Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Ketika mendapatkan kritik, sebagian siswa mungkin langsung merasa tidak nyaman, malu, atau menganggap dirinya sedang disalahkan. Perasaan tersebut sebenarnya cukup wajar karena pada usia SMP siswa sedang membangun rasa percaya diri dan mulai semakin peduli terhadap bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain. Namun, siswa juga perlu memahami bahwa kritik tidak selalu diberikan untuk menjatuhkan. Dalam banyak situasi, kritik dapat menjadi masukan yang membantu seseorang mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki.
Di lingkungan sekolah, kritik dapat muncul dalam berbagai bentuk. Guru mungkin memberikan masukan terhadap tugas yang dikerjakan siswa, teman dapat memberikan pendapat ketika melakukan kerja kelompok, atau pelatih dapat memperbaiki teknik ketika siswa mengikuti kegiatan olahraga. Selama disampaikan dengan cara yang tepat, masukan tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar. Karena itu, kemampuan menerima kritik menjadi salah satu keterampilan yang penting untuk dikembangkan sejak SMP.
Salah satu alasan siswa sulit menerima kritik adalah karena mereka sering menghubungkan kritik terhadap hasil pekerjaan dengan penilaian terhadap dirinya sendiri. Ketika guru mengatakan bahwa sebuah tugas masih memiliki kekurangan, siswa dapat merasa bahwa dirinya tidak pintar. Padahal, yang sedang diperbaiki adalah hasil pekerjaan, bukan nilai dirinya sebagai seorang individu.
Perasaan tersebut dapat semakin kuat jika siswa sudah berusaha keras. Setelah menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas, mendengar bahwa masih ada kesalahan tentu dapat terasa mengecewakan. Namun, usaha dan evaluasi sebenarnya dapat berjalan bersamaan. Siswa tetap dapat menghargai usaha yang sudah dilakukan sambil menerima bahwa masih terdapat bagian yang perlu diperbaiki.
Beberapa respons yang mungkin muncul ketika siswa menerima kritik antara lain:
Respons tersebut dapat perlahan diubah melalui kebiasaan memahami kritik sebagai bagian dari proses perkembangan.
Tidak semua kesalahan dapat disadari oleh orang yang melakukannya. Ketika seseorang sudah terbiasa dengan cara tertentu, ia mungkin tidak melihat bahwa ada bagian yang sebenarnya dapat diperbaiki. Orang lain dapat membantu menunjukkan bagian tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Misalnya, seorang siswa melakukan presentasi dengan materi yang sudah lengkap, tetapi berbicara terlalu cepat sehingga sebagian pendengar kesulitan mengikuti penjelasan. Jika guru memberikan masukan mengenai kecepatan berbicara, siswa dapat menggunakan informasi tersebut untuk memperbaiki presentasi berikutnya.
Kritik seperti ini bukan berarti presentasinya gagal. Justru, siswa sudah memiliki dasar yang baik dan hanya perlu memperbaiki aspek tertentu. Dengan memahami perbedaan tersebut, siswa dapat melihat kritik secara lebih objektif.
Belajar menerima kritik bukan berarti siswa harus menerima semua pendapat tanpa mempertimbangkannya. Siswa juga perlu belajar menilai apakah sebuah kritik memang relevan dengan situasi yang dihadapi. Hal ini penting agar kemampuan menerima masukan tetap disertai kemampuan berpikir kritis.
Jika guru memberikan koreksi berdasarkan tugas atau proses pembelajaran, siswa dapat mempertimbangkan masukan tersebut secara serius. Namun, jika mendapatkan komentar dari teman, siswa dapat melihat apakah komentar tersebut disampaikan berdasarkan fakta atau hanya berdasarkan pendapat pribadi.
Siswa dapat belajar mengajukan pertanyaan seperti:
Dengan cara tersebut, siswa tidak sekadar menerima atau menolak kritik, tetapi belajar mengolahnya.
Cara kritik disampaikan sangat berpengaruh terhadap bagaimana siswa menerimanya. Masukan yang jelas, spesifik, dan berfokus pada pekerjaan dapat lebih mudah dipahami dibandingkan komentar yang menyerang pribadi siswa. Guru dapat menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki sekaligus memberikan gambaran mengenai langkah perbaikannya.
Misalnya, daripada hanya mengatakan bahwa tugas siswa “kurang bagus”, guru dapat menunjukkan bagian yang belum lengkap dan menjelaskan apa yang perlu ditambahkan. Siswa akhirnya mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki tugas.
Pendekatan seperti ini juga membantu siswa memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari pembelajaran. Guru bukan hanya menjadi orang yang memberikan penilaian, tetapi juga pendamping yang membantu siswa mengetahui bagaimana mereka dapat berkembang.
Dalam kehidupan sekolah, siswa tidak selalu membutuhkan koreksi hanya mengenai nilai akademik. Mereka juga dapat menghadapi masalah berkaitan dengan kebiasaan, interaksi sosial, tanggung jawab, maupun cara mengikuti kegiatan. Pendampingan wali kelas dapat membantu siswa melihat situasi tersebut secara lebih tenang.
Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, percakapan dengan wali kelas dapat diarahkan pada pemahaman mengenai apa yang terjadi dan apa yang dapat dilakukan setelahnya. Dengan begitu, siswa tidak hanya mendengar bahwa tindakannya kurang tepat, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami alasan di balik masukan tersebut.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan pentingnya pendidikan karakter. Siswa tidak hanya diarahkan untuk mengetahui aturan, tetapi juga belajar memahami konsekuensi dari tindakannya dan bagaimana melakukan perbaikan.
Kerja kelompok merupakan salah satu situasi yang memungkinkan siswa mendapatkan banyak masukan. Anggota kelompok dapat memiliki cara kerja yang berbeda sehingga terkadang muncul kritik terhadap pembagian tugas, komunikasi, atau hasil pekerjaan.
