Berselisih Karena Kedengkian, Hawa Nafsu dan Kerasnya Hati

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَقَدْ  بَوَّأْنَا  بَنِيْۤ  اِسْرَآءِيْلَ  مُبَوَّاَ  صِدْقٍ  وَّرَزَقْنٰهُمْ  مِّنَ  الطَّيِّبٰتِ  ۚ فَمَا  اخْتَلَفُوْا  حَتّٰى  جَآءَهُمُ  الْعِلْمُ  ۗ اِنَّ  رَبَّكَ  يَقْضِيْ  بَيْنَهُمْ  يَوْمَ  الْقِيٰمَةِ  فِيْمَا  كَا نُوْا  فِيْهِ  يَخْتَلِفُوْنَ
“Dan sungguh, Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezeki yang baik. Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memberi keputusan antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS. Yunus 10: Ayat 93)
Berselisih karena kedengkian, hawa nafsu dan kerasnya hati
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sesudah Allah mengakhiri kisah Firaun, maka pada ayat ini, Allah menyebutkan riwayat Bani Israil, setibanya mereka pada tempat yang dijanjikan Tuhan. Allah telah menempatkan mereka di negeri yang indah yaitu negeri Palestina. Sebagaimana diterangkan pula dalam ayat yang lain firman Allah:
Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. (al-Araf/7: 137)
Allah melimpahkan rezeki yang baik dan bermacam-macam, seperti peternakan, perkebunan, pertanian, dan perikanan di daratan, seperti Laut Mati, dan di lautan kepada Bani Israil. Mereka hidup rukun dan damai penuh bahagia di negeri yang baru itu. Tetapi kemudian timbul perselisihan yang besar di kalangan mereka sesudah mereka mempelajari kitab Taurat dan hukum-hukum-Nya. Sebenarnya tidak wajar mereka itu berselisih paham sebab Allah telah cukup jelas menerangkan kepada mereka syariat-Nya. Jika timbul perselisihan maka hal itu disebabkan faktor pribadi dan kepentingan golongan di antara mereka. Firman Allah:
Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperolah ilmu, karena kedengkian di antara mereka. (ali Imran/3: 19)
Kedengkian dan kebencian terhadap golongan lain, ambisi pribadi, bermegah-megah dan kepentingan golongan serta faktor-faktor subyektif sangat mempengaruhi orang-orang Yahudi dalam mempelajari Kitab Suci. Mereka tidak segan memutarbalikkan pengertian ayat dari arti yang sebenarnya. Firman Allah: (Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. (an-Nisa/4: 46).
Allah menunjukkan bahwa dengan semua anugerah itu, Bani Israil tetap berselisih dan menyimpang, bukan karena kebodohan, tetapi karena kedengkian, hawa nafsu, dan kerasnya hati.
Tadabbur dan Pelajaran dari Yunus: 93
1. Nikmat tidak menjamin ketaatan; Bani Israil telah diberi Kitab (wahyu), hukum (syariat), kenabian, dan rezeki yang baik, bahkan keutamaan dibanding umat lain pada masanya. Tapi nikmat itu tidak otomatis membuat mereka bersyukur dan taat. Pelajaran: Kita tidak boleh tertipu dengan banyaknya ilmu atau nikmat yang kita miliki; ketaatan hati lebih penting daripada sekadar keistimewaan lahiriah.
2. Perselisihan lahir dari hati yang rusak; Perselisihan mereka muncul bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena hasad (dengki) dan cinta dunia. Pelajaran: Ilmu yang tidak diiringi dengan keikhlasan dan akhlak justru bisa menjadi sebab kesombongan dan perpecahan.
3. Tanggung jawab atas nikmat; Semakin besar nikmat dan ilmu yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab di hadapan Allah. Pelajaran: Orang yang diberi petunjuk lalu menyimpang lebih berat hisabnya dibanding orang yang belum tahu.
4. Perpecahan bisa menimpa siapa saja; Meskipun mereka umat pilihan dan penerima wahyu, mereka tetap terpecah karena tidak menjaga hati dan akhlak. Pelajaran: Jangan merasa aman dari penyakit hati. Kita pun bisa terjatuh dalam hal yang sama jika tidak menjaga hati.
5. Hati lebih penting dari akal; Allah mengisyaratkan bahwa akar dari kesesatan adalah penyakit hati, bukan kurangnya logika atau ilmu. Pelajaran: Perbaikan diri dimulai dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), bukan sekadar menambah wawasan.
Yunus 93 mengingatkan kita bahwa ilmu dan nikmat tidak cukup tanpa hati yang bersih. Perselisihan yang destruktif sering kali bukan karena kebenaran, tapi karena nafsu dan dengki. Maka, jagalah hati agar tetap ikhlas dan tunduk pada kebenaran, meski itu datang dari orang yang tidak kita sukai.
Doa Perlindungan dari Penyakit Hati dan Penyimpangan Setelah Diberi Petunjuk;
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْحَسَدِ وَالْغِلِّ وَاجْعَلْنِي مِمَّنِ اهْتَدَى بِنُورِكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قَلْبِي زَيْغًا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنِي، وَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
Allāhumma ṭahhir qalbī minal-ḥasadi wal-ghilli, waj‘alnī mimman ihtadā binūrika, wa lā taj‘al fī qalbī zayghan ba‘da idh hadaytanī, wahab lī min ladunka raḥmah, innaka anta al-Wahhāb.
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari dengki dan kebencian. Jadikan aku termasuk orang yang mendapat petunjuk dengan cahaya-Mu. Janganlah Engkau jadikan hatiku menyimpang setelah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi