Rasa betah dan nyaman belajar di pesantren adalah hal utama yang harus dimiliki santri untuk mampu mengemban ilmu dan menyelesaikan pendidikan di sekolah berpesantren. Karena jika rasa betah dan rasa nyaman tidak didapatkan santri, jangankan untuk berprestasi, untuk menjalani keseharian santri di pesantren juga pasti akan kacau. Santri akan sering bolos, sering tidak akan masuk sekolah, akan selalu izin pulang dan yang paling parah adalah santri akan melakukan tindakan yang memaksa mereka untuk dikeluarkan di pesantren apalagi jika kemauan santri itu tidak disetujui oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu, rasa nyaman dan betah di pesantren adalah gerbang utama santri bisa menyelesaikan studinya di Pondok pesantren.
Rasa nyaman dan betah bisa terlihat dari berbagai ciri, seperti santri yang memang selalu ceria di pondok, mau mengikuti sistem yang berlaku di pesantren, tidak pernah bolos, memiliki banyak teman dan yang paling penting adalah dia tidak pernah mengadu kepada orang tuanya bahwa mereka sedang “bermasalah” di pondok pesantren. Karena memang santri usia 13-18 tahun masih sering curhat kepada orang tua tentang apa yang mereka alami selama di pesantren. Terutama untuk santri perempuan, mungkin untuk santri laki laki beberapa hanya memendam sendiri apa yang mereka alami, meskipun itu merupakan hal yang tidak baik karena kadang seseorang itu membutuhkan orang lain untuk berbagi berbagai macam pengalaman yang mereka alami, dan kami juga yakin setiap sekolah ataupun pesantren pasti memiliki konseling yang siap membantu mengatasi semua masalah yang ada di pesantren dan disekolah.
Ada beberapa faktor yang berhasil kami kutip dari berbagai sumber tentang penyebab santri tidak betah di pesantren, diantaranya ada 2 faktor yang menjadi pembagi faktor faktor tersebut diantaranya adalah faktor internal dan eksternal.
5 Faktor internal penyebab santri tidak betah di pesantren
Faktor pertama adalah faktor internal atau faktor dari pesantren itu sendiri, diantaranya adalah :
- Minimnya pengawasan dari guru, ustadz atau wali santri pesantren
- Adanya ketidakadilan dari pengasuh kepada santri
- Kurang profesionalnya lembaga dalam membangun kurikulum pesantren
- Program yang monoton
- Peraturan yang ketat tidak disertai dengan apresiasi yang layak
Minimnya pengawasan dari guru, ustadz atau wali santri pesantren
Setiap pesantren memiliki konsep yang berbeda beda, ada yang menjadikan senior atau mereka yang sudah lulus dari pesantren tersebut untuk mengajar, ada juga pesantren modern yang menjadikan guru atau ustadz sebagai tenaga didik yang merangkap sebagai wali santri di pesantren. Wali santri merupakan mereka yang dipercaya oleh pesantren untuk mampu mengatur, menjalankan dan memberikan pembelajaran kepada santri dan menjadi penanggung jawab santri selama di pesantren. Peran wali santri ini sangat penting, karena sebagai orang tua pengganti selama anak di pesantren. Kadang beberapa santri tidak mendapatkan pengawasan yang baik dari wali santri atau dari ustadz, ini yang menjadi penyebab kenapa santri jadi tidak betah di pesantren, bisa jadi karena wali santri yang tidak amanah, wali santri yang bekerja hanya untuk bekerja saja tapi ketika dibutuhkan dia sulit ditemui. Jika memang ada yang seperti ini, sebaiknya dilaporkan saja kepada ketua Yayasan atau pimpinan pesantren untuk diberikan tindakan lebih lanjut, karena pada dasarnya setiap wali santri sudah dibayar dengan gaji dan insentif sesuai dengan surat ketentuan yang berlaku di lembaga pesantren tersebut.
Adanya ketidakadilan dari pengasuh kepada santri
Faktor selanjutnya adalah adanya ketidakadilan dari wali santri atau pengasuh santri selama di pesantren kepada santri. Seperti santri kesayangan atau santri yang masuk ke pesantren melalui jalur tahfidz lebih diperhatikan daripada santri yang kurang yang memang sangat membutuhkan perhatian lebih dari ustadznya. Ini jelas sangat salah, karena pada dasarnya baik santri unggulan baik santri biasa mereka memiliki hak yang sama yaitu mendapatkan keadilan yang sama dari pengasuhnya atau wali santri.
