Gemini Generated Image 9ro0ds9ro0ds9ro0

Di Pesantren ini Tahajud gak di wajibkan, kok bisa?

Di banyak benak masyarakat, pesantren sering identik dengan ibadah malam. Salah satunya adalah shalat tahajud. Tidak sedikit orang tua yang beranggapan bahwa tahajud seharusnya menjadi kewajiban di lingkungan pesantren. Maka wajar jika muncul pertanyaan:

“Pesantren, tapi kok tahajud tidak diwajibkan?”

Pertanyaan ini juga kerap muncul ketika orang tua atau calon santri mengenal pendekatan pendidikan di Pesantren Modern Al Masoem. Artikel ini akan menjelaskan secara utuh: mulai dari posisi tahajud dalam Islam, alasan tidak dijadikannya kewajiban, hingga bagaimana Al Masoem tetap menumbuhkan kebiasaan ibadah melalui pendekatan yang lebih sadar dan berkelanjutan.

Memahami Posisi Tahajud dalam Islam

Secara syariat, shalat tahajud adalah ibadah sunnah, bukan kewajiban. Artinya, dikerjakan berpahala besar, ditinggalkan tidak berdosa. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan tahajud karena dampaknya yang luar biasa bagi spiritual, ketenangan jiwa, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah.

Namun penting untuk dipahami:
ibadah sunnah memiliki karakter berbeda dengan ibadah wajib. Ia tumbuh paling kuat ketika dilakukan atas kesadaran pribadi, bukan karena paksaan atau tekanan sistem.

Di sinilah letak titik pikir yang sering luput dalam diskusi tentang tahajud di pesantren.

Apakah Ibadah Sunnah Perlu Dijadikan Kewajiban?

Di sebagian pesantren, tahajud dijadwalkan dan diwajibkan. Pendekatan ini tentu memiliki niat baik. Namun dalam praktiknya, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan:

  • Santri bangun karena takut sanksi, bukan karena kesadaran

  • Tahajud dilakukan sebatas rutinitas, bukan kebutuhan spiritual

  • Ketika keluar dari pesantren, kebiasaan itu perlahan hilang

Di Pesantren Al Masoem, pendekatan ini dikaji ulang. Bukan karena tahajud dianggap tidak penting, justru sebaliknya: karena nilainya sangat tinggi, maka ia dijaga agar tidak kehilangan ruhnya.

Pendekatan Al Masoem: Tidak Wajib, Tapi Difasilitasi

Al Masoem memilih pendekatan yang berbeda. Tahajud tidak dijadikan kewajiban, tetapi:

  • Lingkungan mendukung

  • Waktu difasilitasi

  • Edukasi tentang keutamaannya diberikan

  • Teladan dari guru dan pembina dihadirkan

Dengan pendekatan ini, santri tidak merasa dipaksa. Mereka belajar memahami makna tahajud, bukan sekadar melaksanakannya.

Pendekatan ini sejalan dengan visi Al Masoem sebagai pesantren modern yang tidak hanya membentuk rutinitas, tetapi juga kesadaran beragama.

Kesadaran Lebih Kuat daripada Paksaan

Salah satu tujuan utama pendidikan pesantren adalah membentuk karakter yang bertahan lama. Dalam konteks ibadah, yang diharapkan bukan hanya rajin saat berada di lingkungan pesantren, tetapi juga konsisten setelah kembali ke masyarakat.

Ibadah sunnah seperti tahajud akan jauh lebih kuat jika:

  • Dilakukan karena paham manfaatnya

  • Muncul dari niat pribadi

  • Menjadi kebutuhan, bukan kewajiban administratif

Inilah alasan mengapa Al Masoem tidak mewajibkan tahajud, tetapi tetap menempatkannya sebagai ibadah yang sangat dianjurkan.

Insentif Positif: Beasiswa Santri of The Month

Meski tidak diwajibkan, Al Masoem tidak membiarkan tahajud “hilang” dari kehidupan santri. Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi positif, Al Masoem menghadirkan program Santri of The Month.

Program ini memberikan beasiswa kepada santri yang menunjukkan konsistensi, kedisiplinan, dan akhlak baik. Salah satu indikator penilaiannya adalah kesungguhan dalam ibadah sunnah, termasuk tahajud.

Artinya:

  • Tahajud tetap dihargai

  • Santri yang memilih menjalankannya mendapat apresiasi

  • Motivasi muncul tanpa paksaan

Dengan sistem ini, santri belajar bahwa ibadah bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga komitmen pribadi yang bernilai.

Beasiswa sebagai Apresiasi, Bukan Alat Tekanan

Penting dicatat: beasiswa di sini bukan alat untuk “memaksa” santri tahajud. Tidak semua santri harus mengejar program ini. Namun bagi yang siap dan konsisten, ada bentuk penghargaan yang nyata.

Pendekatan ini menanamkan pesan penting:

  • Ibadah membawa kebaikan spiritual

  • Kedisiplinan dan kesungguhan juga diapresiasi secara sosial

Di sinilah nilai pendidikan Al Masoem terlihat: menghubungkan antara nilai agama, karakter, dan realitas kehidupan.

Menyiapkan Santri untuk Dunia Nyata

Santri Al Masoem tidak selamanya berada di pesantren. Mereka akan hidup di dunia nyata, dengan ritme yang berbeda, tantangan yang beragam, dan godaan yang lebih kompleks.

Jika ibadah hanya bertahan karena sistem yang memaksa, maka ia mudah runtuh ketika sistem itu hilang. Namun jika ibadah tumbuh dari kesadaran, ia akan tetap hidup di mana pun santri berada.

Pendekatan tahajud di Al Masoem dirancang untuk tujuan jangka panjang ini.

Kesimpulan: Bukan Soal Wajib atau Tidak, Tapi Cara Menumbuhkan

Tahajud tetap ibadah mulia.
Pesantren tetap tempat terbaik untuk menumbuhkan kebiasaan ibadah.

Namun di Pesantren Al Masoem, tahajud tidak dijadikan kewajiban karena:

  • Ia adalah ibadah sunnah

  • Kesadaran lebih kuat dari paksaan

  • Kebiasaan yang tumbuh dengan sadar lebih bertahan lama

Melalui pendekatan edukatif, fasilitasi lingkungan, dan program beasiswa Santri of The Month, Al Masoem berupaya menjaga ruh tahajud tetap hidup—tanpa menghilangkan maknanya.

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar santri yang patuh pada sistem,
melainkan pribadi yang sadar, beradab, dan siap menghadapi kehidupan.