Hafidzah Quran Al Masoem

Kompetensi Literasi yang Wajib Dikuasai Para Siswa

Kompetensi Literasi merupakan budaya yang harus dikuasai siswa dan diharapkan siswa mampu untuk memahami, menggunakan dan mengevaluasi berbagai macam jenis teks dalam tulisan, kemampuan dalam berhitung, menghafal dan mendalami sebuah korteks dan cakupan yang luas dalam kehidupan sehari hari. Kompetensi literasi juga terdiri dari beberapa korteks diantaranya adalah literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi kebudayaan dan kewargaan dan terakhir yaitu literasi digital.

Literasi baca tulis merupakan kecakapan seseorang dalam membaca, menulis, mencari, menelusuri dan mengolah sebuah informasi tertulis untuk mencapai tujuan pengembangan dan pemahaman dan potensi. Salah satu contoh dalam literasi baca tulis adalah membaca berita, manga dan berbagai macam buku ilmu pengetahuan seperti ensiklopedia.

Literasi numerasi adalah kemampuan seseorang untuk menghitung dan memecahkan masalah dalam perhitungan. Atau bisa juga dimaksudkan bahwa literasi numerasi adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan sebuah permasalahan dalam matematika atau ilmu hitung berhitung. 

Literasi sains menurut (Wulandari & Sholihin, 2016) merupakan kemampuan ilmiah individu untuk menggunakan pengetahuan yang dimilikinya pada proses identifikasi masalah, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang berhubungan dengan isu ilmiah.

Sedangkan literasi Finansial merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang dalam mengatur keuangan, kemampuan untuk mengambil keputusan dalam keuangan dan juga kemampuan seseorang untuk mengatasi sebuah masalah dalam finansial.

Literasi kebudayaan dan kewargaan menurut Kemendikbud 2017 merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.

Dan menurut UNESCO, konsep literasi digital itu sendiri sebagai upaya untuk memahami perangkat teknologi komunikasi dan informasi. Dalam hal ini berupa literasi TIK, yang mengarah fokus pada kemampuan teknis yang sifatnya untuk mengembangkan pelayanan public berbasis digital.

Kompetensi literasi di dunia pendidikan modern memang sangat penting agar siswa mampu berkembang dan diharapkan siswa mampu untuk memecahkan setiap masalah yang ada di masyarakat luas dan juga di sekolah. Budaya literasi ini sangat penting bahkan sebagai tiang utama siswa dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, minimal jika seorang anak tidak menyukai membaca tapi mereka bisa memahami arti dalam sebuah kalimat, minimal jika siswa tidak suka berhitung tapi mereka mampu untuk memecahkan masalah yang ringan seperti perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan karena aspek dasar seperti itu yang memang akan berguna untuk masa depan siswa.

Sedangkan menurut Clay (2001) dan Ferguson, Komponen literasi yang harus dikuasai sesuai dengan tingkat kemampuan siswa adalah

  1. Literasi Dini (Early Literacy), yakni kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
  1. Literasi Dasar (Basic Literacy), yakni kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
  2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yakni kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan. Siswa juga  memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
  3. Literasi Media (Media Literacy), yakni kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet) dan memahami tujuan penggunaannya.
  4. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yakni kemampuan untuk memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Selanjutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
  5. Literasi Visual (Visual Literacy), yakni pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik

Ingat penguasaan literasi merupakan indikator penting untuk meningkatkan prestasi generasi muda dalam mencapai kesuksesan. Penanaman literasi sedini mungkin harus disadari karena menjadi modal utama dalam mewujudkan bangsa yang cerdas dan berbudaya. Jika memang anda kurang berminat dalam budaya literasi diharapkan anda bisa menguasai setiap dasar dari budaya literasi karena memang dasar itu merupakan pegangan utama sebuah budaya literasi sebelum menuju perkembangan yang lebih kompleks.