika engkau wahai Nabi Muhammad, berkata kepada penduduk Mekah, “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari Kiamat nanti setelah mati untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kalian ketika di dunia,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Apa yang kamu katakan ini hanyalah sihir yang nyata untuk menipu dan menakut-nakuti agar kami mudah percaya.”
وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ…
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyām)…”
Kata “ayyām” dalam bahasa Arab umumnya berarti “hari”, namun dalam konteks Al-Qur’an, kata ini tidak selalu berarti 24 jam seperti yang kita pahami sekarang. Kata itu bisa berarti masa, periode waktu, atau tahapan-tahapan tertentu dalam proses penciptaan, yang hanya Allah yang mengetahui lamanya secara hakiki.
Penafsiran para ulama:
  1. Bukan 6 hari biasa: Banyak ulama sepakat bahwa “enam masa” di sini bukan berarti enam hari dari waktu manusia (siang dan malam 24 jam), karena penciptaan langit dan bumi terjadi sebelum diciptakannya sistem siang-malam (matahari-bumi belum ada secara lengkap).
  2. Tahapan Penciptaan: Enam masa ini dipahami sebagai tahapan-tahapan dalam penciptaan langit dan bumi. Allah menciptakan segala sesuatu secara bertahap sebagai bentuk kehendak dan kebijaksanaan-Nya, bukan karena Allah membutuhkan waktu, tetapi untuk menunjukkan sistem dan hikmah dalam penciptaan.
  3. Waktu yang hanya Allah tahu: Dalam tafsir Imam al-Qurtubi, disebutkan bahwa makna dari enam hari atau masa itu adalah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah, dan tidak wajib dimaknai seperti hari-hari kita.
  4. Tidak bertentangan dengan sains: Ulama kontemporer menjelaskan bahwa konsep “enam masa” ini tidak bertentangan dengan teori ilmiah mengenai pembentukan alam semesta, selama kita tidak menganggap “masa” itu literal 6 x 24 jam. Ini menegaskan Al-Qur’an bersifat metafisik dan tidak selalu merinci secara fisik-empiris.
“Enam masa” dalam QS Hud:7 adalah kiasan terhadap proses penciptaan yang bertahap, dan menunjukkan bahwa Allah menciptakan alam dengan rencana, kekuasaan, dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna, bukan serta-merta atau kebetulan.
Allah Maha Kuasa, tentu bisa menciptakan langit dan bumi dalam sekejap. Namun, Allah memilih menciptakan alam semesta dalam enam masa, bukan karena keterbatasan,
  • Ada hikmah dan pelajaran di balik tahapan dan proses.
  • Ini memberi isyarat bahwa proses bertahap adalah bagian dari sunnatullah (hukum Allah di alam semesta).
Ini bisa dipahami sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap proses yang mengandung hikmah, kesabaran, dan pembelajaran.
Tujuan: Ujian Amal
”… agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya.”
Ini menunjukkan bahwa:
  • Kehidupan di dunia adalah tempat ujian.
  • Ujian ini bukan hanya soal hasil, tapi bagaimana proses kita menjalaninya: keikhlasan, kesabaran, dan kualitas amal.
Doa supaya semangat untuk menjadi “yang paling baik amalnya”, bukan yang paling banyak, tapi paling ikhlas dan benar. Doa ini juga menunjukkan pengakuan bahwa hidup adalah ujian, dan memohon keteguhan hingga akhir. Doa Memohon Keikhlasan dan Amal Terbaik (Terinspirasi dari QS Hûd: 7)
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يُحْسِنُ عَمَلَهُ فِي كُلِّ حَالٍ، وَارْزُقْنِي الإِخْلَاصَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَثَبِّتْنِي فِي طَرِيقِ الْحَقِّ حَتَّى أَلْقَاكَ وَأَنْتَ عَنِّي رَاضٍ.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang memperbaiki amalnya dalam setiap keadaan. Karuniakan kepadaku keikhlasan dalam sembunyi maupun terang-terangan, dan tetapkanlah aku di jalan kebenaran hingga aku bertemu dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”