Kelebihan Nabi Hud Alaihis Salam dan Kekufuran Kaum Ad

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ لٰى  عَا دٍ  اَخَاهُمْ  هُوْدًا  ۗ قَا لَ  يٰقَوْمِ  اعْبُدُوا  اللّٰهَ  مَا  لَـكُمْ  مِّنْ  اِلٰهٍ  غَيْرُهٗ  ۗ اَفَلَا  تَتَّقُوْنَ

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 65)

Nabi Hud rassul yang kedua

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus kepada kaum ‘Ad Nabi Hud dari kalangan mereka sendiri dan memerintahkannya untuk menyeru kaumnya agar menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan segala sesuatu yang dituhankan mereka, karena selain Allah bukanlah Tuhan dan tidak patut disembah, segala ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah. Oleh sebab itu, Nabi Hud menganjurkan kepada mereka agar bertakwa kepada Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang dimurkai-Nya untuk menghindarkan diri dari siksaan-Nya. Pada waktu dan kesempatan yang lain, beliau memerintahkan kepada kaumnya agar mereka menggunakan akal pikirannya.

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. (Selama ini) kamu hanyalah mengada-ada. Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?” (Hud/11: 50-51)

‘Ad adalah anak Iram bin Aus bin Sam bin Nuh. Demikian diterangkan oleh Muhammad bin Ishak. Menurut Ibnu Ishak, bahwa al-Kalby berkata: kaum ‘Ad adalah penyembah berhala sebagaimana halnya kaum Nabi Nuh yang mematungkan orang-orang yang dipandang keramat setelah mati. Kemudian patung-patung itu dianggap sebagai Tuhan. Kaum ‘Ad pun membuat patung-patung, mereka namakan tsamud dan yang lain lagi mereka namakan al-Hatar. Mereka tinggal di Yaman di daerah Ahqaf antara Oman dan Hadramaut. Mereka adalah kaum yang berbuat kerusakan di bumi ini karena mereka bangga dengan kekuatan fisik yang tidak dimiliki oleh kaum yang lain.

Karena mereka memperlakukan penduduk bumi ini sekehendak mereka secara zalim, Allah mengutus Nabi Hud dari kalangan mereka sebab sudah menjadi ketetapan Allah bahwa rasul-rasul yang diutus itu diambil dari kaumnya sendiri yang lebih mengerti tentang kaumnya dan lebih dapat diterima seruannya karena mengetahui kepribadiannya. Akan tetapi ketika Nabi Hud menyampaikan risalahnya yaitu menyeru kaumnya agar menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan perbuatan yang zalim, seruan Nabi Hud tersebut mereka dustakan dan malahan mereka menentangnya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah yaitu:

Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Fushshilat/41: 15)

Sedangkan dalam tafsir Quraish Shihab, Muhammad Quraish Shihab dijelaskan bahwa; Seperti halnya Kami mengutus Nûh kepada kaumnya untuk mengajak kepada keesaan Tuhan, Kami juga mengutus Hûd kepada kaum ‘Ad. (1) Hûd adalah bagian dari mereka. Hubungannya dengan mereka seperti hubungan persaudaraan. Hûd berkata kepada mereka, “Wahai kaumku, sembahlah Allah semata. Tidak ada tuhan yang patut kalian sembah selain Dia. Itulah cara menjaga diri dari kejahatan dan siksaan. Sebuah jalan yang lurus. Mengapa kalian tidak menempuhnya agar terjaga dari kejahatan dan kerusakan?” (1) Di antara bangsa-bangsa Semit yang paling kuat adalah kaum ‘Ad. Mereka merupakan generasi pertama dari bangsa Arab (al Bâ’idah).

Perkampungan mereka berada di lembah Ahqâf yang disebut di dalam al-Qur’ân, surat al-Ahqâf ayat 21. Para pakar Islam sepakat, meskipun sedikit berbeda dalam hal penentuan tempat, bahwa ahqâf berada di negeri Yaman. Menurut Yâqût al-Hamawy, letak lembah tersebut ada di antara Oman dan Mahre. Ibn Ishâq–dengan mengutip pendapat Ibn ‘Abbâs–dan Ibn Khaldûn mengatakan letaknya berada di daerah pasir antara Oman dan Hadramaut. Qatâdah berpendapat, letaknya di daerah pasir pinggir laut yang ditumbuhi tanaman di negeri Yaman. Yang juga perlu diingat, menurut sebagian pakar barat, tempat tinggal ‘Ad berada di dataran tinggi Hijâz, tepatnya di daerah Hasma, dekat dengan tempat tinggal Tsamûd. Menurut pendapat manapun, tidak tertutup kemungkinan bahwa kaum ‘Ad pada suatu masa pernah bepergian dari Ahqâf ke daerah tersebut.

Kaum ‘Ad pada zaman Nabi Hud (عليه السلام) terkenal karena kekufuran, kesombongan, dan perilaku yang melanggar ajaran Allah SWT. Mereka melakukan berbagai kejahatan, termasuk menyembah berhala, menindas orang-orang lemah, dan menolak petunjuk yang dibawa oleh Nabi Hud. Kesombongan mereka terhadap kekuatan dan kemewahan materi juga menjadi salah satu dosa besar mereka. Allah SWT mencatat kejahatan mereka dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Rasul kedua setelah Nabi Nuh adalah Nabi Hud (عليه السلام).

Salah satu kelebihan Nabi Hud (عليه السلام) adalah bahwa Allah SWT telah memilihnya sebagai rasul untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada kaumnya. Dia juga diberi kelebihan berupa kebijaksanaan, keberanian, dan ketabahan dalam menghadapi tantangan dan penolakan dari kaumnya. Selain itu, dia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Allah SWT, serta dedikasi yang tinggi untuk menyebarkan kebenaran kepada umatnya.

Kaum ‘Ad adalah generasi ke empat ( Ad adalah anak Iram bin Aus bin Sam bin Nuh) dari nabi Nuh, sudah melakukan kemungkaran.
Jarak waktu Nabi Nuh as. dan Nabi Ibrahim as. adalah 10 abad. Antara Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as. juga 10 abad. Antara Nabi Musa as. dan Nabi Isa as. adalah 1700 tahun. Dan jarak antara Nabi Isa as. dan Nabi Muhammad saw. adalah 600 tahun. Jarak nabi Muhammad SAW sampai generasi sekarang 1455 tahun. Alhamdulillah masih banyak yang beriman
karena ;
1. Allah SWT

وَا لَّذِيْنَ  كَذَّبُوْا  بِاٰ يٰتِنَا  صُمٌّ  وَّبُكْمٌ  فِى  الظُّلُمٰتِ  ۗ مَنْ  يَّشَاِ  اللّٰهُ  يُضْلِلْهُ  ۗ وَمَنْ  يَّشَأْ  يَجْعَلْهُ  عَلٰى  صِرَا طٍ  مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 39)
2. NABI Muhammmad SAW
3. Al Quran
4. Orang tua
5. Sahabat, Tabiin6. Wali
7. Ulama.

Doa agar anak keturunan yang sholeh yang taat kepada perintah Allah SWT. berikut adalah salah satu doa Nabi Ibrahim yang ada pada surah Ibrahim ayat 40.

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

Rabbij’alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī rabbanā wa taqabbal du’ā`

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
682.