Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran


Fenomena Bullying yang marak terjadi di lingkungan sekolah ini cukup mengkhawatirkan. Isu ini seakan hadiri seiring berjalannya waktu dalam dunia pendidikan kita. Perilaku yang memaksakan kehendak kepada individu atau kelompok yang lemah ini sudah seharusnya tidak hadir pada setiap institusi pendidikan. Bukannya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, malah korban bullying bisa merasa putus asa dan merusak mental nya di usia dewasa.
Salah satu bentuk umum dari perundungan atau bullying di sekolah melalui verbal. Contohnya seperti ejekan, menggoda hingga meledek dengan penyebutan nama atau keluarganya. Dari titik ini, bila terus berlanjut bisa pada tahap intimidasi fisik maupun psikis yang membahayakan korban. Yang mengkhawatirkan dari hal ini adalah korban merasa tidak berdaya menghadapi situasi tersebut dan berujung membiarkan. Di sisi lain, siswa lainnya yang mungkin mengetahui tetapi tidak ingin ikut campur dengan hal tersebut.
Lalu, apa yang menyebabkan kasus bullying di sekolah terjadi? Ada sebuah pembahasan menarik dari Coloroso (2006). Menurutnya, (secara umum) terdapat dua pihak yang terlibat dalam bullying, yaitu pelaku dan korban.
Dari sisi pelaku, Ia memiliki disfungsi keyakinan dan pemikiran yang rasional bahwa dirinya merasa lebih kuat. Cara agar Ia bisa menunjukkan kekuatan tersebut adalah dengan menindas korban yang lebih lemah karena Ia merasa pantas melakukan hal tersebut. Hal ini cenderung menumbuhkan rasa superioritas yang mendorongnya untuk terus melakukan aksi perundungan. Seiring waktu, perilaku ini akan terus berlanjut hingga membentuk siklus yang tidak terputus.
Sedangkan dari sisi korban, Ia akan dipenuhi dengan pemikiran negatif yang muncul dalam dirinya saat mendapatkan perlakuan bullying dari pelaku. Muncul perasaan lemah dan tidak berdaya, sehingga tidak akan muncul usaha untuk melakukan perlawanan.
Berada dalam lingkungan sekolah, setiap siswa akan berada di tempat yang sama mulai pagi hingga jam pulang sekolah. Di waktu tersebut, ada kesempatan yang besar bagi siswa yang punya tendensi merasa lebih kuat untuk memuaskan hasratnya menemukan siswa yang cocok menjadi korbannya. Entah itu teman satu kelas atau siswa di kelas lain, selama dia terlihat lemah maka itu dapat menjadi target yang empuk.
Memang seburuk apa bullying atau perundungan yang dialami oleh korban di sekolah? Bentuk kekerasan di sekolah ini punya dampak jangka panjang baik bagi korban maupun pelaku. Sebagaimana dijelaskan oleh theAsianparent, korban akan merasa rasa percaya dirinya telah dirampas. Sedangkan bagi pelaku, perilaku tersebut dapat menjadi kebiasaan dan juga kenikmatan untuk meningkatkan ego mereka.
Kehilangan kepercayaan diri apalagi di usia muda itu dampaknya begitu besar. Korban akan merasa ketakutan dan trauma emosional hingga menyebabkan tidak bisa menjalankan aktivitas harian dengan normal. Bahkan Ia bisa punya pemikiran untuk putus sekolah agar lepas dari perundungan terhadap dirinya.
Dan perasaan ini akan terus dibawa hingga korban telah memasuki usia dewasa, hal tersebut bisa menghambat kerja atau karir nya. Untuk tahu lebih lanjut mengenai dampak Bullying, cek artikel kami sebelumnya tentang Dampak Kesehatan Mental Anak Akibat Bullying Di Sekolah.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menghentikan atau meminimalkan perilaku bullying di sekolah? Idealnya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar dan pergaulan teman yang sehat. Cara ini membutuhkan kerja sama antar seluruh pihak, baik itu siswa, sekolah maupun orang tua.
