Images (8)

Mengapa Siswa Perlu Belajar Menyusun Pertanyaan Wawancara Sederhana?

Wawancara merupakan salah satu kegiatan yang dapat membantu siswa belajar memperoleh informasi secara langsung dari orang lain. Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya dituntut untuk berbicara, tetapi juga perlu memikirkan informasi apa yang ingin diketahui dan bagaimana cara menanyakannya. Karena itu, kemampuan menyusun pertanyaan wawancara sederhana dapat menjadi keterampilan yang bermanfaat untuk dikembangkan sejak sekolah.

Kegiatan wawancara sebenarnya dekat dengan kehidupan siswa. Mereka dapat melakukan wawancara untuk tugas sekolah, proyek kelompok, kegiatan organisasi, maupun sekadar mencari informasi mengenai suatu profesi atau pengalaman seseorang. Meskipun terlihat sederhana, membuat pertanyaan yang tepat membutuhkan kemampuan memahami topik, menentukan tujuan, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh narasumber.

Mengapa Pertanyaan Perlu Dipersiapkan?

Siswa mungkin pernah memiliki rasa ingin tahu terhadap suatu hal, tetapi bingung bagaimana cara menanyakannya. Dalam wawancara, kondisi seperti ini dapat membuat percakapan berjalan kurang terarah. Pertanyaan yang terlalu umum bisa menghasilkan jawaban yang sangat luas, sedangkan pertanyaan yang terlalu sempit mungkin tidak memberikan informasi yang cukup.

Dengan menyiapkan pertanyaan terlebih dahulu, siswa dapat menentukan informasi utama yang ingin diperoleh. Misalnya, ketika melakukan wawancara dengan seorang guru mengenai kegiatan belajar, siswa dapat menyiapkan pertanyaan tentang pengalaman mengajar, cara membuat pembelajaran menarik, tantangan yang dihadapi, dan saran untuk siswa. Pertanyaan tersebut membuat wawancara memiliki arah yang jelas.

Persiapan juga membuat siswa lebih percaya diri. Mereka tidak harus menghafalkan seluruh pertanyaan, tetapi memiliki panduan yang dapat digunakan selama percakapan. Jika muncul informasi menarik dari jawaban narasumber, siswa bahkan dapat membuat pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban tersebut.

Menentukan Topik Sebelum Membuat Pertanyaan

Langkah pertama adalah menentukan topik wawancara. Topik sebaiknya cukup spesifik agar pertanyaan yang dibuat tidak melebar ke berbagai hal. Siswa dapat memilih topik yang sesuai dengan tugas atau tujuan kegiatan.

Sebagai contoh, topik “dunia pendidikan” masih sangat luas. Topik tersebut dapat dipersempit menjadi “pengalaman guru menggunakan metode belajar kelompok” atau “kebiasaan siswa dalam menjaga kebersihan kelas”. Dengan topik yang lebih spesifik, siswa akan lebih mudah menentukan informasi apa yang perlu ditanyakan.

Setelah menentukan topik, siswa dapat menuliskan beberapa hal yang ingin diketahui. Daftar tersebut belum harus berbentuk pertanyaan. Misalnya, untuk wawancara mengenai kegiatan ekstrakurikuler, siswa dapat menuliskan “alasan mengikuti kegiatan”, “kegiatan latihan”, “manfaat”, dan “tantangan”. Dari daftar tersebut, pertanyaan dapat disusun dengan lebih mudah.

Mengenal Jenis Pertanyaan

Ada berbagai cara untuk membuat pertanyaan wawancara. Salah satunya adalah menggunakan pertanyaan terbuka. Pertanyaan seperti “Bagaimana pengalaman Bapak atau Ibu selama mengajar?” memungkinkan narasumber memberikan jawaban yang lebih luas dibandingkan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”.

Pertanyaan juga dapat diawali dengan beberapa kata tanya, seperti:

  • Apa, untuk mengetahui informasi atau suatu hal.
  • Mengapa, untuk mengetahui alasan.
  • Bagaimana, untuk mengetahui proses, pengalaman, atau cara.
  • Kapan, untuk mengetahui waktu.
  • Di mana, untuk mengetahui lokasi.
  • Siapa, untuk mengetahui pihak yang terlibat.

