Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Setiap kegiatan belajar dapat dimulai dari sebuah pertanyaan. Ketika siswa melihat sesuatu yang berbeda, mengalami perubahan, atau menemukan hal yang belum mereka pahami, rasa ingin tahu biasanya muncul secara alami. Namun, kemampuan mengubah rasa penasaran tersebut menjadi pertanyaan yang jelas perlu dilatih. Siswa tidak hanya perlu mengetahui jawaban, tetapi juga perlu belajar bagaimana menemukan pertanyaan yang tepat.
Pengamatan menjadi salah satu cara sederhana untuk melatih kemampuan tersebut. Setelah memperhatikan suatu benda, kejadian, atau proses, siswa dapat diminta menyebutkan hal yang membuat mereka penasaran. Dari pengamatan tersebut, pertanyaan dapat dikembangkan menjadi bahan diskusi, pencarian informasi, atau bahkan percobaan sederhana.
Dalam kegiatan belajar, mengamati memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar melihat suatu objek. Siswa perlu memperhatikan karakteristik, perubahan, perbedaan, maupun kejadian tertentu yang berlangsung di hadapannya.
Misalnya, ketika melihat es yang diletakkan di tempat terbuka, siswa mungkin memperhatikan bahwa bentuknya berubah setelah beberapa waktu. Perubahan tersebut dapat memunculkan berbagai pertanyaan mengenai apa yang menyebabkannya.
Dengan membiasakan siswa memperhatikan detail, guru dapat membantu mereka menemukan hal-hal yang sebelumnya mungkin dianggap biasa. Dari sinilah rasa ingin tahu dapat berkembang menjadi pertanyaan yang lebih terarah.
Pertanyaan membantu siswa menentukan informasi apa yang ingin mereka ketahui. Tanpa pertanyaan yang jelas, kegiatan mencari informasi dapat menjadi terlalu luas sehingga siswa kesulitan menentukan bagian yang perlu dipelajari.
Ketika siswa bertanya “mengapa”, “bagaimana”, “apa yang terjadi”, atau “apa perbedaannya”, mereka sebenarnya sedang menentukan arah pembelajaran. Pertanyaan tersebut dapat menjadi titik awal untuk mencari penjelasan.
Kemampuan bertanya juga berguna di luar pelajaran. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menghadapi situasi yang membutuhkan informasi tambahan. Siswa yang terbiasa mengajukan pertanyaan memiliki kesempatan lebih besar untuk menggali informasi secara aktif.
Agar pertanyaan tidak terlalu jauh dari pengamatan, siswa dapat diminta menyebutkan terlebih dahulu apa yang mereka lihat. Langkah ini membantu mereka membedakan antara fakta yang diamati dan dugaan pribadi.
Sebagai contoh, seorang siswa melihat sebuah benda bergerak ketika didorong. Fakta yang dapat dicatat adalah benda tersebut berubah posisi setelah mendapatkan dorongan. Dari fakta tersebut, siswa dapat mengembangkan pertanyaan mengenai mengapa benda bergerak atau apakah kekuatan dorongan memengaruhi jarak geraknya.
Cara tersebut membuat pertanyaan memiliki dasar yang jelas. Siswa belajar bahwa rasa penasaran dapat dibangun dari informasi yang benar-benar mereka temukan.
Pertanyaan siswa tidak harus langsung rumit. Pertanyaan sederhana justru dapat menjadi langkah awal yang baik.
Misalnya, ketika melihat tanaman di lingkungan sekolah, siswa dapat bertanya “mengapa tanaman membutuhkan air?” Setelah memahami jawaban awal, pertanyaan dapat berkembang menjadi “apakah jumlah air memengaruhi pertumbuhan tanaman?” atau “apa yang terjadi jika tanaman mendapatkan cahaya dalam jumlah berbeda?”
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa satu pertanyaan dapat membuka pertanyaan berikutnya. Pembelajaran menjadi proses yang terus berkembang karena siswa menemukan hal baru dari jawaban yang mereka peroleh.
Guru dapat mengenalkan beberapa bentuk pertanyaan agar siswa memiliki variasi ketika melakukan pengamatan. Beberapa di antaranya adalah:
Penggunaan berbagai bentuk pertanyaan membantu siswa memahami bahwa setiap pertanyaan memiliki tujuan yang berbeda. Mereka dapat memilih bentuk yang sesuai dengan hal yang ingin diketahui.
Lingkungan sekolah menyediakan banyak objek yang dapat digunakan sebagai bahan pengamatan. Siswa dapat memperhatikan tanaman, benda di kelas, peralatan sekolah, kondisi lapangan, cahaya, suara, maupun berbagai aktivitas yang berlangsung.
Kegiatan seperti ini membuat proses belajar lebih kontekstual karena objek yang diamati benar-benar berada di sekitar siswa. Mereka tidak selalu harus menggunakan contoh yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Guru dapat memilih satu objek kemudian meminta siswa menuliskan sebanyak mungkin pertanyaan berdasarkan apa yang mereka lihat. Setelah itu, pertanyaan dapat dikelompokkan berdasarkan topik atau tingkat kedalamannya.
Siswa terkadang membuat kalimat yang sebenarnya merupakan pernyataan, bukan pertanyaan. Hal ini merupakan bagian dari proses belajar yang wajar.
Misalnya, kalimat “baterai menghasilkan energi listrik” merupakan sebuah pernyataan. Agar menjadi pertanyaan, siswa dapat mengubahnya menjadi “bagaimana baterai dapat menghasilkan energi listrik?” atau “mengapa baterai dapat digunakan untuk menyalakan perangkat?”
