أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَا لْيَوْمَ نُـنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗ وَاِ نَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّا سِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ
“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (QS. Yunus 10: Ayat 92).
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Untuk menunjukkan bahwa Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan itu telah benar-benar mati, maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu, yakni Kami wafatkan jiwamu tetapi tubuh kasarmu masih tetap utuh, agar engkau, yakni kisah hidupmu dan azab yang menimpa akibat kezalimanmu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, sesungguhnya kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda kekuasaan Kami.
Jasad yang diyakini sebagai Fir’aun yang tenggelam saat mengejar Nabi Musa masih ada dan disimpan di Museum Mesir di Kairo (Cairo Museum). Mumi tersebut diduga kuat adalah Ramses II atau putranya Merneptah, berdasarkan analisis sejarah, usia, dan kondisi jasad.
Ilmuwan Prancis yang Meneliti Jasad Fir’aun: Nama ilmuwan itu adalah Dr. Maurice Bucaille, seorang dokter bedah dan ilmuwan asal Prancis. Ia menulis buku terkenal berjudul:
“La Bible, le Coran et la Science” (Injil, Al-Qur’an, dan Sains), diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “Al-Qur’an, Injil dan Ilmu Pengetahuan Modern”
Pada tahun 1975-an, pemerintah Mesir mengizinkan jasad Fir’aun dikirim ke Prancis untuk diteliti secara medis karena mengalami kerusakan. Dr. Bucaille memimpin tim autopsi ilmiah atas mumi Fir’aun tersebut.
Hasilnya mengejutkan:
- Ia menemukan bahwa penyebab kematian jasad tersebut kemungkinan besar adalah tenggelam.
- Namun tubuhnya tetap terawetkan dengan sangat baik, menunjukkan ia tidak sempat membusuk seperti umumnya korban tenggelam.
Dr. Maurice Bucaille masuk Islam menurut banyak sumber, Ia terkesan karena temuan ilmiahnya selaras dengan isi Al-Qur’an, terutama ayat berikut: “…Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (wahai Fir’aun), agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahmu…” (QS. Yunus: 92)
Ayat ini menyebut bahwa jasad Fir’aun akan diselamatkan (bukan jiwanya) untuk menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya — dan itu benar-benar terjadi.
Al-Qur’an tidak menyebutkan nama atau tahun hidup Fir’aun, para sejarawan dan ahli tafsir berusaha mencocokkan kisah Nabi Musa dengan catatan sejarah Mesir Kuno.
Berdasarkan penelitian sejarah dan arkeologi, Fir’aun yang hidup sezaman dengan Nabi Musa diperkirakan berasal dari Dinasti ke-18 atau ke-19 Mesir Kuno. Ada dua pendapat utama:
1. Ramses II (memerintah sekitar 1279–1213 SM)
•Inilah pendapat paling populer di kalangan sejarawan Barat.
•Ia dikenal sebagai Firaun yang berkuasa lama, ambisius, dan membangun banyak monumen.
•Putranya, Merneptah (1213–1203 SM), dianggap oleh sebagian sebagai firaun yang tewas di laut saat mengejar Nabi Musa.
2. Akhenaten atau Fir’aun dari Dinasti sebelumnya
•Beberapa ulama atau peneliti Islam berpendapat lain, bahwa Fir’aun Musa adalah yang hidup lebih awal dari Ramses II, seperti Amenhotep II.
Kalau kita ambil Ramses II (1279 SM) sebagai perkiraan tahun hidup Fir’aun, maka: 2025 + 1279 = Sekitar 3.304 tahun yang lalu.
Jadi, kisah Fir’aun terjadi sekitar 3.300 tahun yang lalu dari sekarang. 3300 tahun Firaun ditenggelamkan dan jasadnya masih ada, sesuai dengan Quran Yunus 92, sesuatu hal yang sulit diterima akal, kecuali kekuasaan Allah SWT.
Doa Memohon Pemahaman dan Kepekaan terhadap Tanda Kekuasaan Allah (terinspirasi dari Yunus: 92)
اللَّهُمَّ أَرِنَا آيَاتِكَ فِي الْكَوْنِ، وَفِي أَنْفُسِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّعِظُ وَيَتَفَكَّرُ فِي دَلَائِلِ قُدْرَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، كَمَا جَعَلْتَ جَسَدَ فِرْعَوْنَ عِبْرَةً، فَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُبْصِرَةً وَمُتَّعِظَةً.
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami tanda-tanda kekuasaan-Mu di alam semesta dan dalam diri kami. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan merenungi bukti kebesaran-Mu. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana Engkau jadikan jasad Fir’aun sebagai pelajaran, maka jadikanlah hati kami peka dan mampu mengambil ibrah.”