Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Kelas baru yang dirasakan oleh peserta didik pada setiap pergantian tahun ajaran menuntut adanya penyesuaian sosial. Bagi siswa yang memiliki kepribadian mudah beradaptasi maka hal ini bukanlah menjadi sebuah masalah. Akan tetapi, berbeda kondisinya pada siswa yang memiliki kecenderungan sulit untuk beradaptasi.
Ada kalanya siswa menjadi cemas dan khawatir tidak mendapat penerimaan yang baik di kelas bersama teman-temannya yang baru. Jika kondisi ini disepelekan, hawatir akan memengaruhi performa peserta didik dalam belajar dan memenuhi setiap tugas perkembangannya.
Para pendidik perlu peka membaca situasi dan kondisi yang terjadi pada seluruh siswanya. Dalam hal ini, pendidik perlu memahami teori tentang pengembangan kelompok sosial. Dengan memahami tahapan pengembangan kelompok, pendidik akan mampu menetapkan strategi dalam melakukan metode pembelajaran di kelas.
Terjadinya sebuah kelompok sosial, dalam konteks ini adalah kelompok siswa di setiap kelasnya, menempuh beberapa tahapan pengembangan sebagai berikut:
Pada tahap ini pembentukan kelompok baru saja dimulai. Anggota kelompok akan lebih berhati-hati dalam berperilaku dan cenderung menjaga citra dirinya. Tingkat interaksi oleh setiap anggota pada tahapan ini masih sangat relatif rendah karena satu sama lain belum memiliki keakraban.
Pada tahap ini masing-masing anggota mulai menemukan ketidakcocokan, baik itu secara pribadi ataupun tujuan bersama. Brainstorming akan sering dilakukan guna mendapatkan mufakat. Biasanya akan ada anggota yang saling bersaing untuk mendapatkan otoritas kepemimpinan dan peran yang dipandang baik oleh kelompoknya.
Tahap struktur mulai menciptakan ritme kelompok yang lebih terpadu dan terorganisasi. Setiap anggota kelompok mulai muncul rasa percaya satu sama lain juga memberikan dukungan dan mampu bekerja sama. Pada tahap ini, kelompok akan menjadi lebih kohesif dan memaklumi kekurangan masing masing anggota.
Kelompok yang sudah lama terbentuk akan lebih banyak melakukan real action. Masing-masing anggota kelompok sudah paham dengan peran yang dimilikinya.
Kelompok akan berpisah seiring dengan waktu yang telah ditentukan oleh sitem yang berlaku. Selain itu, perpisahan kelompok juga terjadi karena adanya stress pada anggota kelompok dan permusuhan yang berulang-ulang.