بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
فَكَفٰى بِا للّٰهِ شَهِيْدًاۢ بَيْنَـنَا وَبَيْنَكُمْ اِنْ كُنَّا عَنْ عِبَا دَتِكُمْ لَغٰفِلِيْنَ
“Maka cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu sebab kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami).” (QS. Yunus 10: Ayat 29)
Berhala-berhala itu berlepas diri dari mereka dan mengatakan tidak tahu menahu akan perbuatan mereka
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa berhala-berhala itu memberi pernyataan, sedangkan Allah cukup menjadi saksi antara berhala-berhala dengan penyembah-penyembahnya. Pada saat itulah berhala-berhala itu berlepas diri dari mereka dan mengatakan tidak tahu menahu akan perbuatan mereka. Pada prinsipnya mereka yang menyekutukan Allah itu akan disiksa, karena mereka telah melakukan kesalahan besar. Mereka telah menyembah sesuatu yang tidak berhak disembah padahal mereka mengerti bahwa mereka dan berhala-berhala yang mereka sembah itu diciptakan Allah. Maka seharusnya Allah-lah yang patut disembah, karena Dia Zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi terhadap seluruh makhluk-Nya dan Dia berkuasa pula untuk mendatangkan manfaat dan kemudaratan apabila Dia menghendaki
Hal yang bisa ditadaburi dari QS Yunus ayat 29:
1. Kesaksian Allah adalah kebenaran mutlak; Ayat ini menunjukkan bahwa di hari kiamat, Allah sendiri yang menjadi saksi atas segala sesuatu, dan tidak ada yang bisa berdusta atau bersembunyi dari-Nya.
2. Sesembahan selain Allah berlepas diri; Yang disembah selain Allah, seperti berhala atau tokoh yang didewakan — akan menyangkal keterlibatannya dalam kesesatan manusia. Ini memperkuat peringatan agar tidak mempersekutukan Allah.
3. Syirik membawa kehancuran di akhirat; Orang-orang musyrik akan merasa tertipu dan sendiri, karena sesembahan mereka tidak bisa menolong, bahkan tidak mengakui mereka.
4. Keadilan Allah sempurna; Allah tidak menzalimi siapa pun. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya, dengan keadilan yang sempurna dan saksi yang paling adil: Allah sendiri.
5. Perlu hati-hati dalam mengikuti sesuatu atau seseorang; Ayat ini mengajarkan untuk tidak mengikuti sesuatu secara membabi buta, karena di akhirat nanti tidak ada yang bisa menjadi pembela kecuali Allah.
Nabi Muhammad ﷺ bisa menjadi pembela (syafaat) bagi umatnya, namun tetap atas izin dan kehendak Allah.
Syafaat hanya terjadi dengan izin Allah
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS Al-Baqarah: 255 – Ayat Kursi)
Nabi Muhammad ﷺ tidak bisa memberi syafaat atas kehendaknya sendiri, melainkan atas izin dari Allah.
“Ya Allah, jadikanlah Engkau sebagai saksi yang membela kami, bukan yang menuntut kami. Selamatkanlah kami dari syirik dan para pelakunya. Karuniakan kepada kami tauhid yang murni hingga kami bertemu dengan-Mu, dan berilah kami taufik untuk meraih syafaat Nabi-Mu Muhammad ﷺ.”