Penggunaan kata tanya tersebut dapat disesuaikan dengan informasi yang ingin diperoleh. Tidak semua pertanyaan harus menggunakan pola yang sama. Variasi pertanyaan justru dapat membuat wawancara terasa lebih alami dan membantu siswa mendapatkan informasi dari berbagai sisi.

Membuat Pertanyaan yang Mudah Dipahami

Pertanyaan yang baik tidak harus menggunakan kata-kata yang rumit. Justru, pertanyaan yang sederhana dan jelas biasanya lebih mudah dipahami oleh narasumber. Siswa perlu mempertimbangkan usia, latar belakang, serta hubungan mereka dengan orang yang diwawancarai.

Misalnya, daripada menggunakan kalimat yang terlalu panjang, siswa dapat membuat pertanyaan seperti “Apa yang membuat Anda tertarik dengan pekerjaan ini?” atau “Bagaimana kegiatan tersebut dilakukan setiap hari?” Pertanyaan seperti ini langsung menunjukkan informasi yang ingin diketahui.

Siswa juga perlu menghindari terlalu banyak pertanyaan dalam satu kalimat. Jika ingin mengetahui dua hal berbeda, lebih baik membuat dua pertanyaan. Dengan demikian, narasumber dapat memberikan jawaban secara lebih terarah dan siswa lebih mudah mencatat informasi yang diperoleh.

Mengurutkan Pertanyaan agar Wawancara Mengalir

Urutan pertanyaan juga penting. Wawancara dapat dimulai dari pertanyaan yang ringan sebelum masuk ke pertanyaan yang lebih mendalam. Cara ini membantu menciptakan suasana percakapan yang nyaman, terutama jika siswa belum terlalu mengenal narasumber.

Pertanyaan awal dapat berkaitan dengan identitas atau pengalaman umum narasumber. Setelah itu, siswa dapat masuk ke pertanyaan utama sesuai topik. Pada bagian akhir, siswa dapat memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menyampaikan hal lain yang dianggap penting.

Contohnya, wawancara mengenai sebuah profesi dapat dimulai dengan pertanyaan tentang pekerjaan narasumber, kemudian dilanjutkan dengan alasan memilih profesi tersebut, aktivitas sehari-hari, keterampilan yang diperlukan, tantangan pekerjaan, dan saran untuk siswa. Urutan tersebut membuat percakapan terasa lebih terstruktur.

Belajar Mendengarkan Jawaban Narasumber

Menyusun pertanyaan hanyalah salah satu bagian dari wawancara. Siswa juga perlu belajar mendengarkan jawaban dengan baik. Jawaban narasumber dapat memberikan informasi baru yang tidak ada dalam daftar pertanyaan sebelumnya.

Jika narasumber menyebutkan sesuatu yang menarik, siswa dapat mengajukan pertanyaan lanjutan. Misalnya, narasumber mengatakan bahwa pekerjaan tertentu membutuhkan kemampuan beradaptasi. Siswa dapat bertanya, “Contoh kemampuan beradaptasi seperti apa yang paling sering dibutuhkan?” Pertanyaan lanjutan seperti ini dapat membuat hasil wawancara lebih mendalam.

Kemampuan mendengarkan juga menunjukkan penghargaan kepada narasumber. Siswa sebaiknya tidak memotong pembicaraan tanpa alasan. Mereka dapat menunggu jawaban selesai, kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya atau menanggapi informasi yang telah diberikan.

Menghindari Pertanyaan yang Mengarahkan Jawaban

Siswa juga perlu memahami bahwa pertanyaan dapat memengaruhi jawaban narasumber. Pertanyaan yang terlalu mengarahkan dapat membuat narasumber merasa seolah-olah harus memberikan jawaban tertentu.

