Tertipu Bujuk Rayu Setan, Tempatnya di Neraka Jahanam

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اُولٰٓئِكَ  مَأْوٰٮهُمْ  جَهَـنَّمُ   ۖ وَلَا  يَجِدُوْنَ  عَنْهَا  مَحِيْصًا

“Mereka (yang tertipu) itu tempatnya di Neraka Jahanam dan mereka tidak akan mendapat tempat (lain untuk) lari darinya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 121)

Mereka (yang tertipu) itu tempatnya di Neraka Jahanam. Karena orang-orang yang mengikuti dan memenuhi keinginan setan telah sesat, maka buku amalannya telah dipenuhi oleh perbuatan dosa dan maksiat. Oleh karena itu, tempat mereka adalah neraka Jahanam, mereka tidak dapat keluar dari padanya, karena tidak mempunyai suatu kebaikan yang dapat membebaskan dan menyelamatkan mereka dari azab neraka itu.

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS Al Fathir [35]: 6).

Ayat di atas telah menegaskan, setan beserta pengikut-nya adalah musuh bagi manusia. Jika tidak ingin celaka, jangan sekali-kali menganggap dan memperlakukannya sebagai kawan.

Allah SWT berfirman: Inna al-syaythân lakum ‘aduww (sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu). Sebutan setan disematkan kepada golongan jin yang kafir. Iblis yang berasal dari kalangan jin (QS al-Kahfi [18]: 50), dalam beberapa ayat juga disebut setan. Dalam QS al-Baqarah [2]: 36 dan al-A’raf [7]: 20 diberitakan bahwa yang menggelincirkan Adam dan isterinya dari surga adalah setan.

Selain dari golongan jin, setan juga ada yang berasal dari kalangan manusia. Semuanya memiliki karakter yang sama: sesat dan menyesatkan; kafir dan menjerumuskan manusia kepada kekufuran. Allah SWT berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (QS al-An’am [6]: 112). Qatadah, Mujahid, dan al-Hasan, sebagaimana disitir Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa sesungguhnya dari manusia ada setan, sebagaimana juga dari jin ada setan.

Diberitakan ayat ini bahwa setan adalah musuh bagi manusia. Bahkan dalam beberapa ayat lain ditegaskan sebagai aduww[un] mubîn[un] (musuh yang nyata, QS al-Baqarah [2]: 168, al-An’am [6]: 142, Yasin [36]: 60). Permusuhan dan kebencian Iblis memang sudah nyata sejak manusia pertama diciptakan. Ketika diperintahkan Allah SWT untuk bersujud bersama malaikat kepada Adam AS, Iblis membangkang. Permusuhan Iblis bertambah besar setelah dilaknat dan diusir dari surga karena pembangkangannya itu. Iblis berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya. Untuk merealisasikan tujuan jahat itu, dia akan mendatangi manusia dari berbagai arah (lihat QS al-A’raf [7]: 16-17).

Al Quran cukup banyak memberitahukan modus operandi setan. Mereka menyuruh manusia berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah tanpa didasarkan ilmu (lihat QS al-Baqarah [2]: 169). setan juga menghiasi perbuatan buruk dan sesat sehingga seolah-olah terlihat benar dan bagus oleh pelakunya (QS al-An’am [6]: 43), al-Hijr [15]: 39), mendorong terjadinya permusuhan di antara manusia (QS al-Isra’ [17]: 53), dan menghembuskan kepada manusia takut menjadi fakir dan berbuat kikir (QS al-Baqarah [2]: 268). Semua itu menunjukkan secara jelas bahwa setan adalah musuh bagi manusia.

Karena setan adalah musuh kalian, maka: fattakhidzûhu ‘aduww[an] (maka anggaplah ia musuh [mu]). Sebagaimana layaknya musuh, maka yang diinginkan setan terhadap manusia adalah kecelakaan dan kerugian. Oleh karena itu, jangan sampai setan dijadikan sebagai kawan, apalagi pemimpin. Allah SWT berfirman: “Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim” (QS al-Kahfi [18]: 50).

Sebagai musuh manusia, langkah-langkah setan tidak boleh diikuti. Sebab, yang diperintahkan setan kepada manusia hanyalah perbuatan keji dan munkar (QS al-Nur [24]: 21); yang pada akhirnya akan mencelakakan pengikutnya. Peristiwa yang dialami Adam AS harus dijadikan sebagai pelajaran penting bagi setiap manusia. Ketika itu Iblis menipu Adam AS bahwa dia adalah sahabat yang memberikan nasihat.

Iblis pun menyebut pohon tersebut dengan sebutan syajarah al-khuldi wa mulklin pohon keabadian dan kerajaan, QS Thaha [20]: 120) dan membujuk Adam AS bahwa larangan mendekati pohon itu agar dia dan isterinya tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal dalam surga. Untuk meyakinkan, Iblis bersumpah seraya berkata: “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua” (QS al-A’raf [7]: 20). Tentu saja semua ‘nasihat’ itu adalah dusta dan tipudaya. Buktinya, ketika ‘nasihat’ itu diterima, berujung pada penyesalan.

اِنَّ  الشَّيْطٰنَ  لَـكُمْ  عَدُوٌّ  فَا تَّخِذُوْهُ  عَدُوًّا   ۗ اِنَّمَا  يَدْعُوْا  حِزْبَهٗ  لِيَكُوْنُوْا  مِنْ  اَصْحٰبِ  السَّعِيْرِ
“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir 35: Ayat 6)

Semoga kita tidak tertipu dan mengikuti golongan setan yang sesungguhnya.