Pesantren siswa Al Masoem

Pengembangan Kapasitas Guru Melalui Implementasi Pendidikan Karakter

Penulis : Dr. Rois Abdul Fatah, S.T.M.M

Pentingnya kapasitas guru dalam penyelenggaraan pendidikan karakter adalah hal keniscayaan, guru adalah agen moral bagi siswa selain itu juga guru bertanggung jawab untuk mengajarkan argumentasi etis tentang tindakan  anak-anak yang benar dan yang bagi tercapainya v. Untuk itu peran guru dalam pendidikan karakter bertindak sebagai pengasuh, teladan dan pembimbing, memperlakukan siswa dengan cinta dan menghormati, memberi contoh yang baik, mendukung perilaku prososial dan mengoreksi tindakan yang tidak sesuai. Guru menciptakan komunitas moral di sekolah, membantu siswa menghormati dan peduli satu sama lain dan merasa dihargai dalam kelompok, maupun lingkungan kelas tempat siswa terlibat dalam pengambilan keputusan. Guru sebagai model mempraktekkan disiplin moral, menggunakan penciptaan dan penerapan aturan sebagai kesempatan untuk mendorong penalaran moral, pengendalian diri dan rasa hormat kepada orang lain, dan mengajarkan nilai melalui kurikulum dengan menggunakan mata pelajaran akademik sebagai wahana untuk menguji nilai-nilai etika.

Pendidikan karakter adalah tentang pemodelan baik melalui interaksi sosial secara langsung maupun melalui proses saluran informasi. Salah satu model yang dikembangkan Al -Ma’soem dalam adaptasinya terhadap perkembangan zaman di era 4.0 pendidikan karakter adalah yaitu: a) model pemrosesan informasi (information processing models) mengenai karakter, moral dan etika, b) model personal (personal models), c) model sosial (social models), dan d) model sistem perilaku dalam pembelajaran (behavioral models of teaching). 

Dalam model informasi (information processing models), Guru memperkenalkan kepada siswa, wali murid maupun rekan kerja dalam pengenalan dan implementasi mengenai karakter, moral dan etika yang terbentuk melalui stimulus respon terhadap materi dan nilai-nilai etika. Guru membekali siswa dengan sejumlah kemampuan (literacy ICT) agar mampu menggunakan alat ICT sesuai  kebutuhan informasi, mengetahui cara mengumpulkan tentang pendidikan karakter melalui internet, pengorganisasian informasi ke dalam skema klasifikasi, mengevaluasi informasi, dan menjadikannya sebagai dasar untuk menyusun argumentasi tindakan moral bahkan siswa dapat belajar untuk menerapkan dalam perilaku sehari-hari serta menyampaikan ilmu pengetahuan tentang pendidikan karakter kepada siswa lain.

Model pembelajaran sosial dapat digunakan meskipun dengan beberapa keterbatasan dan mengacu pada optimalisasi fungsi media pembelajaran berbasis internet. Asumsi pembelajaran dirumuskan  berdasarkan interaksi guru dengan siswa, wali murid baik secara langsung maupun dimediasi oleh internet dengan situasi sosial virtual. Asumsi pembelajaran sosial yaitu perilaku karakter dan lingkungan saling mempengaruhi.

Guru memperkenalkan melalui media internet mengenai ciri-ciri yang menunjukan konsistensi perilaku yang berkarakter individu, konteks, tujuan, serta memberikan stimulus agar siswa mengkonstruksinya dan memberikan argumentasi logis. Implementasi pendidikan karakter dalam perspektif sosial fokus pada (1) Efek modeling artinya para siswa melakukan peniruan terhadap model perilaku berkarakter yang arahkan untuk dipilih berdasarkan kriteria tertentu oleh guru melalui proses asosiasi-asosiasi misalnya disiplin dengan keberhasilan belajar, komitmen dengan kepercayaan teman2) guru memunculkan efek menghambat (inhibitor) dan menghapus hambatan (disinhibition) agar  perilaku  yang tidak sesuai dengan perilaku model dihambat kemunculannya melalui proses interaktif dan diskusi dengan siswa, tujuannya agar argumentasi untuk tidak meniru model didasarkan pada sejumlah argumentasi moral. Guru mengarahkan siswa agar meniru perilaku berkarakter  yang sesuai  dengan norma dan perilaku bermoral (3) Guru memunculkan agar siswa lebih mudah (efek kemudahan (facilitation effect) untuk meniru dan mempraktekan tingkah laku yang pernah dipelajari agar muncul dan menjadi praktek harian berdasarkan argumentasi moral yang kuat ( moral reasoning).

Seperti halnya pembelajaran di Al Masoem dalam mencetak generasi yang mempunyai karakter, guru-guru dibekali pengetahuan pendidikan karakter hingga karakter yang akan dicapai yaitu karakter cageur, bageur dan pintar terwujud. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa guru-guru di Al Ma’soem kualitasnya tidak dapat diragukan lagi dalam mencetak generasi cageur, bageur, pinter sehingga lahir generasi yang adaptif terhadap perubahan zaman.