Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَعَمْرُكَ اِنَّهُمْ لَفِيْ سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
“(Allah berfirman), Demi umurmu (Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 72)
Terombang-Ambing dalam Kesesatan: Bahaya Dosa yang Terus Diulang
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan penegasan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw bahwa perbuatan homoseksual dan lesbian yang dilakukan kaum Lut benar-benar perbuatan keji dan sesat, karena itu wajib dijauhi dan ditinggalkan.
Orang Arab biasa bersumpah dengan menyebut umur seseorang. Dalam ayat ini Allah swt bersumpah dengan umur dan kehidupan Nabi Muhammad saw yang tujuannya ialah untuk menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW.
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang bersumpah dalam ayat ini ialah para malaikat. Mereka menyatakan perbuatan kaum Lut yang demikian itu keterlaluan. Akan tetapi, pendapat ini dibantah oleh riwayat yang mengatakan bahwa Allah swt tidak pernah bersumpah dengan menyebut umur nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain, kecuali menyebut umur Nabi Muhammad saw. Hal ini semata-mata untuk menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad.
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam, bukan hanya tentang kaum Nabi Luth, tetapi juga tentang sifat manusia ketika hawa nafsu telah menguasai hati. Beberapa tadabbur yang dapat diambil adalah:
1. Kesesatan dapat membuat seseorang kehilangan kejernihan berpikir
Allah menggambarkan kaum Nabi Luth sebagai orang-orang yang “ya’mahûn”, yaitu bingung, buta hati, dan terombang-ambing dalam kesesatan. Mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ini menunjukkan bahwa dosa yang terus dipelihara dapat mengaburkan hati dan akal.
2. Hawa nafsu yang dibiarkan dapat menjadi “kemabukan”
Ayat ini tidak berbicara tentang mabuk karena minuman, tetapi tentang kemabukan syahwat dan kesesatan. Ketika hawa nafsu menjadi penguasa hidup, seseorang bisa menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan membela dan mempromosikannya.
3. Kemaksiatan yang terus-menerus dapat menghilangkan kemampuan menerima nasihat
Kaum Nabi Luth telah dinasihati berkali-kali, tetapi mereka tetap menolak. Ini menjadi peringatan bahwa hati yang terus-menerus bergelimang dosa dapat semakin sulit menerima kebenaran.
4. Kemuliaan Nabi Muhammad SAW ditunjukkan melalui sumpah Allah
Allah berfirman, “Demi umurmu…”. Banyak ulama menjelaskan bahwa ini merupakan bentuk pemuliaan kepada Rasulullah SAW. Hal ini mengajarkan bahwa mengikuti sunnah beliau adalah jalan untuk keluar dari kesesatan dan memperoleh petunjuk.
5. Jangan menormalisasi penyimpangan
Dalam konteks kisah kaum Nabi Luth, ayat ini mengingatkan bahwa ketika suatu penyimpangan moral dinormalisasi, masyarakat dapat kehilangan kemampuan melihatnya sebagai penyimpangan. Seorang mukmin hendaknya menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai ukuran benar dan salah, bukan sekadar mengikuti arus masyarakat.
6. Berdoalah agar hati tetap teguh
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada yang kebal dari godaan hawa nafsu. Karena itu, seorang mukmin perlu terus memohon kepada Allah agar diberi hati yang istiqamah dan tidak dibiarkan tersesat oleh keinginan diri sendiri.
Inti tadabbur QS. Al-Hijr: 72
Manusia yang membiarkan hawa nafsu menguasai hati akan kehilangan kejernihan akal, sehingga terombang-ambing dalam kesesatan dan sulit lagi mengenali kebenaran. Sebaliknya, petunjuk Allah dan keteladanan Rasulullah SAW adalah cahaya yang menjaga hati tetap lurus.
Ayat ini juga mengajak kita untuk melakukan muhasabah: apakah kita masih menerima nasihat dan bersedia mengoreksi diri ketika keliru, atau justru mulai membenarkan kesalahan karena sudah terbiasa dengannya. Hati yang tetap peka terhadap kebenaran merupakan nikmat yang patut disyukuri dan terus dijaga.
Dia pentingnya hati yang tetap peka terhadap kebenaran, mau menerima nasihat, dan tidak membenarkan kesalahan;
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى الْحَقِّ، وَافْتَحْ لِي بَابَ التَّوْبَةِ، وَارْزُقْنِي قَلْبًا يُحِبُّ النَّصِيحَةَ، وَيُسَارِعُ إِلَى تَصْحِيحِ خَطَئِهِ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِمَّنْ أَعْمَاهُمُ الْهَوَى عَنِ الْحَقِّ.
Allāhumma yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alal-ḥaqq, waftaḥ lī bābat-taubah, warzuqnī qalban yuḥibbun-naṣīḥah, wa yusāri’u ilā taṣḥīḥi khaṭa’ih, wa lā taj’alnī mimman a’māhumul-hawā ’anil-ḥaqq.
“Ya Allah, Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas kebenaran. Bukakanlah pintu tobat bagiku. Anugerahkanlah kepadaku hati yang mencintai nasihat, yang segera memperbaiki kesalahan ketika keliru. Janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang yang dibutakan oleh hawa nafsunya sehingga tidak lagi mampu melihat kebenaran.