Faktor ini juga biasanya yang menjadi penyebab kenapa banyak santri yang malah nekat melarikan diri dari pesantren, yaitu untuk mendapatkan keadilan dari orang lain. Jika memang faktor internal ini menjadi penyebab utama santri tidak betah, lebih baik laporkan kepada kepala pesantren agar lebih ditindaklanjuti. Atau jika memang demikian, santri bisa mengajukan untuk pindah kamar atau pindah pengasuh yang lebih bisa memberikan keadilan kepada setiap santri yang mereka tanggung.
Kurang profesionalnya lembaga dalam membangun kurikulum pesantren
Banyak pesantren yang menjual berbagai macam kurikulum, program sekolah, dan berbagai macam kegiatan yang sangat padat hingga akhirnya santri tidak memiliki waktu yang luang setidaknya untuk beristirahat sejenak. Bahkan pada waktu santri istirahat diisi dengan program lain seperti hafalan Quran, kitab kuning atau karena target pesantren adalah hafidz quran 30 juz jadi tidak ada waktu untuk berdiam dan bermain dengan temannya, jika adapun hanya beberapa menit dan itu kembali dilanjutkan dengan program lainnya. Oke, setiap pesantren memiliki cara tersebdiri dalam mebangun kurikulum tapi dengan memadatkan kurikulum dan tidak memberi waktu kepada santri untuk bernafas jelas itu merupakan hal yang salah bahkan sangat salah. Di Al Masoem kami memiliki konsep dimana waktu belajar adalah belajar dan istirahat adalah istirahat. Jadi tidak ada kata santri harus mengerjakan hal hal yang berhubungan dengan pelajaran di waktu istirahat karena itu akan menyebabkan santri stress dan tidak betah dipesantren.
Yang lebih parah lagi, ada beberapa pesantren yang memiliki program yang unik dan bagus secara teori tapi tidak mampu atau memiliki management yang buruk. Misalkan pesantren yang memiliki program atau menawarkan keahlian komputerisasi bagi santrinya tapi ternyata LAB komputer yang dimiliki adalah LAB komputer apa adanya yang tidak mampu mendukung minat dan bakat santri untuk mengembangkan minat dan bakatnya tersebut. Ini juga menjadi faktor internal yang harus diperbaiki demi menjaga santri agar betah di pesantren.
Program yang monoton
Waktu santri di pesantren itu tidak sebentar, mereka 24 jam selama ada di lingkungan yang sama dan 720 jam selama 1 bulan atau lebih tepatnya rata rata 540 jam mereka melakukan aktivitas di lingkungan pesantren. Bayangkan saja, mereka berada di satu lingkungan yang sama, bertemu dengan orang orang yang sama dan melakukan hal yang sama setiap hari apakah tidak jenuh berada di pesantren? Maka dari itu pesantren harus kreatif dalam membangun program yang dapat membuat santri nyaman berada di pesantren. Semakin kurang kreatifnya pesantren dan semakin tidak adanya program yang dapat membangun maka semakin tinggi juga kejenuhan santri selama di pesantren. Rasa jenuh ini yang dapat membuat santri tidak betah di pesantren yang menyebabkan mereka melakukan tindakan tindakan sebagai bentuk perlawanan kepada pesantren. Efeknya mereka tidak akan betah bahkan beberapa diantaranya akan keluar dari pesantren padahal mereka belum mendapatkan sertifikat lulus di pesantren tersebut.
Peraturan yang ketat tidak disertai dengan apresiasi yang layak
Setiap pesantren memiliki tata tertib tersendiri. Tata tertib pesantren ini diperlihatkan dan ditandatangani kedua orang tua sebagai bentuk bahwa anda sebagai santri siap mengikuti peraturan yang ada. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah tata tertib atau peraturan pesantren ini layak atau tidak? Ada beberapa pesantren yang memberikan peraturan yang ketat, keras bahkan menggunakan hukuman fisik bagi santri yang melanggar apakah itu bagus? Jelas tidak, yang ada santri akan trauma dan tidak betah berada di pesantren. Beberapa pesantren mulai bijaksana yaitu memberikan peraturan yang tidak terlalu ketat dan tidak ada sanksi fisik bagi santri yang melanggar peraturan, efeknya memang pesantren menjadi tidak terlalu ketat namun santri tetap merasa betah berada di pesantren. Namun kadang hal seperti ini membuat beberapa santri tidak jera dengan hukuman yang ada. Namun meski begitu itu jauh lebih baik daripada menghukum secara fisik kepada santri, apalagi santri adalah mereka yang sudah dititipkan oleh orang tua untuk dididik, apakah hukuman fisik sama dengan mendidik? Tidak, ketat dan keras itu berbeda. Kami Al Masoem lembaga yang ketat tapi tidak keras. Kami memberikan punishment kepada santri yang melanggar tapi juga memberikan apresiasi yang layak kepada santri yang berprestasi. Maka tidak aneh jika santri Al Ma’soem merasa betah lama di pondok pesantren.

