Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Penulis : Mohamad Ramdan
Self Acceptance atau penerimaan diri merupakan kemampuan seseorang untuk dapat menerima semua keadaan dirinya sendiri. Self Acceptance sendiri dapat dilakukan secara realistis dan secara non realistis. Artinya sikap seseorang dalam menerima dirinya sendiri bisa dilakukan dengan cara memandang kelebihan dan kekurangan dirinya serta kelebihannya secara objektif atau realistis.
Penerimaan juga bisa ditandai dengan upaya untuk menilai dirinya sendiri secara berlebihan seperti menolak kelemahan diri, membohongi diri dengan hal hal yang dianggapnya baik untuk dirinya meskipun kenyataannya tidak demikian juga menghindari hal hal buruk yang ada dalam dirinya seperti trauma atau berbagai macam hal yang mengganjal di masa lalu. Hal seperti itu yang dimaksud dengan penerimaan diri secara non realistis.
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi Self Acceptance seperti menurut Hurlock (1999) mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penerimaan diri adalah :
Begitu juga menurut Florentina (2008) mengemukakan tentang faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri yang positif sebagai berikut :
Pemahaman diri tidak hanya sebatas tentang pemahaman terhadap identitas diri, namun lebih dari itu. Pemahaman diri merupakan pemahaman sebagai diri pribadi, sosial, spiritual dan kelebihan serta kelemahan yang ada pada diri sendiri. Pemahaman diri merupakan langkah awal dalam pembentukan konsep dan kepribadian diri. Dari sini akan mewujudkan eksistensi dan eksplorasi diri pribadi. Malas, tidak mau bekerja; hanya ingin menikmati hidup tanpa usaha keras (Ridwan, 2011).
Individu yang memiliki harapan yang tinggi akan lebih percaya diri serta terbiasa untuk berpikir mengenai keinginan dan rencana untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Ketidakmampuan untuk mencapai tujuan yang realistik dapat disebabkan oleh ketidakmampuan individu yang bersangkutan untuk mengontrol adanya hambatan-hambatan dari lingkungan. Seseorang yang menyadari bahwa sebenarnya dia mampu, tetapi karena ada hambatan dari lingkungan (misalnya diskriminasi ras, gender,kepercayaan) akan sukar untuk memiliki penerimaan diri yang baik.
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek.
Tekanan yang berat dan terus menerus seperti yang terjadi di lingkungan kerja atau di rumah, di mana kondisi emosi sedang tidak baik dapat mengakibatkan gangguan yang berat pada seseorang, sehingga tingkah laku orang tersebut dinilai menyimpang dan orang lain menjadi terlihat selalu dan menolak orang tersebut. Tidak adanya tekanan emosi membuat seseorang dapat melakukan yang terbaik dan dapat berpandangan keluar dan tidak memiliki pandangan hanya kedalam diri saja. Tanpa tekanan emosi juga dapat membuat seseorang santai dan bahagia. Kondisi-kondisi ini memberikan sumbangan positif bagi penilaian terhadap lingkungan sosial yang menjadi dasar terhadap penilaian diri sendiri dan terhadap penerimaan diri (Hurlock, 2007).
Kegagalan yang sering menimpa menjadikan seseorang menolak dirinya sendiri. Sebaliknya, keberhasilan yang sering terjadi menumbuhkan penerimaan terhadap dirinya sendiri. Sering atau tidaknya berhasil yang terjadi dapat dinilai secara kuantitatif dan juga secara kualitatif. Secara kuantitatif berarti jumlah 24 terjadinya keberhasilan lebih banyak daripada kegagalan. Secara kualitatif maksudnya, walaupun jumlah terjadinya kegagalan lebih banyak dari pada keberhasilan, namun keberhasilan yang terjadi tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dan sangat berarti yang dapat melebihi jumlah kegagalan tersebut, baik dari penilaian masyarakat maupun diri sendiri (Florentina, 2008).
Individu yang mengidentifikasikan diri dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan terpengaruh untuk mengembangkan tingkah laku positif terhadap hidupnya. Tingkah laku positif tersebut menandakan penilaian diri yang positif serta menunjukkan adanya penerimaan diri yang baik (Hurlock, 2007).
Pilihan perspektif yang diambil seseorang memiliki implikasi pada teori dan metodologi yang digunakan dan dikuasai serta dipahami seseorang dalam memahami suatu fenomena atau realitas.
Meskipun bermacam-macam penyesuaian yang dilakukan oleh seseorang dapat mengubah secara radikal dan membuat hidupnya semakin baik, namun pusat dari konsep diri yang menentukan jenis penyesuaian diri yang akan dilakukan terletak pada masa kanak-kanak
(Husniyati, 2009). Konsep diri yang stabil Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan (Chaplin, 2009).
Adapun bentuk penerimaan diri seperti :
Di Al Masoem penerimaan diri ini diajarkan dalam sebuah pelajaran khusus yaitu pembekalan dari Wali kelas pada Senin pagi. Penerimaan diri ini penting diberikan kepada siswa agar siswa tidak minder dan berani untuk bersaing dengan teman teman lainnya terutama dalam menggapai prestasi di sekolah. Karena mau bagaimana juga, setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing, tidak ada istilah siswa pintar dan siswa kurang pintar.
Semua siswa Al Ma’soem diberikan pencerahan bahwa semuanya adalah siswa berprestasi, hanya saja ada yang sudah mengerti akan dirinya yaitu akan minat dan bakatnya ada yang belum. Dengan penerimaan diri ini diharapkan siswa bisa mampu memahami diri mereka sendiri.