Tidak Ada yang Mustahil; Usia 90 Tahun, Siti Sarah Melahirkan Ishaq dan Yaqub

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لَتْ  يٰوَيْلَتٰۤى  ءَاَلِدُ  وَاَ نَاۡ  عَجُوْزٌ  وَّهٰذَا  بَعْلِيْ  شَيْخًا  ۗ اِنَّ  هٰذَا  لَشَيْءٌ  عَجِيْبٌ
“Dia (istrinya) berkata, Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” (QS. Hud 11: Ayat 72).
Istri Nabi Ibrahim terheran-heran mendapat kabar gembira akan melahirkan seorang anak padahal ia sudah tua dan mandul
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Alangkah terkejutnya Sarah ketika mendengar ucapan malaikat itu seakan-akan ia tidak percaya bahwa yang dihadapinya itu ialah malaikat-malaikat yang tidak pernah berbohong dan tidak akan berdusta selama-lamanya. Karena itu dengan spontan ia menjawab, “Sungguh mengherankan! Bagaimana aku akan melahirkan seorang anak, padahal aku ini sudah tua dan suamiku sudah tua renta pula!”
Diriwayatkan bahwa umur Nabi Ibrahim di waktu itu 100 tahun dan istrinya 90 tahun. Menurut kebiasaan seorang perempuan bila telah berumur 50 tahun tidak haid lagi dan karena itu ia tidak ada harapan lagi untuk beranak. Apalagi Sarah adalah seorang perempuan mandul pula seperti tersebut dalam firman Allah: Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.” (az-Zariyat/51: 29)
Nabi Ibrahim a.s. tidak kurang terkejutnya mendengar berita itu seperti tersebut dalam firman Allah: Dia (Ibrahim) berkata, “Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu memberi (kabar gembira) tersebut?” (al-hijr/15: 54)
Keduanya (Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya Sarah) sama-sama ragu akan berita gembira itu, karena biasanya hal itu tidak mungkin terjadi.
Tadabbur dari ayat ini:
  1. Manusia terbatas oleh logika dan pengalaman, tapi Allah tidak
  2. Sarah heran karena menurut akal sehat, orang tua renta dan mandul tidak mungkin punya anak. Tapi inilah pelajaran bahwa kekuasaan Allah melampaui batas nalar manusia.
  3. Reaksi manusiawi tidak mengurangi iman
  4. Keterkejutan Sarah adalah wajar secara manusiawi, bukan berarti ia tidak beriman. Justru ini menunjukkan bahwa para nabi dan keluarganya juga manusia biasa yang merasakan keheranan dan keterbatasan.
  5. Allah sering memberi karunia di luar perkiraan
  6. Banyak nikmat Allah datang ketika manusia sudah tidak berharap lagi. Seperti Sarah yang sudah pasrah tidak punya keturunan, Allah malah memberi kabar gembira.
  7. Ujian kesabaran bisa berlangsung lama
  8. Nabi Ibrahim dan Sarah sudah lama menunggu, tetap sabar, dan ketika waktunya tepat Allah beri anugerah. Ini mengajarkan pentingnya sabar dan yakin kepada janji Allah.
Perbedaan tadabbur antara ayat 71 dan 72:
  • Ayat 71 → fokus pada kabar gembira dari Allah: lahirnya Ishaq dan Ya’qub → menekankan kekuasaan dan kasih sayang Allah.
  • Ayat 72 → fokus pada reaksi manusiawi Sarah: heran dan takjub karena merasa mustahil → menekankan keterbatasan manusia dan perlunya tawakkal.
Ayat 71 memberi harapan bahwa Allah Maha Kuasa memberi rezeki tak terduga, sementara ayat 72 mengingatkan kita bahwa meskipun akal terbatas, iman harus tetap yakin pada kekuasaan Allah.
Doa permohonan keturunan yang shalih.
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Rabbi hab lī min ladunka dhurriyyatan ṭayyibah, innaka samī‘ud-du‘ā’”
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa” (QS. Ali ‘Imran: 38)