Pertemuan orang tua siswa al masoem (4)

Pentingnya Pendidikan Moral dan Budaya Malu di Pesantren

Krisis budaya moral dan budaya malu di lingkungan pendidikan baik itu pesantren dan sekolah memang menjadi sebuah borok yang harus mulai ditanggulangi. Bagaimana tidak, di era globalisasi ini banyak sekali siswa yang sudah tidak punya malu lagi untuk membentak guru, beberapa diantaranya malah menjadikan teguran guru sebagai cemoohan, bahkan simbol seorang guru seakan tidak ada harga dirinya lagi. Krisis moral ini memang tidak bisa dianggap sepele, karena mau bagaimanapun ini bukan tugas lembaga sekolah saja tapi juga tugas semua orang baik itu lembaga pendidikan, keluarga termasuk orang tua dan masyarakat sekitar. 

Pendidikan moral terdiri dari 2 istilah yaitu pendidikan dan moral itu sendiri. Yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan olehnya. Sedangkan pengertian Moral adalah sesuatu yang abstrak, tidak berwujud tetapi sangat berperan dalam kehidupan manusia. Dengan demikian maksud dari pendidikan moral adalah usaha nyata dari sebuah lembaga dan kelompok masyarakat untuk membentuk moralitas siswa dan santri agar menjadi generasi yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Sedangkan pengertian budaya malu adalah suatu nilai tradisional yang dikembangkan masyarakat untuk mengatur hubungan interaksi di antara anggota keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Didunia pendidikan budaya malu berbeda dengan siswa pemalu. Budaya malu ini lebih kepada tuntutan siswa dan santri agar mereka tidak melanggar norma dan menjadi siswa yang normal, tidak berontak dan menurut dengan kurikulum dan peraturan yang berlaku di sekolah. Sedangkan pemalu lebih kepada sifat seorang siswa yang memang membatasi diri agar tidak bersosialisasi dengan orang lain. Budaya malu di Lembaga pesantren siswa Al Ma’soem ini diterapkan menjadi beberapa hal yang memang harus diikuti semua orang baik dari siswa, santri dan pengurus serta semua civitas Yayasan termasuk guru, wali kelas, wali santri dan karyawan Yayasan Al Ma’soem Bandung. Ada pula 6 budaya malu yang berlaku di Al Masoem seperti : 

  1. Malu karena datang terlambat dan pulang cepat
  2. Malu karena melihat rekan sibuk melakukan aktivitas
  3. Malu karena tidak berprestasi
  4. Malu karena tidak dapat mengerjakan tugas tepat waktu
  5. Malu karena tidak mampu menjaga kebersihan lingkungan
  6. Malu karena tidak bisa melanggar peraturan

Budaya malu ini terpampang jelas di kantor pusat Al Masoem untuk memotivasi karyawan Al Masoem dan juga diberlakukan di sekolah sebagai bagian dari kurikulum Al Masoem dimana untuk meningkatkan kualitas peserta didik agar sesuai dengan visi dan misi Al Masoem yaitu membentuk generasi yang Cageur Bageur Pinter. 

Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya krisis moral dan hilangnya budaya malu pada peserta didik diantaranya adalah : 

  • Lingkungan
  • Acara televisi yang kurang mendidik
  • Kurangnya peran agama

Lingkungan

Lingkungan menjadi salah satu faktor utama kurangnya moral dan krisisnya budaya malu pada peserta didik. Lingkungan yang dimaksud ini adalah lingkungan rumah atau keluarga, Masyarakat dan juga sekolah. Rumah yang kami maksud adalah pola asuh orang tua terhadap anak yang dimana potret pola asuh orang tua terhadap anak era globalisasi ini lebih mementingkan anak untuk diam dengan memberikan smartphone di saat orang tua sibuk dengan kegiatan lain. Ini menjadi kebiasaan buruk yang paling parah lagi ketika orang tua tidak dapat memfilter tontonan anak yang menyebabkan anak diusia dini yang kurang paham dan belum waktunya untuk memahami hal hal yang aneh akan terbiasa dan membuat moral anak menjadi hancur. Begitu juga lingkungan masyarakat dan sekolah, anak yang tinggal dilingkungan yang kurang baik juga dapat mempengaruhi anak untuk bermoral dan beretika buruk, bahkan mereka akan terang terangan melakukan sesuatu hal yang memang dilarang oleh agama.

