أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَمَّاۤ اٰتٰٮهُمَا صَا لِحًـا جَعَلَا لَهٗ شُرَكَآءَ فِيْمَاۤ اٰتٰٮهُمَا ۚ فَتَعٰلَى اللّٰهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Maka, setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu. Maka, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 190)
Menisbatkan anak kepada berhala dengan memakai nama Abdul Uzza, ‘Abdul Manat dan Abdusy Syam
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Maka setelah Dia, yakni Allah memberi keduanya seorang anak yang sempurna, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu, yakni mereka tidak bersyukur. Orang-orang musyrik menjadikan sekutu bagi Tuhan dalam menciptakan anak itu, yaitu bahwa kelahiran anak mereka itu bukan semata-mata karunia Allah, tetapi juga atas berkat berhala-berhala yang mereka sembah. Karena itulah mereka menamakan anak-anak mereka dengan ‘Abdul ‘Uzza, ‘Abdul Manat, Abdusy Syam dan sebagainya. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan
Uzza, Manat, dan Sham adalah nama-nama berhala yang disembah dalam budaya pra-Islam di Arab.
- Uzza. Dalam tradisi Arab pra-Islam, Uzza adalah salah satu dewa yang dianggap sebagai dewa kesuburan dan kecantikan. Berhala Uzza seringkali dihubungkan dengan wanita dan kesuburan.
- Manat. Manat adalah dewa takdir dan kematian dalam kepercayaan Arab kuno. Manat sering dianggap sebagai pengatur nasib dan waktu.
- Sham (atau Al-Lat). Sham atau Al-Lat adalah dewi yang disembah dalam budaya pra-Islam, terutama di daerah Hijaz dan sekitarnya. Dia dianggap sebagai dewi yang melindungi dan memberikan berkah.
Ketiga nama ini merujuk pada berhala yang disembah oleh masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam, yang mengajarkan pemujaan hanya kepada Allah dan menolak penyembahan berhala. Dari satu zaman ke zaman berikutnya, selalu ada kebiasaan yang sulit melepaskan dengan kepercayaan nenek moyang.
Kesulitan melepaskan keterikatan dengan kepercayaan nenek moyang seringkali disebabkan oleh beberapa faktor;
- Tradisi dan Budaya: Kepercayaan nenek moyang seringkali menjadi bagian integral dari tradisi dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Mengubah atau meninggalkan kepercayaan ini dapat terasa seperti mengkhianati warisan budaya dan identitas.
- Kehilangan Identitas: Kepercayaan nenek moyang seringkali membentuk identitas pribadi dan komunitas. Melepaskan kepercayaan ini bisa menyebabkan seseorang merasa kehilangan jati diri atau arah hidup.
- Tekanan Sosial: Tekanan dari keluarga, komunitas, atau masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan lama dapat membuat individu merasa tertekan atau takut untuk berubah.
- Kebiasaan dan Kenyamanan: Kepercayaan yang telah lama dianut seringkali menjadi kebiasaan yang nyaman. Perubahan memerlukan adaptasi dan seringkali dianggap menantang atau mengganggu kenyamanan.
- Emosi dan Keyakinan: Kepercayaan seringkali disertai dengan emosi mendalam dan keyakinan yang kuat. Meninggalkan kepercayaan ini memerlukan proses emosional dan intelektual yang kompleks.
- Kurangnya Pengetahuan atau Pemahaman: Jika seseorang tidak memahami atau tidak terpapar dengan informasi atau argumen baru yang menantang kepercayaan lama, mereka mungkin merasa kesulitan untuk berubah.
Ya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, teguhkanlah akidah kami dan kuatkanlah iman kami dalam Tauhid kepada-Mu. Jauhkanlah kami dari segala bentuk kesyirikan dan ketergantungan kepada selain-Mu. Berikanlah kami kekuatan untuk selalu bergantung hanya kepada-Mu dan menjaga hati kami dari keraguan. Bimbinglah kami untuk selalu berada di jalan yang benar dan istiqamah dalam ibadah. Semoga kami selalu merasa dekat dengan-Mu dan diberkahi dengan keimanan yang kokoh. Amin.