Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Menunda pekerjaan merupakan kebiasaan yang cukup sering dialami siswa SMA. Tugas sebenarnya sudah diberikan beberapa hari sebelumnya, tetapi baru mulai dikerjakan ketika tenggat waktu semakin dekat. Awalnya mungkin terasa seperti memberikan waktu untuk bersantai. Namun, jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut dapat membuat tugas menumpuk dan menimbulkan tekanan.
Menunda pekerjaan atau prokrastinasi bukan selalu terjadi karena siswa malas. Ada berbagai alasan yang dapat membuat seseorang sulit memulai pekerjaan, seperti merasa tugas terlalu sulit, tidak tahu harus memulai dari mana, takut hasilnya tidak bagus, terlalu banyak gangguan, atau merasa masih memiliki banyak waktu.
Karena itu, mengatasi kebiasaan menunda membutuhkan pemahaman terhadap penyebabnya sekaligus perubahan kebiasaan secara bertahap.
Sebelum mencari solusi, siswa perlu memahami alasan mengapa dirinya suka menunda.
Ada siswa yang menunda karena tugas terlihat terlalu banyak. Ada yang merasa materi sulit sehingga memilih melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Ada pula yang sebenarnya ingin mengerjakan tugas, tetapi bingung menentukan langkah pertama.
Gangguan dari ponsel dan media sosial juga dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Niat awalnya hanya ingin memeriksa satu notifikasi, tetapi akhirnya waktu berlalu tanpa terasa.
Dengan mengetahui penyebabnya, siswa dapat memilih strategi yang lebih sesuai.
Salah satu alasan seseorang terus menunda adalah menunggu sampai merasa benar-benar ingin mengerjakan tugas.
Masalahnya, motivasi tidak selalu muncul pada waktu yang tepat.
Jika siswa hanya belajar ketika sedang bersemangat, pekerjaan bisa semakin sering tertunda. Karena itu, lebih baik membangun kebiasaan untuk mulai mengerjakan sesuatu meskipun motivasi belum terlalu besar.
Tidak perlu langsung menyelesaikan seluruh tugas. Yang penting adalah memulai.
Setelah beberapa menit mengerjakan, biasanya pekerjaan terasa lebih mudah karena siswa sudah melewati bagian yang paling sulit, yaitu memulai.
Tugas yang besar sering terasa menakutkan karena siswa melihatnya sebagai satu pekerjaan yang sangat panjang.
Misalnya, ada tugas membuat makalah. Daripada menuliskan target “selesaikan makalah hari ini”, siswa dapat membaginya menjadi beberapa langkah:
Dengan pembagian tersebut, tugas terasa lebih mudah dikerjakan karena siswa hanya perlu memikirkan satu langkah pada satu waktu.
Ketika merasa sangat enggan mengerjakan sesuatu, siswa dapat membuat kesepakatan sederhana dengan dirinya sendiri: cukup mulai selama lima menit.
Selama lima menit tersebut, tidak perlu memikirkan apakah tugas akan selesai atau tidak. Fokus saja pada pekerjaan.
Jika setelah lima menit siswa masih merasa sangat lelah, ia dapat mengambil jeda. Namun, sering kali setelah mulai, seseorang justru merasa mampu melanjutkan lebih lama.
Cara ini membantu mengurangi tekanan yang muncul ketika siswa membayangkan seluruh pekerjaan sekaligus.
Perfeksionisme juga dapat menjadi salah satu penyebab seseorang menunda pekerjaan.
Siswa mungkin terlalu memikirkan bagaimana agar tugasnya sempurna. Akibatnya, ia justru tidak segera memulai karena takut hasil pertama tidak cukup baik.
Padahal, pekerjaan dapat diperbaiki setelah memiliki draf awal.
Lebih baik menghasilkan tulisan yang masih perlu diperbaiki daripada tidak memiliki tulisan sama sekali karena terlalu lama menunggu ide yang sempurna.
Siswa dapat membedakan antara tahap membuat pekerjaan dan tahap memperbaikinya. Keduanya tidak harus dilakukan secara bersamaan.
Tenggat waktu dari guru memang menjadi batas utama. Namun, siswa dapat membuat tenggat pribadi yang lebih awal.
Jika tugas dikumpulkan hari Jumat, misalnya, siswa dapat menargetkan draf selesai pada Rabu.
Dengan begitu, masih tersedia waktu untuk memeriksa kesalahan atau melakukan perbaikan.
Tenggat pribadi juga membantu mengurangi kebiasaan mengerjakan semuanya dalam satu malam. Selain membuat tubuh lelah, sistem kebut semalam dapat membuat siswa kurang memiliki waktu untuk mengevaluasi hasil pekerjaan.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan seseorang untuk fokus.
Jika siswa belajar sambil terus menerima notifikasi, godaan untuk membuka ponsel akan semakin besar. Karena itu, ketika ingin menyelesaikan pekerjaan, gangguan yang tidak diperlukan dapat dikurangi.
Ponsel bisa diletakkan agak jauh atau diatur ke mode senyap. Tab yang tidak berkaitan dengan tugas dapat ditutup. Meja juga dapat dirapikan agar tidak terlalu banyak benda yang mengalihkan perhatian.
Tujuannya bukan menghilangkan semua hiburan, tetapi membuat waktu bekerja menjadi lebih terarah.
Ketika memiliki banyak tugas, siswa mungkin bingung harus mengerjakan yang mana terlebih dahulu.
Membuat daftar prioritas dapat membantu.
