Di tengah suasana khidmat yang menyelimuti Dome Al Ma’soem, ribuan orang duduk dalam diam. Tangan mereka terangkat, doa-doa dipanjatkan.
Namun hari itu, doa tidak hanya untuk diri sendiri.
Ada doa yang melintasi batas negara. Doa untuk Timur Tengah.
Ketika Isu Global Menjadi Doa Lokal
Dalam tabligh akbar yang menjadi puncak Haul Al Ma’soem 2026, isu konflik di Timur Tengah menjadi salah satu hal yang disoroti.
Ketua Yayasan Al Ma’soem, Ceppy Nasahi Ma’soem, menyampaikan bahwa konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak secara global, tetapi juga dirasakan hingga ke masyarakat lokal.
Kenaikan harga bahan pokok, ketidakstabilan ekonomi, hingga kekhawatiran global menjadi dampak nyata.
Namun di tengah itu semua, doa menjadi penguat.
Haul yang Tidak Sekadar Mengenang
Bagi Al Ma’soem, haul bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah jembatan antara kenangan dan tindakan.
Rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 26 Maret tidak hanya diisi dengan tahlilan, tetapi juga berbagai aksi sosial.
Ratusan dhuafa menerima bantuan. Anak-anak mengikuti khitanan massal. Warga mendapatkan layanan kesehatan gratis.
Semua dilakukan dalam satu semangat: melanjutkan kebaikan.
Wakaf: Investasi Kebaikan Jangka Panjang
Di tengah acara, dilakukan pembacaan ikrar wakaf tanah untuk pembangunan Rumah Solusi di Cimanggung.
Wakaf ini bukan sekadar simbol. Ia adalah bentuk nyata komitmen jangka panjang untuk masyarakat.
Rumah Solusi diharapkan menjadi tempat lahirnya harapan-harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.
Silaturahmi yang Menguatkan
Acara silaturahmi Idulfitri menjadi ruang pertemuan berbagai elemen keluarga besar Al Ma’soem.
Siswa, santri, guru, hingga karyawan berkumpul dalam satu suasana kebersamaan.
Di sana, tidak ada sekat. Yang ada hanyalah ukhuwah.
Refleksi Kehidupan
Dalam sambutannya, Ceppy mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi kematian.
Pesan itu sederhana, namun dalam.
Haul menjadi pengingat bahwa hidup harus diisi dengan kebaikan yang berkelanjutan.
Dari Lokal untuk Dunia
Hari itu, dari Jatinangor, doa-doa terbang ke langit.
Mungkin tak terlihat. Tapi terasa.
Karena pada akhirnya, kebaikan tidak mengenal batas.