Latihan sederhana seperti ini membantu siswa memahami bentuk pertanyaan sekaligus membuat mereka berpikir mengenai informasi yang ingin diketahui.
Dalam pembelajaran, siswa terkadang menganggap bahwa setiap pertanyaan harus segera mendapatkan jawaban. Padahal, beberapa pertanyaan dapat menjadi awal dari proses pencarian informasi.
Sebuah pertanyaan dapat digunakan untuk berdiskusi, membaca buku, melakukan pencarian informasi, atau merancang percobaan. Dengan demikian, nilai sebuah pertanyaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat jawabannya ditemukan.
Siswa dapat belajar menyimpan pertanyaan yang menarik untuk dibahas kemudian. Kebiasaan ini dapat membantu mereka melihat proses belajar sebagai kegiatan yang terus berlangsung.
Beberapa pertanyaan yang muncul dari pengamatan dapat dikembangkan menjadi percobaan sederhana. Misalnya, siswa melihat bahwa beberapa benda dapat bergerak dengan cara berbeda. Dari sana, mereka dapat bertanya apakah permukaan tempat benda bergerak memengaruhi gerak tersebut.
Guru kemudian dapat membantu siswa merancang kegiatan yang aman untuk menguji pertanyaan tersebut. Siswa dapat mengubah satu kondisi, melakukan pengamatan, lalu mencatat hasilnya.
Dengan cara ini, pertanyaan tidak berhenti sebagai kalimat. Pertanyaan menjadi dasar untuk mencari bukti dan memahami suatu fenomena.
Siswa juga dapat diminta menjelaskan mengapa mereka mengajukan pertanyaan tertentu. Kegiatan ini membantu guru mengetahui bagian mana yang menarik perhatian siswa.
Contohnya, siswa dapat mengatakan bahwa mereka bertanya mengenai perubahan es karena melihat bentuknya semakin kecil setelah dibiarkan. Alasan tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan berasal dari hasil pengamatan tertentu.
Kemampuan menjelaskan alasan juga membantu siswa menyusun pertanyaan dengan lebih terarah. Mereka belajar bahwa pertanyaan yang baik memiliki konteks dan tujuan.
Sebagian siswa mungkin memiliki banyak pertanyaan tetapi ragu menyampaikannya. Lingkungan belajar yang memberikan ruang untuk bertanya dapat membantu mengurangi rasa takut tersebut.
Guru dapat memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menuliskan pertanyaan terlebih dahulu sebelum mendiskusikannya. Dengan cara ini, siswa yang belum nyaman berbicara di depan kelas tetap memiliki kesempatan menyampaikan rasa ingin tahunya.
Pertanyaan tidak harus langsung sempurna. Melalui latihan, siswa dapat belajar memperjelas kalimat, mempersempit topik, dan menentukan informasi yang sebenarnya ingin diketahui.
Membuat pertanyaan dari pengamatan dapat menjadi salah satu latihan berpikir kritis. Siswa perlu memperhatikan informasi, menemukan sesuatu yang belum jelas, kemudian menentukan hal yang perlu ditanyakan.
Kegiatan tersebut membuat siswa tidak hanya menerima informasi sebagaimana adanya. Mereka belajar mencari hubungan, mempertanyakan penyebab, serta mempertimbangkan kemungkinan lain.
Kemampuan ini dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran. Ketika membaca teks, siswa dapat bertanya mengenai alasan sebuah peristiwa. Saat melihat data, mereka dapat bertanya mengenai pola yang ditemukan. Ketika melakukan percobaan, mereka dapat bertanya mengenai faktor yang menyebabkan perubahan.
Siswa yang terbiasa membuat pertanyaan memiliki kesempatan untuk mengambil peran lebih besar dalam proses belajar. Mereka tidak hanya menunggu materi diberikan, tetapi ikut menentukan hal yang ingin dipahami.
Prosesnya dapat dimulai dari kegiatan yang sangat sederhana: melihat, memperhatikan, merasa penasaran, lalu menuliskan pertanyaan. Dari sana, siswa dapat mencari jawaban melalui diskusi, buku, eksperimen, maupun sumber informasi lainnya.
Kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara bertahap di lingkungan sekolah. Semakin sering siswa berlatih mengubah hasil pengamatan menjadi pertanyaan, semakin terbiasa pula mereka melihat bahwa banyak hal di sekitar dapat menjadi sumber pembelajaran.
Kemampuan membuat pertanyaan menunjukkan bahwa pengamatan dan rasa ingin tahu memiliki hubungan yang erat. Ketika siswa benar-benar memperhatikan lingkungan, mereka akan menemukan berbagai hal yang dapat dipertanyakan.
Sekolah dapat menjadi tempat yang baik untuk melatih kebiasaan tersebut melalui kegiatan sederhana dan dekat dengan kehidupan siswa. Tidak selalu dibutuhkan eksperimen yang rumit. Sebuah benda, perubahan kecil, atau kejadian sehari-hari sudah dapat menjadi awal pembelajaran.
Dengan membiasakan siswa mengamati sebelum bertanya, kemudian mencari jawaban berdasarkan informasi dan bukti, kegiatan belajar dapat berkembang menjadi proses yang lebih aktif. Siswa bukan hanya belajar mengetahui sesuatu, tetapi juga belajar menentukan apa yang ingin mereka ketahui dan bagaimana cara mencarinya.