Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Banyak siswa mengira bahwa bertanya hanyalah cara untuk mendapatkan informasi yang belum diketahui. Padahal, cara sebuah pertanyaan disusun dapat memengaruhi jenis jawaban yang muncul.
Bandingkan dua pertanyaan sederhana: “Mengapa penggunaan ponsel dapat mengganggu konsentrasi?” dan “Apakah ponsel selalu mengganggu konsentrasi?” Keduanya membahas topik yang sama, tetapi mengarahkan orang yang menjawab ke pemikiran yang berbeda. Pertanyaan pertama mendorong pencarian alasan, sedangkan pertanyaan kedua membuka ruang untuk mempertimbangkan kondisi dan pengecualian.
Kemampuan menyusun pertanyaan menjadi semakin penting ketika siswa berhadapan dengan banyak informasi dari buku, internet, media sosial, maupun teknologi kecerdasan buatan. Sebelum mencari jawaban, siswa perlu memahami sebenarnya apa yang ingin diketahui.
Ketika seseorang mencari informasi di internet, kata-kata yang digunakan akan menentukan hasil yang muncul. Pertanyaan yang terlalu umum dapat menghasilkan informasi yang sangat luas sehingga sulit menentukan mana yang relevan.
Misalnya, siswa ingin mengetahui penyebab banjir. Pencarian “banjir” tentu menghasilkan informasi yang sangat banyak. Jika pertanyaannya diubah menjadi “Apa faktor yang menyebabkan banjir di wilayah perkotaan?”, pencarian menjadi lebih terarah.
Pertanyaan yang lebih spesifik membantu siswa menentukan informasi apa yang dibutuhkan. Mereka juga dapat membedakan informasi yang menjawab pertanyaan dengan informasi yang hanya berkaitan secara umum.
Keterampilan seperti ini berguna bukan hanya ketika mengerjakan tugas sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan merumuskan pertanyaan membantu seseorang mencari informasi dengan lebih efisien.
Jenis pertanyaan dapat menentukan kedalaman informasi yang dibutuhkan. Pertanyaan “Apa itu fotosintesis?” misalnya, dapat dijawab dengan definisi. Sementara itu, “Mengapa fotosintesis penting bagi kehidupan?” membutuhkan penjelasan mengenai fungsi dan hubungan antarproses.
Pertanyaan “bagaimana” juga memiliki karakter berbeda. “Apa itu daur air?” meminta penjelasan mengenai konsep, sedangkan “Bagaimana air dapat kembali ke atmosfer?” meminta penjelasan mengenai proses.
Siswa dapat memanfaatkan perbedaan ini ketika belajar. Jika hanya bertanya “apa”, pembelajaran mungkin berhenti pada pengenalan informasi. Dengan menambahkan “mengapa”, “bagaimana”, “apa akibatnya”, atau “apa buktinya”, siswa memiliki kesempatan untuk menggali materi lebih dalam.
Tidak semua pertanyaan bersifat netral. Ada pertanyaan yang sudah mengandung asumsi tertentu.
Contohnya, pertanyaan “Mengapa siswa sekarang malas membaca?” mengandung anggapan bahwa siswa sekarang memang malas membaca. Sebelum menjawab, kita sebenarnya perlu memeriksa apakah anggapan tersebut benar dan bagaimana “malas membaca” didefinisikan.
Pertanyaan dapat diubah menjadi bentuk yang lebih terbuka, misalnya “Bagaimana kebiasaan membaca siswa berubah dalam beberapa tahun terakhir?” atau “Faktor apa saja yang memengaruhi kebiasaan membaca siswa?”
Perubahan kecil tersebut penting karena pertanyaan yang terlalu cepat menerima sebuah asumsi dapat membuat proses pencarian informasi hanya mencari bukti yang mendukung asumsi awal.
Kemampuan bertanya tidak hanya digunakan untuk mencari informasi baru. Pertanyaan juga dapat digunakan untuk memeriksa keyakinan yang sudah dimiliki.
Ketika siswa merasa yakin terhadap suatu pendapat, mereka dapat bertanya, “Apa bukti yang mendukung pendapat ini?” Kemudian dilanjutkan dengan, “Apakah ada bukti yang menunjukkan hal berbeda?” atau “Apakah ada penjelasan lain?”
Cara berpikir seperti ini membantu siswa tidak terlalu cepat menerima kesimpulan hanya karena sesuai dengan pendapat awal.
Dalam pembelajaran sains, misalnya, sebuah dugaan perlu dibandingkan dengan hasil pengamatan. Dalam diskusi sosial, sebuah pendapat dapat diperiksa berdasarkan data dan sumber yang digunakan.
Pertanyaan yang bagus bukan berarti harus menggunakan kata-kata yang rumit. Justru pertanyaan sederhana dapat menghasilkan pembahasan yang mendalam jika diarahkan pada hal yang tepat.
