Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Dalam lingkungan pesantren, para santri akan diajak untuk mengisi waktunya dengan hal-hal yang produktif dan bermanfaat. Tidak hanya seputar mempelajari materi keagamaan saja, tetapi juga mempelajari adab dan perilaku sesuai dengan teladan dari Rasulullah SAW. Salah satu sifat Rasul yang patut untuk ditiru adalah sifat Amanah
Amanah merupakan satu dari 4 sifat wajib yang dimiliki oleh para Rasul yang melekat di kehidupan mereka. Baik itu dari kepribadian mereka hingga ketika berdakwah, 4 sifat wajib ini menjadi ciri khas dari mereka. Selain itu terdapat pula 4 sifat mustahil sebagai lawan dari sifat wajib tadi. Bila Amanah artinya dapat dipercaya, maka Khianah (dari 4 sifat mustahil) artinya mustahil untuk berkhianat.
Amanah diartikan sebagai yang dapat dipercaya, dimana para Rasul akan terus menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan menjaga kepercayaan umat atas dirinya. Al Qur’an pun telah mengabadikan sifat amanah milik para rasul melalui surat An Nisa ayat 58 yang artinya,
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ada satu kisah mengenai bagaimana Rasulullah SAW menampakkan sifat amanah nya. Dalam perang Khaibar, pasukan muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW berada dalam kondisi yang sulit. Pada waktu tersebut, datanglah seorang Yahudi yang sedang membawa domba-domba orang Yahudi untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Momen tersebut dimanfaatkan oleh sang pria tadi untuk bertanya soal hakikat Islam.
Hal ini pun direspon oleh Rasulullah SAW dengan mengajarkan mengenai Islam hingga dua kalimat syahadat kepadanya. Setelah memeluk agama Islam, lelaki tersebut pergi dan kembali menghadap kepada Rasulullah SAW sembari membawa domba-domba orang Yahudi tadi. Lelaki mualaf ini pun hendak memberikan domba-domba tersebut sebagai harta rampasan perang.
Rasulullah SAW pun menatapnya dan bersabda, ““Wahai Fulan! Khianat dalam amanah merupakan sebuah dosa besar dalam agama Islam. Sekarang kamu adalah seorang Muslim maka kamu harus menjalankan ajaran Islam dan menjaga amanah adalah sesuatu yang wajib. Maka pergilah engkau ke Benteng Khaibar dan kembalikanlah domba-domba ini kepada pemiliknya!”
Dari kisah tersebut, Rasulullah SAW menegaskan terdapat dosa besar ketika melakukan khianat terhadap amanah yang telah diberikan. Hendaknya amanah yang telah dipercayakan pada lelaki tersebut diselesaikan secara tuntas tanpa terkecuali. Itulah wujud dari pengamalan ilmu Islam yang mulia.
Dalam lingkungan pesantren, pada dasarnya siswa santri diberikan amanah oleh kedua orang tuanya untuk menuntut ilmu. Jadi seyogyanya bagi mereka untuk bisa menuntaskan amanah tersebut dengan belajar rajin dan juga mematuhi arahan dari wali santri. Wali santri berperan sebagai “orang tua kedua” yang mendampingi para santri dalam aktivitas harian selama di asrama pesantren. Hubungan guru-murid ini juga salah satu amanah yang perlu dijaga. Ini pula termasuk aturan tata tertib yang telah dibuat untuk sekolah dan asrama sebagai pengingat untuk selalu bertakwa dan amanah selama berada di lingkungan pesantren.
Lalu apa saja aktivitas santri di lingkungan pesantren? Di Al Ma’soem sendiri, siswa santri telah memiliki jadwal harian mulai dari sekolah full day dari pagi hingga sore hari waktu Ashar. Selanjutnya para santri akan kembali ke asrama pesantren untuk sholat Ashar berjama’ah dan istirahat atau kegiatan bimbingan wali santri sembari menunggu waktu Magrib. Makan sore telah disediakan sedari sore hingga sebelum memasuki waktu Isya. Barulah aktivitas belajar dimulai kembali setelah sholat Isya berjama’ah, mengikuti kurikulum Al Ma’soem.
Selain kegiatan belajar, kegiatan keagamaan pun juga rutin dilakukan seperti sholat wajib berjama’ah dan sholat sunnah, tadarus bersama, kelas tahfidzul Qur’an, mempelajari kitab kuning hingga Tashrifan bersama. Diluar kegiatan rutin tersebut di lingkungan asrama, santri tetap memiliki waktu untuk berolahraga atau mengikuti ekstrakurikuler sekolah sesuai minat dan bakatnya. Hal ini sesuai dengan visi dari Pesantren Siswa Al Ma’soem (PSAM) untuk “Mewujudkan insan berintelektual tinggi dan berakhlakul karimah”.
Jadi siswa santri tidak hanya mengikuti kegiatan rutin di asrama saja, melainkan tetap mampu untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kesukaan mereka. Bahkan hal ini pula difasilitasi oleh pihak asrama maupun sekolah, misalnya bisa memilih ekstrakurikuler pilihan yang terbagi antara kelompok ekstrakurikuler Seni-Imtaq-Iptek dan kelompok ekstrakurikuler Olahraga.
Penulis: Gumilar Ganda