Tugas yang memiliki tenggat paling dekat atau membutuhkan waktu paling panjang dapat ditempatkan pada urutan awal. Pekerjaan yang lebih sederhana dapat dilakukan setelah tugas utama selesai.
Namun, jangan membuat daftar yang terlalu panjang. Jika dalam satu hari siswa menuliskan terlalu banyak target, kemungkinan merasa kewalahan justru semakin besar.
Lebih baik memiliki beberapa target yang realistis dan benar-benar diselesaikan.
Belajar atau mengerjakan tugas tidak harus dilakukan tanpa berhenti.
Setelah menyelesaikan satu bagian, siswa dapat memberikan waktu untuk beristirahat. Jeda singkat dapat digunakan untuk minum, berjalan sebentar, melakukan peregangan, atau sekadar mengistirahatkan mata.
Namun, durasi istirahat perlu diperhatikan.
Jangan sampai jeda lima belas menit berubah menjadi satu jam karena terlalu lama menggunakan media sosial atau menonton video.
Istirahat seharusnya membantu mengembalikan energi, bukan membuat pekerjaan kembali tertunda.
Setiap siswa memiliki waktu ketika dirinya merasa lebih mudah berkonsentrasi.
Ada yang lebih fokus pada pagi hari. Ada yang merasa lebih produktif setelah sore. Ada pula yang lebih nyaman belajar setelah suasana rumah mulai tenang.
Siswa dapat mengamati pola dirinya selama beberapa hari.
Jika ternyata konsentrasi paling baik terjadi pada waktu tertentu, pekerjaan yang membutuhkan pemikiran lebih banyak dapat ditempatkan pada waktu tersebut.
Sementara itu, pekerjaan sederhana dapat dikerjakan ketika energi tidak terlalu tinggi.
Mengenali waktu produktif dapat membuat jadwal belajar lebih realistis.
Tugas yang hanya disimpan dalam ingatan lebih mudah terlupakan.
Karena itu, siswa dapat menggunakan catatan, kalender, aplikasi pengingat, atau agenda sederhana untuk mencatat tugas dan tenggat waktu.
Tuliskan apa yang perlu dilakukan dan kapan harus selesai.
Kebiasaan mencatat juga membantu mengurangi beban pikiran. Siswa tidak perlu terus mengingat semua pekerjaan karena informasi tersebut sudah tersimpan di tempat yang dapat diperiksa kembali.
Ada perbedaan antara beristirahat dan menghindari pekerjaan.
Istirahat dilakukan karena tubuh atau pikiran memang membutuhkan jeda. Setelah itu, siswa kembali melanjutkan aktivitas.
Sementara itu, menghindari pekerjaan biasanya membuat seseorang terus mencari aktivitas lain agar tidak perlu menghadapi tugas.
Misalnya, tiba-tiba ingin membersihkan meja, membuka media sosial, menonton video, atau melakukan hal lain setiap kali hendak belajar.
Membersihkan meja tentu bisa menjadi kegiatan yang baik. Namun, jika selalu dilakukan hanya ketika ingin menghindari tugas, siswa perlu menyadari polanya.
Satu tugas yang ditunda mungkin tidak terlihat sebagai masalah besar. Tetapi jika dilakukan terhadap banyak tugas, semuanya dapat menumpuk pada waktu yang bersamaan.
Bayangkan beberapa mata pelajaran memberikan tugas dalam satu minggu. Jika semuanya ditunda, menjelang akhir minggu siswa mungkin harus mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus.
Kondisi tersebut dapat membuat waktu istirahat berkurang dan tekanan meningkat.
Karena itu, menyelesaikan sedikit demi sedikit biasanya lebih ringan dibandingkan menunggu hingga semuanya mendesak.
Siswa dapat melakukan evaluasi sederhana di akhir minggu.
Tidak perlu membuat evaluasi yang rumit. Cukup perhatikan beberapa pertanyaan:
Dari jawaban tersebut, siswa dapat memperbaiki cara mengatur waktunya.
Jika strategi tertentu tidak berhasil, bukan berarti siswa tidak disiplin. Mungkin metode tersebut memang belum sesuai dengan kebutuhannya.
Ada kalanya kebiasaan menunda muncul karena tugas memang terasa terlalu sulit.
Dalam kondisi seperti ini, siswa tidak harus terus memaksakan diri.
Bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, atau meminta penjelasan dari orang yang memahami materi dapat membantu memperjelas apa yang harus dilakukan.
Semakin jelas langkah yang perlu dikerjakan, semakin kecil kemungkinan siswa merasa bingung dan akhirnya memilih menunda.
Mengatasi kebiasaan menunda tidak harus dilakukan dalam satu hari.
Siswa mungkin masih akan sesekali menunda pekerjaan. Hal tersebut wajar. Yang penting adalah tidak membiarkan satu hari yang kurang produktif berubah menjadi kebiasaan baru.
Perubahan dapat dimulai dari hal kecil: segera mencatat tugas, mengerjakan bagian pertama, mengurangi gangguan, membuat target realistis, dan menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat.
Semakin sering dilakukan, kebiasaan tersebut akan terasa lebih alami.
Pada akhirnya, mengatasi kebiasaan menunda bukan berarti siswa harus menjadi orang yang selalu produktif setiap saat. Yang lebih penting adalah mampu membedakan kapan perlu bekerja, kapan perlu beristirahat, dan kapan harus berhenti mencari alasan untuk menunda.
Dengan belajar memulai pekerjaan lebih cepat, membagi tugas menjadi bagian kecil, mengatur prioritas, serta memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan, siswa dapat menjalani kegiatan sekolah dengan lebih teratur tanpa harus selalu dikejar tenggat waktu.