Sebagai contoh, pertanyaan “Bukankah kegiatan membaca sangat menyenangkan bagi siswa?” sudah mengandung anggapan bahwa membaca pasti menyenangkan. Pertanyaan yang lebih terbuka seperti “Bagaimana menurut Anda pengalaman siswa ketika mengikuti kegiatan membaca?” memberikan ruang bagi narasumber untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

Dengan menggunakan pertanyaan yang terbuka dan tidak menghakimi, siswa dapat memperoleh informasi yang lebih beragam. Mereka juga belajar bahwa tujuan wawancara bukan untuk memaksakan jawaban, melainkan memahami pengalaman atau pandangan narasumber.

Mencatat Informasi dengan Teratur

Ketika wawancara berlangsung, siswa perlu mencatat informasi penting. Catatan tidak harus menuliskan seluruh jawaban kata demi kata. Siswa dapat mencatat kata kunci, fakta utama, contoh, atau pernyataan yang dianggap penting.

Sebelum wawancara dimulai, siswa dapat menyiapkan buku catatan atau perangkat yang memang diperbolehkan digunakan. Mereka juga dapat membuat kolom sederhana berisi nomor pertanyaan dan poin jawaban. Cara tersebut membantu informasi tetap teratur dan mengurangi risiko ada bagian penting yang terlupakan.

Jika kegiatan wawancara dilakukan untuk tugas sekolah, catatan yang rapi akan mempermudah proses menyusun laporan. Siswa dapat melihat kembali jawaban narasumber dan mengelompokkan informasi berdasarkan topik yang dibahas.

Wawancara Melatih Keberanian Berkomunikasi

Bagi sebagian siswa, berbicara langsung dengan orang lain dapat terasa menegangkan. Mereka mungkin takut salah bertanya atau khawatir tidak tahu harus mengatakan apa. Latihan wawancara secara bertahap dapat menjadi kesempatan untuk membangun pengalaman komunikasi.

Siswa dapat memulai dari orang yang sudah mereka kenal, seperti teman, guru, anggota keluarga, atau petugas sekolah. Setelah merasa lebih terbiasa, mereka dapat mencoba mewawancarai narasumber yang memiliki pengalaman berbeda. Setiap kegiatan memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar menyesuaikan cara berkomunikasi.

Selain keberanian berbicara, wawancara juga mengajarkan siswa untuk menghargai orang lain sebagai sumber pengetahuan. Mereka belajar bahwa informasi dapat diperoleh melalui pengalaman seseorang, bukan hanya melalui buku atau internet. Pengalaman tersebut dapat membuat proses belajar menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menjaga Etika Selama Wawancara

Siswa perlu memahami bahwa narasumber harus diperlakukan dengan sopan. Sebelum memulai, siswa dapat memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan wawancara. Mereka juga sebaiknya meminta izin apabila ingin merekam percakapan atau mengambil foto untuk kebutuhan tugas.

Pertanyaan yang bersifat pribadi juga perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Tidak semua informasi harus ditanyakan hanya karena siswa merasa penasaran. Jika sebuah informasi tidak berkaitan dengan tujuan wawancara, siswa dapat memilih pertanyaan lain yang lebih relevan.

Setelah wawancara selesai, siswa dapat mengucapkan terima kasih atas waktu dan informasi yang telah diberikan. Kebiasaan sederhana tersebut mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang mendapatkan jawaban, tetapi juga tentang menghargai orang yang bersedia berbagi pengalaman.

Mengubah Hasil Wawancara Menjadi Pengetahuan

Setelah kegiatan selesai, siswa dapat membaca kembali catatan yang telah dibuat. Mereka dapat mencari informasi yang paling penting, mengelompokkan jawaban berdasarkan topik, kemudian menggunakannya untuk menyusun laporan atau presentasi.

Pada tahap ini, siswa belajar bahwa wawancara merupakan sebuah proses. Ada tahap menentukan topik, membuat pertanyaan, melakukan percakapan, mencatat informasi, hingga mengolah hasilnya. Setiap tahap memiliki peran dalam menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui latihan yang dilakukan secara rutin, siswa dapat mengembangkan kemampuan bertanya dengan lebih terarah. Mereka juga belajar mendengarkan, mencatat, berkomunikasi, dan mengolah informasi dari pengalaman orang lain. Keterampilan tersebut dapat digunakan dalam berbagai kegiatan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.