Jangan Berdusta Atas Nama Allah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَمْ  يَقُوْلُوْنَ  افْتَـرٰٮهُ  ۗ قُلْ  اِنِ  افْتَرَ يْتُهٗ  فَعَلَيَّ  اِجْرَا مِيْ  وَ  أَنَاۡ  بَرِ يْٓءٌ  مِّمَّا  تُجْرِمُوْنَ

“Bahkan mereka (orang kafir) berkata, Dia cuma mengada-ada saja. Katakanlah (Muhammad), Jika aku mengada-ada, akulah yang akan memikul dosanya, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat.” (QS. Hud 11: Ayat 35)

Jangan berdusta atas nama Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Menurut pendapat Ibnu Katsir, ayat ini merupakan kelanjutan dari kisah kaum Nuh a.s. yang menerangkan bahwa mereka menuduh Nuh a.s. memberikan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan yang tidak benar dan hanya dibuat-buat saja. Maka Allah mengajari Nuh a.s. supaya mengatakan kepada mereka bahwa andaikata ia membuat-buat tentu dia sendirilah yang memikul dosanya, tuduhan itu sama sekali tidak benar.

Menurut pendapat sebagian mufasir lain, ayat ini bukanlah lanjutan dari kisah kaum Nuh a.s., tetapi kalimat sisipan (jumlah mutaridhah). Menurut mereka maksud ayat ini ialah bahwa setelah orang-orang kafir Mekah mendengar kisah kaum Nuh a.s. ini dari Muhammad saw, lalu mereka menuduhnya mengada-adakan kisah itu. Oleh karena itu, Allah mengajari Nabi Muhammad saw. supaya mengatakan kepada mereka bahwa andaikata ia mengada-adakannya, dia sendiri yang akan memikul dosanya. Tetapi yang mereka tuduhkan itu sama sekali tidak benar, dan ia bebas dari perbuatan yang mereka tuduhkan.

Berikut beberapa poin tadabbur dari Surah Hud ayat 35:

  1. Kejujuran dalam Menyampaikan Kebenaran; Nabi Nuh menegaskan bahwa dakwahnya bukan suatu kebohongan. Ini menunjukkan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan risalah atau ilmu. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita diajarkan untuk tidak mengada-adakan sesuatu atas nama agama atau kebenaran.
  2. Tanggung Jawab Pribadi atas Perkataan; “Jika aku berdusta, maka aku sendiri yang akan menanggung dosanya.”
    Ayat ini mengajarkan prinsip tanggung jawab pribadi — bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban, apalagi yang mengatasnamakan Allah.
  3. Keteguhan Hati di Tengah Tuduhan; Nabi Nuh tetap teguh dan tidak goyah meski dituduh sebagai pendusta. Ini pelajaran penting tentang sabar dan istiqamah dalam berdakwah atau menyampaikan kebaikan, bahkan ketika dicemooh.
  4. Klarifikasi yang Santun dan Tegas; Dalam menghadapi tuduhan, Nabi Nuh tidak marah atau membalas dengan cercaan, tapi memberikan klarifikasi dengan tenang dan tegas. Ini menjadi teladan dalam bersikap saat disalahpahami atau difitnah.

Ketika kita menyampaikan kebenaran, pasti ada yang menolak, bahkan menuduh kita macam-macam. Tapi ayat ini mengajarkan: sampaikan dengan jujur, bertanggung jawablah, dan tetaplah tenang dalam kebenaran.

Doa memohon agar senantiasa berkata benar dan jujur;

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الْكَذِبِ عَلَيْكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّادِقِينَ فِي قَوْلِي وَفِعْلِي، وَنَجِّنِي مِنْ فِتْنَةِ الْمُكَذِّبِينَ وَالْمُفْتَرِينَ

Allāhumma ajirnī minal-kadhibi ‘alayka, waj‘alnī minaṣ-ṣādiqīna fī qawlī wa fi‘lī, wa najjini min fitnatil-mukaḏḏibīn wal-muftarīn.

“Ya Allah, lindungilah aku dari berdusta atas nama-Mu. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang jujur dalam ucapan dan perbuatanku, dan selamatkanlah aku dari fitnah orang-orang yang mendustakan dan menuduh tanpa kebenaran.”