“Bagaimana kita tahu?” merupakan contoh pertanyaan pendek yang sangat berguna. Pertanyaan tersebut meminta seseorang menunjukkan dasar dari sebuah pernyataan.
Begitu juga dengan “Apa buktinya?”, “Apa penyebabnya?”, “Apa akibatnya?”, “Apakah ada contoh lain?”, dan “Apakah ada kemungkinan berbeda?” Pertanyaan seperti ini dapat digunakan siswa ketika membaca buku, mengikuti diskusi, atau menerima informasi dari internet.
Yang penting bukan seberapa panjang pertanyaannya, tetapi apakah pertanyaan tersebut membantu memperjelas masalah.
Dalam kelas, siswa terkadang sebenarnya memiliki pertanyaan, tetapi bingung bagaimana menyampaikannya. Akhirnya mereka hanya mengatakan, “Saya tidak mengerti.”
Kalimat tersebut tentu tetap valid, tetapi pertanyaan yang lebih spesifik dapat membantu guru mengetahui bagian yang menjadi kesulitan. Misalnya, siswa dapat mengatakan, “Saya memahami langkah pertama, tetapi tidak mengerti mengapa pada langkah kedua rumusnya berubah.”
Pertanyaan seperti ini memberikan informasi yang lebih jelas kepada guru. Guru dapat langsung mengetahui bagian mana yang perlu dijelaskan kembali.
Bagi siswa, kebiasaan tersebut juga melatih kemampuan mengenali letak kesulitan dalam proses belajar. Mereka tidak hanya menyadari bahwa “materinya susah”, tetapi mulai mengetahui bagian mana yang belum dipahami.
Dalam diskusi kelompok, kualitas percakapan sering dipengaruhi oleh pertanyaan yang digunakan. Pertanyaan tertutup seperti “Setuju atau tidak?” dapat membuat pembicaraan berhenti pada dua pilihan.
Sebaliknya, pertanyaan seperti “Apa alasanmu?”, “Data apa yang mendukung pendapat tersebut?”, atau “Apakah ada sudut pandang lain?” dapat membuka ruang bagi anggota kelompok untuk memberikan penjelasan.
Bukan berarti pertanyaan tertutup selalu buruk. Pertanyaan tersebut tetap berguna untuk memperoleh informasi tertentu dengan cepat. Namun dalam diskusi yang membutuhkan pemikiran, pertanyaan terbuka sering memberikan ruang yang lebih luas untuk menjelaskan alasan dan mempertimbangkan alternatif.
Saat menggunakan kecerdasan buatan untuk belajar, kemampuan bertanya menjadi semakin relevan. Siswa yang memberikan pertanyaan sangat umum mungkin mendapatkan jawaban yang juga umum.
Sebaliknya, pertanyaan yang menjelaskan konteks, tujuan, tingkat pemahaman, dan bentuk jawaban yang dibutuhkan dapat menghasilkan respons yang lebih sesuai.
Namun, pertanyaan yang baik tetap tidak menjamin jawaban yang diberikan selalu benar. Informasi dari AI tetap perlu diperiksa, terutama ketika berkaitan dengan fakta, angka, sumber penelitian, atau informasi yang dapat berubah.
Karena itu, keterampilan bertanya perlu berjalan bersama keterampilan memeriksa jawaban. Siswa tidak hanya perlu tahu bagaimana mendapatkan informasi, tetapi juga bagaimana menilai informasi yang diperoleh.
Kemampuan bertanya dapat dilatih sejak usia sekolah dasar melalui kegiatan sederhana. Guru dapat meminta siswa membuat pertanyaan setelah membaca cerita, mengamati percobaan, atau melihat suatu gambar.
Siswa kemudian dapat belajar membedakan pertanyaan yang meminta fakta dengan pertanyaan yang membutuhkan alasan atau penjelasan. Pada jenjang SMP, pertanyaan dapat diarahkan pada hubungan sebab-akibat dan perbandingan. Sementara itu, siswa SMA dapat mulai berlatih menyusun pertanyaan penelitian, mengevaluasi asumsi, dan mempertanyakan kualitas bukti.
Latihan tersebut tidak harus selalu menjadi tugas tertulis. Diskusi singkat, pengamatan, permainan, proyek, dan percakapan di kelas juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan bertanya.
Di tengah banyaknya informasi yang tersedia, siswa tidak selalu menghadapi masalah karena kekurangan jawaban. Justru mereka dapat menghadapi terlalu banyak jawaban.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan menentukan pertanyaan yang tepat menjadi semakin penting. Pertanyaan membantu seseorang menentukan arah pencarian, mengenali informasi yang relevan, memeriksa asumsi, dan memahami alasan di balik sebuah kesimpulan.
Karena itu, belajar bertanya sebenarnya merupakan bagian dari belajar berpikir. Siswa tidak hanya dilatih untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga untuk menentukan apa yang perlu diketahui, mengapa informasi tersebut penting, dan bagaimana memastikan jawaban yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.