TK Al Masoem

Cara Menghadapi Anak yang Terlalu Cepat Dewasa

Seorang remaja, khususnya perempuan memiliki peluang lebih besar untuk lebih cepat terlihat dewasa. Dibandingkan laki-laki, merek jauh lebih konsern untuk memperhatikan penampilannya dibandingkan teman sebayanya yang laki-laki. Citra diri / imej bukanlah segalanya bagi anak usia belasan tahun, tapi yang pasti ia sudah tertarik dengan penampilannya. Pakaian, gaya rambut, dan make-up memungkinkannya untuk mengekpresikan diri sebagai individu ataupun bagian dari kelompok teman sebayanya. Seorang remaja bisa jadi ingin menggunakan barang-barang favoritnya secara berulang-ulang dan tiba-tiba merasa frustrasi jika ternyata barang tersebut sedang dicuci.

Tidak hanya itu, seorang remaja perempuan biasanya sangat konsern terhadap penampilan rambutnya; gaya rambut yang berganti-ganti dan menginginkan rambut di highlight atau diwarnai adalah caranya untuk mengekspresikan sisi individualitas. Salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua dalam menyikapi hal tersebut adalah bersikap toleran sebisa mungkin dalam hal ini, tapi sebaiknya hentikan jika sudah terlampau ekstrem. Jika anda menganggapnya berpakaian kurang pantas untuk usianya, hindari pernyataan-pernyataan konfrontasional seperti, “kamu tidak boleh keluar rumah dengan pakaian seperti itu!” Hal ini justru beresiko mengalami pertentangan dan sikap resistensi serta pemberontakan diri anak. Strategi yang bisa dilakukan adalah bicarakanlah dengan tenang bersamanya, katakan mengapa anda cemas, lalu rundingkan cara berpakaian yang sesuai untuk sekolah, berpergian serta saat datang ke perayaan tertentu. 

Persoalan anak yang “terlalu cepat dewasa” tidak hanya sebatas penampilan, memakai make up dan sejenisnya saja, namun juga gaya berteman dengan lawan jenis hingga ke cara berpacaran. Seperti yang sudah diketahui bahwa dalam konsep Islam, kegiatan berpacaran sangat dilarang dan bisa mengundang dosa besar. Maka dari itulah, untuk kasus remaja awal seperti ini, edukasi mengenai pertemanan dekat dengan lawan jenis harus diberikan secara intensif oleh orang tua yang lawan jenis pula. Anak perempuan idealnya memiliki kedekatan emosional dengan ayahnya, begitu pula anak laki-laki dengan ibunya. Dengan cara ini, sang anak akan mendapatkan edukasi dan pengalaman yang dialami orang tuanya dan disertai dengan ilmu agama yang gaya bahasanya sesuai dengan usia mereka (tidak hanya bersifat dogmatis).    

Mungkin secara tidak disadari orang tua sendiri yang mendorong anaknya untuk bertingkah laku seperti “orang dewasa”. Jika orang tua menginginkan anaknya berperilaku sesuai usianya, berikan ia peluang untuk bermain karena pada fase transisi remaja awal, terkadang seorang anak masih memiliki kesenangan yang sifatnya kekanak-kanakan. Maka salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua adalah mendorong anak-anaknya untuk melakukan berbagai aktivitas senggang dan bantulah ia menikmatinya, jangan hanya membuatnya terpusat pada ujian, prestasi, serta masa depannya saja.