Pentingnya Belajar Mendengar Di Lingkungan Sekolah

Pentingnya Belajar Mendengarkan di Lingkungan Sekolah

Pernahkan kalian bertanya, mengapa manusia memiliki satu mulut dan dua telinga? Salah satu karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’alla ini bukanlah hadir tanpa alasan. Kita diajak untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, sebagaimana yang dilakukan oleh siswa yang belajar di lingkungan sekolah.

Para siswa akan menyerap berbagai ilmu yang disampaikan oleh guru. Hal yang lumrah, namun sebenarnya punya makna yang lebih dalam. Mendengar dan menyampaikan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam komunikasi, namun sayang kita tidak diajarkan secara spesifik untuk hal itu. Maka dari itu, disini akan dibahas pentingnya belajar mendengar bagi siswa.

Pentingnya Belajar Mendengar Di Lingkungan Sekolah

Belajar mendengarkan mungkin masih asing di telinga kita sebagai pelajar. Setidaknya sebagai penulis, belum pernah diajarkan hal ini secara langsung atau menjadi mata pelajaran khusus. Semuanya kembali pada mata pelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Kita terbiasa untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, tetapi pada saat yang sama ini menjadi aktivitas rutin yang membosankan. Siswa belum sepenuhnya paham makna secara utuh dari kegiatan mendengarkan ini. Siswa akan beranggapan bahwa apa yang diajarkan oleh guru tidak semuanya baik untuk dirinya, namun demi nilai maka Ia akan mendorong dirinya untuk melakukan hal tersebut.

Yang bisa digali dari hal ini adalah bahwa siswa belum memahami sepenuhnya makna dari mendengarkan yang baik. Ada istilah yang disebut budaya mendengarkan, dimana ini adalah sebuah kebiasaan menjadi pendengar yang baik. Di lingkungan sekolah, menjadi pendengar yang baik dapat diterapkan di kelas atau kegiatan sekolah lainnya.

Di kelas, siswa dapat mendengarkan secara seksama penjelasan dari guru dan mencatat hal-hal penting yang mungkin saja akan menjadi bahan ujian. Ini termasuk pula mendengarkan presentasi teman yang sedang membahas sesuatu di depan kelas. Ketika memasuki sesi tanya jawab, siswa yang mendengarkan dapat menyampaikan pertanyaan atau tanggapan berdasarkan apa yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Di kegiatan sekolah lain, misalnya kegiatan upacara sekolah atau diseminasi di Yayasan Al Ma’soem, para siswa akan mendengarkan ceramah dari guru mengenai topik-topik tertentu. Mereka diharapkan dapat menyerap pesan-pesan yang disampaikan oleh guru.

Budaya mendengar juga dapat diterapkan dalam hubungan pertemanan di sekolah. Ketika melakukan percakapan, pasti ada pihak yang berbicara dan pihak yang mendengar. Pada umumnya setiap anak suka untuk diajak berbicara, namun tidak sedikit pula yang suka mendengarkan apa yang diucapkan oleh temannya. Wujud dari menjadi pendengar yang baik kepada teman adalah dengan mendengarkan apa yang diucapkan oleh teman dengan seksama hingga Ia selesai menyampaikan segalanya.

Pendengar hanya cukup merespon sekadarnya dan tanpa berusaha untuk memberikan masukan. Ini yang terkadang masih belum sepenuhnya diterapkan bagi sebagian orang, namun ketika dilakukan mampu mewujudkan rasa kedekatan antar keduanya. Itulah pentingnya sifat empati yang sangat penting dalam berkehidupan kita, baik itu di sekolah maupun di masyarakat.

Sifat empati adalah kemampuan seseorang dalam memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Ketika kita menerapkan sifat empati, maka kita akan berusaha melihat dari sudut pandang orang lain dan membayangkan bisa berada di posisi mereka.

Menjadi pendengar yang baik pun secara tidak langsung melatih rasa empati kita, dimana kita akan belajar untuk menempatkan diri pada posisi si pembicara, misalnya guru, yang telah mencurahkan waktunya untuk mengajarkan topik pelajaran kepada murid-muridnya. Jadi siswa yang memiliki rasa empati akan belajar dengan giat dan juga memberikan rasa hormat kepada guru tersebut.

Pada akhirnya, mendengar menjadi pintu awal untuk mempelajari hal baru, khususnya bagi siswa sekolah yang masih haus akan ilmu baru. Pentingnya belajar mendengar bagi siswa dapat diwujudkan sedari dini di sekolah, dimana perlu dibangun rasa kepercayaan bersama antara guru dan murid untuk mau mendengar dan menerapkan apa yang didengar. S

 

 

Penulis: Gumilar Ganda