Pengertian Iman dalam QS An-Nisa Ayat 152

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَا لَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  بِا للّٰهِ  وَرُسُلِهٖ  وَلَمْ  يُفَرِّقُوْا  بَيْنَ  اَحَدٍ  مِّنْهُمْ  اُولٰٓئِكَ  سَوْفَ  يُؤْتِيْهِمْ  اُجُوْرَهُمْ   ۗ وَكَا نَ  اللّٰهُ  غَفُوْرًا  رَّحِيْمًا

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka (para rasul), kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 152)

Dalam tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat An-Nisa Ayat 152 menjelaskan adapun orang-orang yang beriman dengan sesungguhnya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, para rasul-rasul itu, kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada mereka sesuai dengan amalnya. Allah maha pengampun terhadap dosa-dosa hamba-Nya, lagi maha penyayang dengan mencurahkan rahmat-Nya yang tidak terkira kepada orang-orang yang beriman.

وَا لَّذِيْنَ  يُؤْمِنُوْنَ  بِمَاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْكَ  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  مِنْ  قَبْلِكَ   ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ  هُمْ  يُوْقِنُوْنَ
“dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4)

وَكَذٰلِكَ  نُرِ يْۤ  اِبْرٰهِيْمَ  مَلَـكُوْتَ  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  وَلِيَكُوْنَ  مِنَ  الْمُوْقِـنِيْنَ
“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 75)

Dari kedua surat dan ayat dalam Al-Qur’an tersebut, disebutkan kata yaqin serta tashdiq yang berarti amalan hati. Iman dapat diartikan sebagai ucapan hati yang berada di dalam hati dan terbentuk melalui keyakinan di dalam hati.

Selain menurut Al-Qur’an, beberapa ulama juga turut memberikan pendapatnya mengenai definisi dari iman. Beberapa ulama terkenal seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad hingga Imam Bukhari turut mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :

  • Menurut Imam Syafi’i, iman seorang muslim meliputi perkataan serta perbuatannya. Iman dapat bertambah maupun berkurang. Bertambahnya iman seseorang disebabkan oleh ketaatan pada Allah, sedangkan berkurangnya iman seseorang disebabkan oleh kemaksiatan.
  • Imam Ahmad memiliki pendapat yang tidak jauh berbeda dengan Imam Syafi’i, Imam Ahmad mengemukakan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah karena seseorang melaksanakan amalan tertentu dan berkurang karena orang tersebut meninggalkan amalan.
  • Kemudian, Imam Bukhari pun menambahkan dari kedua ulama tersebut, Imam Bukhari mengatakan bahwa setelah bertemu dengan banyak ulama dari berbagai penjuru negeri, ia melihat bahwa ulama mengemukakan iman adalah perkatan serta perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang.

Tidak hanya pengertian iman saja, iman juga memiliki tingkatan. Secara umum tingkat iman di bagi menjadi lima yaitu pertama muslim, kedua mukmin, ketiga muhsin, keempat mukhlis, dan yang kelima muttaqin.

  1. Muslim : adalah semua orang yang mengaku Islam, dengan percaya bahwa hanya Allah Tuhan yang berkuasa atas semesta alam. kadar iman yang pertama ini termasuk tingkat iman yang terendah. Hal ini dikarenakan hanya sebatas pada pengakuan bahwa Allah SWT ialah tuhan yang ia percayai sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, seorang hamba dinilai belum memiliki perbedaan dengan iblis, karena iblis juga meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mu’min : adalah orang beriman yang mempelajari syari’at Islam untuk meningkatkan wawasan dalam beragama Islam. Dengan mempelajari (pengkajian) syari’at tersebut, ia memiliki peningkatan pada wawasan mengenai agama Islam.
  3. Muhsin : adalah orang yang memiliki tingkat keimanan yang dapat memperbaiki segala perbuatannya agar menjadi lebih baik berdasarkan kitab suci dalam Islam dan hadits.
  4. Mukhlis : adalah orang yang ikhlas dalam beribadah, dan hanya mengabdikan hidup kepada Allah. Pada tingkatan ini, seorang hamba tersebut segala hal yang dilakukannya hanya untuk Allah.
  5. Muttaqin : adalah orang yang selalu bertakwa dan tunduk pada Allah SWT serta menjauhi segala larangan – larangannya. Tingkat keimanan inilah yang merupakan tingkat keimanan yang paling tinggi.

Semoga kita dapat menjadi seorang muslim yang lebih baik lagi bukan hanya Iman kita sekedar mengakui Allah SWT sebagai Tuhan kita dengan lisan saja, melainkan kita dapat mempelajari syari’at agama Islam itu sendiri, kemudian semoga kita menjadi hamba Allah yang senantiasa dapat memperbaiki segala perbuatan agar menjadi lebih baik, serta semoga kita termasuk hamba – hamba Allah yang ikhlas dalam beribadah, hanya mengabdikan hidup kepada Allah, dan dapat selalu bertakwa kepada Allah SWT serta dapat menjauhi segala larangan – larangannya. Dengan begitu kita akan menemukan makna iman yang sesungguhnya