Acara televisi yang kurang mendidik

Tontonan televisi juga menjadi faktornya kenapa moral dan budaya malu pada anak hilang, coba saja bayangkan mereka yang (maaf) lelaki berpakaian seperti wanita berjoget joget di televisi diwaktu yang memang khusus untuk berkumpulnya keluarga, seperti pada ba’da magrib hingga jam 8 malam. Orang tua mungkin menganggap itu adalah sarana healing di tengah konflik dengan pekerjaan yang memang membuat rumit, tapi bagi anak itu merupakan sebuah ajang percontohan. Bisa jadi mereka meniru dan terinspirasi dengan tayangan seperti itu, apakah itu baik? jawabannya tidak ! Sinetron yang kurang mendidik seperti pertengkaran antar remaja, siswa menggunakan motor sambil tidak pakai helm, pacaran dan lain sebagainya merupakan borok besar acara televisi negara kita, maka tidak aneh jika moral dan budaya malu anak didik kita sangat minim.

Kurangnya peran agama

Pendidikan moral yang paling baik sebenarnya terdapat dalam agama, karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan dari luar, dan keyakinan tersebut ditanamkan sejak kecil yang dilanjutkan hingga remaja dan dewasa. Dan pendidikan agama ini bisa peserta didik dapatkan dari pendidikan pesantren, sekolah agama, boarding school ataupun dengan mengaji setiap sore atau magrib di sekitar rumah.

Implementasi Pendidikan moral dan budaya malu di Al Masoem

Implementasi Pendidikan moral dan budaya malu di Al Masoem ini dilakukan dengan beberapa cara seperti : 

  • Metode pembelajaran dan menjadikan guru sebagai panutan
  • Kesantrian dan Keputrian sebagai sarana pengembangan budaya malu santri dan siswa
  • Pelarangan santri untuk menonton acara televisi di pesantren

Metode pembelajaran dan menjadikan guru sebagai panutan

metode pembelajaran yang memang mengedepankan percontohan dari karyawan dan guru yang selalu bekerja secara profesional demi menjadikan peserta didik sebagai objek yang mengikuti jejak guru mereka, karena mau bagaimanapun guru adalah contoh teladan dari seorang siswa bayangkan saja jika guru yang mengajar guru yang urakan, berkata kasar dan selalu melakukan tindakan fisik apa yang akan terjadi pada peserta didiknya?

Kesantrian dan Keputrian sebagai sarana pengembangan budaya malu santri dan siswa

Kesantrian dan keputrian merupakan sebuah sarana dimana guru mengisi untuk memberikan edukasi kepada siswa tentang pentingya menjaga diri dan memiliki rasa malu siswa terutama siswi dan santriwati. Karena lucunya, bukan siswa yang kadang malu untuk mendekati lawan jenisnya, di era globalisasi ini malah siswi yang banyak berperan aktif dan kreatif dalam mendekati lawan jenisnya. Maka dari itu setiap jumat siang ketika siswa melakukan shalat jumat, santri diberikan edukasi tentang menjaga diri dan bersifat layaknya seorang siswi muslimah.

Pelarangan santri untuk menonton acara televisi di pesantren

Dari dulu hingga saat ini Al Ma’soem selalu melarang santri untuk menonton televisi, pernah beberapa kali kami juga memberikan fasilitas televisi namun yang disetel adalah acara berita dan acara lainnya yang membuat santri jenuh dengan tontonan seperti itu, tapi itu bagus karena agar santri tidak terjerumus dengan tayangan tayangan yang kurang mendidik.