Pihak Siswa
Setiap siswa penting untuk menjaga adab dalam berteman yang baik, menghindari nafsu ego yang membuat dirinya menyesal di lain waktu. Sebagai sesama pelajar, penting untuk memiliki tujuan besar yang hanya bisa dicapai dengan bersekolah. Fokus pada kegiatan positif yang dapat membantu pada tujuan besar tersebut. Dengan begitu, berbagai bentuk kekerasan di sekolah bisa dihindari.
Khusus kepada korban bullying, karena kejadiannya sudah terjadi, perlu menyadari bahwa Ia tidak sendiri. Akan selalu ada sosok lain yang bisa dijadikan tempat berbicara, misalnya seperti orang tua, guru, teman ataupun sosok yang dipercaya lainnya. Memang berat untuk menyampaikan atau menemukan orang yang dipercaya, tetapi disini perlu ada kesadaran bahwa siklus (bullying) ini harus dihentikan. Buat korban yang berhasil menyampaikan kasus yang dialami, selamat. Kamu anak yang hebat!
Pihak Orang Tua
Orang tua punya andil yang besar dalam mencegah bullying. Selalu tanamkan adab dan perilaku yang baik ketika berteman dengan sesama. Begitu pula ketika menghadapi intimidasi dari orang lain, berikan petunjuk yang jelas apa saja yang mesti dilakukan. Misalnya, berteman dengan banyak orang agar lebih mudah keluar dari situasi yang sulit. Atau bisa juga untuk menghiraukan berbagai ejekan atau kenakalan fisik yang masih ringan, istilahnya jangan dibawa hati.
Jangan lelah untuk memantau pergaulan anak agar Ia tidak terjerumus kepada hal yang tidak baik. Langkah yang bisa ditempuh adalah sering-sering mengajak ngobrol anak terkait aktivitas yang dilalui selama di sekolah. Berikan apresiasi bila diperlukan, namun jangan langsung menghukum anak bila berperilaku tidak baik. Orang tua perlu belajar berkomunikasi yang baik kepada anak.
Pihak Sekolah
Adapun pihak sekolah punya andil yang besar untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi siswa. Contohnya dengan melalui guru yang peka terhadap kondisi siswa, penyediaan fasilitas belajar yang memadai dan penerapan tata tertib yang tegas untuk membentuk karakter siswa.
Guru atau wali kelas punya peran yang besar untuk mengetahui kondisi setiap siswa. Apabila ada kondisi yang janggal dialami oleh suatu anak, guru pasti akan tahu dan menanyakan situasi yang dihadapi. Mendampingi siswa yang sedang mengalami masalah bisa menjadi kesan yang positif bagi siswa. Fasilitas belajar yang memadai dapat menciptakan lingkugan belajar yang nyaman dan menyenangkan, para siswa bisa menikmati belajar dan fokus pada mimpinya. Lalu penerapan tata tertib yang tegas dapat melatih kedispilinan dan membentuk karakter siswa yang beradab.
SMA Al Ma’soem percaya bahwa perilaku bullying adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan. Sejak awal para siswa masuk ke lingkungan Al Ma’soem, mereka diberikan pengarahan, bimbingan dan penegakan tata tertib yang sesuai dengan visi-misi Yayasan Al Ma’soem. Jadi, ketika terdapat siswa yang kedapatan melakukan tindakan bullying, sangat disayangkan bagi kami karena Ia akan dikembalikan kepada orang tuanya.
Mengapa begitu? Dalam sistem poin yang diterapkan di SMA Al Ma’soem, perilaku bullying termasuk dalam kategori tanpa tahapan yang mana mirip seperti mendapatkan poin penuh (100 poin). Bedanya, bagi yang bertahap mendapatkan poin masih akan mendapatkan pengarahan maupun bimbingan. Sedangkan pelaku perundungan tersebut tidak akan melalui tahap tersebut, sebabnya Ia dengan sadar sudah melewati batas wajar kenakalan yang telah ditetapkan. Siswa pelaku tersebut harus menerima konsekuensi nya dan kembali memperbaiki adab dan perilaku bersama orang tuanya. Semoga ini menjadi langkah yang tepat dari kami demi mewujudkan iklim pendidikan yang sehat.
Penulis: Gumilar Ganda