Ciri Orang yang tidak akan Mendapat Ampunan Allah adalah “Mempermainkan Agama”

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنَّ  الَّذِيْنَ  كَفَرُوْا  بَعْدَ  اِيْمَا نِهِمْ  ثُمَّ  ازْدَا دُوْا  كُفْرًا  لَّنْ  تُقْبَلَ  تَوْبَتُهُمْ   ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ  هُمُ  الضَّاۤ  لُّوْنَ

“Sungguh, orang-orang yang kafir setelah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, tidak akan diterima tobatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 90)

Mempermainkan agama, kafir beriman terus kafir lagi….

اِنَّ  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  ثُمَّ  كَفَرُوْا  ثُمَّ  اٰمَنُوْا  ثُمَّ  كَفَرُوْا  ثُمَّ  ازْدَا دُوْا  كُفْرًا  لَّمْ  يَكُنِ  اللّٰهُ  لِيَـغْفِرَ  لَهُمْ  وَلَا  لِيَـهْدِيَهُمْ  سَبِيْلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 137)

Orang-orang yang serupa itu sedikit pun tidak akan mendapat ampunan dari Allah, dan tidak akan mendapat bimbingan untuk memperoleh petunjuk. Mereka selalu dalam keadaan bimbang dan ragu, pendirian mereka berubah-ubah dari iman ke kafir, dari kafir ke iman, mereka telah kehilangan pegangan. Karenanya mereka tidak dapat lagi memahami hakikat kebenaran dan keutamaan iman.

Oleh sebab itulah sesuai dengan ketentuan Allah, orang yang hatinya bimbang dan ragu tidak akan mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Maka sudah sepantasnyalah apabila mereka jauh dari rahmat Allah, apalagi untuk mendapatkan ampunan-Nya karena jiwa mereka telah ditutupi noda-noda kekafiran, sehingga tidak lagi dapat melihat cahaya kebenaran.

Sebenarnya tak ada yang dapat menghalang-halangi ampunan dan hidayah Allah yang akan diberikan kepada makhluk-Nya. Hanya saja kehendak Allah itu tidak terlepas dari usaha manusia yang timbul karena ilmu dan amalannya, akan berbekas pada jiwanya.

Maka apabila seseorang terus-menerus mengikuti suatu pendapat tanpa penyelidikan, niscaya akalnya tidak mendapat petunjuk. Begitu pula apabila jiwa seseorang telah dikotori dengan kefasikan dan maksiat, maka ia tidak akan mendapat jalan untuk memperoleh ampunan, tanpa bertaubat.

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertaubat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS Thaha: 82).

“Ampunan Allah dapat menghapuskan noda-noda dosa di dalam jiwa. Apabila seseorang bertobat dan beramal saleh, maka semua kekotoran jiwa dan dosanya akan terkikis habis. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS Hud: 114).

RasulullahSAW meyampaikan bahwa hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”
Oleh karena itu nabi Muhamaad SAW saja setingkatan rassul sering berdoa, supaya diberi keteguhan hati dalam beriman

“Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik”

“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.’