Situasi tersebut dapat menjadi latihan penting bagi siswa. Mereka belajar bahwa tidak semua orang akan memiliki pendapat yang sama terhadap cara kerja mereka. Jika menerima masukan dengan terbuka, siswa dapat melihat apakah ada bagian yang memang perlu diperbaiki.
Namun, siswa juga perlu belajar menyampaikan kritik dengan cara yang baik. Kritik seharusnya tidak digunakan untuk mempermalukan teman. Masukan lebih baik diarahkan pada tindakan atau hasil pekerjaan, bukan menyerang karakter seseorang.
Contohnya, “Bagian ini mungkin bisa diperjelas supaya lebih mudah dipahami” jauh lebih membantu daripada “Kamu memang tidak bisa mengerjakan bagian ini.” Dengan demikian, kemampuan menerima kritik perlu berjalan bersama kemampuan memberikan kritik secara bertanggung jawab.
Berbagai kegiatan di sekolah dapat menjadi ruang bagi siswa untuk berlatih menerima masukan. Dalam kegiatan presentasi, misalnya, siswa dapat mendapatkan evaluasi mengenai cara menyampaikan materi. Dalam kegiatan olahraga, siswa dapat menerima koreksi mengenai teknik. Sementara dalam kegiatan seni atau proyek, siswa dapat memperoleh masukan mengenai hasil karya.
SMP Al Ma’soem Bandung memiliki beragam kegiatan yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar di luar pembelajaran kelas. Program seperti Expression Day, English Day, Sains Day, Math Day, Sport Day, Cooking Day, maupun Career Day memiliki karakter aktivitas yang berbeda. Ketika siswa terlibat dalam berbagai kegiatan tersebut, mereka dapat menemukan kemampuan yang sudah dimiliki sekaligus bagian yang masih membutuhkan latihan.
Pengalaman semacam itu dapat membantu siswa memahami bahwa evaluasi bukan hanya terjadi ketika mendapatkan nilai ujian. Masukan dapat muncul dalam berbagai proses dan dapat digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kemampuan.
Siswa dapat mulai membangun kebiasaan sederhana ketika mendapatkan kritik. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mendengarkan sampai selesai. Setelah itu, siswa dapat memastikan bahwa ia memahami maksud kritik sebelum memberikan tanggapan.
Jika kritik tersebut benar, siswa tidak perlu merasa malu untuk mengakuinya. Mengatakan “Baik, saya akan memperbaikinya” menunjukkan bahwa siswa mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Jika belum memahami masukan, siswa dapat bertanya dengan sopan.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika menerima kritik adalah:
Kebiasaan tersebut dapat dilatih sedikit demi sedikit melalui berbagai pengalaman di sekolah.
Siswa juga perlu mengetahui bahwa kritik berbeda dengan ejekan. Kritik seharusnya memberikan masukan yang dapat membantu seseorang memperbaiki sesuatu, sedangkan ejekan dapat bertujuan mempermalukan atau merendahkan. Perbedaan ini penting agar siswa tidak menganggap semua komentar negatif sebagai kritik yang harus diterima.
Jika seorang teman memberikan masukan mengenai kesalahan dalam tugas dengan alasan yang jelas, masukan tersebut dapat dipertimbangkan. Namun, jika seseorang hanya mengejek kemampuan atau kondisi pribadi siswa, hal tersebut bukanlah bentuk kritik yang sehat.
Dalam situasi seperti itu, siswa berhak mencari bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya. Guru, wali kelas, konselor, maupun orang tua dapat membantu jika interaksi sudah berubah menjadi tindakan yang merendahkan atau mengganggu kenyamanan siswa.
Siswa yang takut mendapatkan kritik dapat menjadi enggan mencoba sesuatu yang baru. Mereka mungkin khawatir melakukan kesalahan atau takut mendapatkan komentar dari orang lain. Padahal, proses belajar hampir selalu melibatkan percobaan dan perbaikan.
Ketika siswa memahami bahwa kritik dapat digunakan sebagai informasi, mereka memiliki kesempatan untuk menjadi lebih terbuka terhadap proses tersebut. Kesalahan tidak lagi selalu dipandang sebagai sesuatu yang memalukan, tetapi sebagai bagian yang dapat diperbaiki.
Hal ini juga dapat mendorong siswa untuk lebih berani mencoba kegiatan baru. Mereka mengetahui bahwa hasil pertama tidak harus sempurna. Yang penting adalah kesediaan untuk menerima masukan dan melakukan perbaikan pada kesempatan berikutnya.
Kemampuan menerima kritik merupakan keterampilan yang tidak muncul dalam satu hari. Siswa membutuhkan pengalaman berulang untuk memahami bahwa mendapatkan masukan bukan berarti dirinya gagal. Guru, orang tua, dan lingkungan sekolah dapat membantu menciptakan suasana yang membuat siswa merasa aman untuk melakukan kesalahan sekaligus belajar memperbaikinya.
Pada masa SMP, siswa sedang membangun banyak kebiasaan yang dapat terbawa ke jenjang pendidikan berikutnya. Membiasakan diri mendengarkan masukan, mempertimbangkan kritik, dan melakukan perbaikan dapat membantu mereka menjadi pembelajar yang lebih terbuka.
Kritik yang disampaikan dengan tepat dapat menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap perkembangan siswa. Sebaliknya, kemampuan menerima kritik membuat siswa memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki dirinya tanpa harus merasa bahwa setiap kesalahan merupakan kegagalan. Dari proses tersebut, siswa dapat belajar bahwa berkembang berarti bersedia melihat kekurangan, menerima masukan, dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.