Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَضَيْنَاۤ اِلَيْهِ ذٰلِكَ الْاَ مْرَ اَنَّ دَا بِرَ هٰۤؤُلَآ ءِ مَقْطُوْعٌ مُّصْبِحِيْنَ
“Dan telah Kami tetapkan kepadanya (Luth) keputusan itu, bahwa akhirnya mereka akan ditumpas habis pada waktu subuh.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 66)
Azab Allah Datang pada Waktu yang Telah Ditetapkan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa dalam ayat ini diterangkan bahwa sebelum kedatangan para malaikat, Allah telah mewahyukan kepada Luth a.s. tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sebelum dan sesudah azab yang ditimpakan kepada kaumnya.
Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa setelah para malaikat memberi penjelasan kepada Luth a.s. tentang beban yang ditugaskan Allah kepada mereka, dan mendengar perintah-perintah malaikat yang diberikan kepada beliau, dan sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan Allah, beliau percaya bahwa azab yang akan ditimpakan pada kaumnya oleh para malaikat benar-benar akan terjadi. Sebab itu juga, beliau mengikuti dengan khidmat perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang diberikan para malaikat itu dalam usaha menghindarkan orang-orang yang beriman dari malapetaka yang mengerikan itu
Dalam QS. Al-Hijr: 66, Allah telah menetapkan secara khusus bahwa kaum Nabi Luth akan dibinasakan pada waktu subuh. Ini adalah keputusan Allah yang ditujukan kepada suatu kaum tertentu setelah mereka terus-menerus mendustakan rasul dan melakukan kemaksiatan tanpa mau bertobat. Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah menentukan kapan dan bagaimana keputusan-Nya terjadi, bukan bahwa setiap bencana pada waktu malam atau subuh adalah azab bagi suatu kaum.
Fenomena gempa, tsunami, banjir, atau letusan gunung yang terjadi ketika banyak orang sedang tidur dapat dipahami sebagai bagian dari sunatullah (ketetapan Allah dalam mengatur alam). Waktu kejadiannya berada dalam ilmu dan kehendak Allah. Bagi orang beriman, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa kehidupan sangat rapuh dan kematian bisa datang kapan saja.
Pelajaran yang dapat ditarik dari QS. Al-Hijr: 66 adalah:
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar ketika melihat musibah menimpa orang lain, seorang mukmin memperbanyak istighfar, berdoa, dan mengambil pelajaran, bukan tergesa-gesa menetapkan bahwa musibah itu adalah hukuman Allah bagi para korban.
Jadi, mengaitkan QS. Al-Hijr: 66 dengan kepastian ketetapan Allah dan pentingnya selalu siap menghadapi kematian adalah tadabbur yang tepat. Namun, menganggap setiap bencana yang terjadi saat orang tertidur sebagai pengulangan azab kaum Nabi Luth tidak memiliki dasar yang dapat dipastikan dari Al-Qur’an maupun hadis.
Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa musibah dapat memiliki hikmah dan tujuan yang berbeda-beda.
Secara ringkas, bencana dapat dipahami dalam tiga kemungkinan:
1. Teguran (peringatan) dari Allah
Bencana bisa menjadi peringatan agar manusia kembali kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, dan memperbaiki diri.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
2. Ujian bagi orang beriman
Musibah juga merupakan ujian untuk menguatkan iman, menghapus dosa, dan meninggikan derajat orang yang bersabar.
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu…” (QS. Al-Baqarah: 155)
3. Azab bagi kaum yang membangkang
Dalam sejarah para nabi, ada kaum yang ditimpa azab setelah menolak kebenaran secara terang-terangan, seperti kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, dan Fir’aun. Azab turun setelah hujah Allah ditegakkan melalui para rasul.
Sikap yang paling tepat
Ketika terjadi bencana, kita tidak boleh terburu-buru memvonis bahwa itu adalah azab bagi korban tertentu. Hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Yang dianjurkan adalah:
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa musibah yang menimpa seorang mukmin dapat menjadi penghapus dosa apabila dihadapi dengan sabar.
Doa agar kita terhindar dari azab, membimbing kita mengikuti petunjuk-Nya, dan meneguhkan hati dalam ketaatan.
اللَّهُمَّ اهْدِنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَنَجِّنَا مِنْ عَذَابِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ يَسْتَجِيبُونَ لِأَمْرِكَ.
Allāhumma ihdinā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm, wa najjinā min ‘adhābika, waj’alnā min ’ibādikaṣ-ṣāliḥīna alladzīna yastajībūna li amrik.
“Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan-Mu yang lurus, selamatkanlah kami dari azab-Mu, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh yang senantiasa menaati perintah-Mu.”