Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ مِنْ دَآ بَّةٍ وَّا لْمَلٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ
“Dan segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi hanya bersujud kepada Allah, yaitu semua makhluk bergerak (bernyawa) dan (juga) para malaikat, dan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 49)
Ketika Alam Tunduk, Manusia Memilih: Taat atau Sombong?
Di dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI diterangkan bahwa kemudian Allah SWT menjelaskan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi tunduk kepada kekuasaan-Nya. Mereka itu sujud kepada Allah menurut cara masing-masing sesuai dengan fitrahnya yang alami. Bahkan malaikat pun yang berada di langit tidak mau menyombongkan dirinya dan tidak membangkang kepada ketentuan-ketentuan Allah.
QS. An-Nahl 49. Ayat ini dapat direnungkan bukan hanya tentang sujudnya makhluk, tetapi juga tentang sikap manusia terhadap Allah.
1. Seluruh makhluk berada dalam ketundukan kepada Allah
Allah menjelaskan bahwa apa yang ada di langit dan di bumi semuanya tunduk kepada-Nya. Makhluk tidak berjalan dengan kehendaknya sendiri secara mutlak. Ada sunnatullah yang mengatur kehidupan mereka.
Matahari, bulan, tumbuhan, hewan, pergantian siang dan malam, semuanya berjalan sesuai ketentuan Allah.
Tadabburnya: Kalau seluruh alam tunduk kepada ketentuan Allah, mengapa manusia yang diberi akal justru sering merasa dirinya bebas tanpa batas?
2. Setiap makhluk mempunyai cara bersujudnya sendiri
Kata “sujud” dalam ayat ini tidak harus dipahami hanya sebagai gerakan fisik seperti sujudnya manusia dalam salat. Makhluk tunduk kepada Allah sesuai dengan keadaan dan fitrahnya.
Tumbuhan tumbuh sesuai hukum yang Allah tetapkan. Air mengalir sesuai hukum-Nya. Hewan hidup mengikuti nalurinya. Malaikat melaksanakan perintah Allah dan tidak membangkang.
Tadabburnya: Ketundukan tidak selalu tampak dalam bentuk yang sama, tetapi seluruh ciptaan Allah berada dalam sistem yang Dia tetapkan.
3. Malaikat menjadi contoh makhluk yang tidak sombong
Ayat ini secara khusus menyebut bahwa para malaikat tidak menyombongkan diri.
Ini menarik. Malaikat yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah justru tidak pernah merasa tinggi di hadapan-Nya.
Tadabburnya: Semakin mengenal kebesaran Allah, seharusnya semakin kecil rasa diri kita di hadapan-Nya.
Maka ilmu, jabatan, kekayaan, gelar, pengalaman, bahkan usia tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
4. Kesombongan adalah masalah manusia, bukan alam
Alam tidak pernah mengatakan, “Saya tidak mau mengikuti ketentuan Allah.” Malaikat tidak membangkang. Makhluk-makhluk Allah tunduk kepada sunnatullah.
Manusia justru memiliki sesuatu yang berbeda: pilihan dan kehendak.
Manusia bisa memilih untuk taat, tetapi juga bisa memilih untuk membangkang.
Di sinilah letak ujian manusia.
Alam tunduk secara sunnatullah; manusia diuji untuk tunduk dengan kesadaran, iman, dan ketaatan.
5. Jangan sampai manusia kalah dalam ketundukan dibanding alam
Ini mungkin menjadi renungan paling dalam dari ayat 49.
Manusia diberi akal, hati, ilmu dan kemampuan memilih. Tetapi pemberian itu jangan membuat manusia merasa lebih tinggi daripada Pemberinya.
Kita bisa memiliki ilmu yang tinggi, tetapi tetap harus tunduk kepada Allah.
Kita bisa memiliki jabatan tinggi, tetapi tetap harus rendah hati.
Kita bisa memiliki kekayaan, tetapi tetap menyadari bahwa semuanya adalah amanah.
Pertanyaan untuk diri sendiri:
Apakah tubuh saya sudah bersujud kepada Allah, tetapi hati saya masih sulit tunduk
An-Nahl 48:
Alam tunduk kepada sunnatullah.
↓
An-Nahl 49:
Seluruh makhluk bersujud kepada Allah dan tidak menyombongkan diri.
↓
Pelajaran bagi manusia:
Jika seluruh ciptaan Allah tunduk kepada-Nya, maka manusia pun seharusnya belajar meninggalkan kesombongan dan memilih ketaatan.
Alam tidak pernah membangkang kepada sunnatullah. Malaikat tidak pernah menyombongkan diri di hadapan Allah. Lalu bagaimana dengan kita, manusia yang diberi akal dan pilihan? QS. An-Nahl 49 mengingatkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, tetapi seberapa rendah hati kita bersujud di hadapan Allah.
Doa memohon ketundukan, kerendahan hati, menjauhi kesombongan, dan hati yang rela tunduk kepada Allah.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ خَاضِعِينَ، وَلِعَظَمَتِكَ مُتَوَاضِعِينَ، وَعَنْ الْكِبْرِ مُبْتَعِدِينَ، وَبِطَاعَتِكَ مُخْلِصِينَ.
Allahumma aj‘alnā laka khāḍi‘īn, wa li‘aẓamatika mutawāḍi‘īn, wa ‘anil-kibri mubta‘idīn, wa biṭā‘atika mukhliṣīn.
“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang tunduk kepada-Mu, rendah hati di hadapan keagungan-Mu, jauh dari kesombongan, dan ikhlas dalam menaati-Mu.”